Ash-Shajā‘ah – Keberanian karena Allah

by -1470 Views

Setelah seorang mukmin meneguhkan dirinya dengan istiqamah, maka salah satu buah yang akan tumbuh dari pohon keimanannya adalah Ash-Shajā‘ah (keberanian). 

Keberanian bukanlah sifat bawaan yang hanya dimiliki sebagian manusia, melainkan buah dari tauhid yang hidup di dalam hati. Semakin sempurna pemahaman seseorang terhadap kalimat Lā Ilāha Illallāh, semakin berkurang ketergantungannya kepada makhluk, dan semakin kuat keberaniannya dalam menghadapi kehidupan.

Hakikat syahadah adalah membebaskan manusia dari segala bentuk penghambaan selain Allah. Ketika seorang hamba mengucapkan: ﴿ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ ﴾ ia sesungguhnya sedang memutus seluruh rantai ketakutan yang mengikat hatinya kepada dunia. Ia tidak lagi menjadikan jabatan, kekuasaan, harta, atau manusia sebagai pusat rasa takut dan harapnya. Yang tersisa hanyalah rasa takut yang mulia (khasyyah) kepada Allah SWT.

Allah berfirman:

﴿ الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ ﴾

“Orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak takut kepada siapa pun selain Allah.” (QS. Al-Ahzab: 39)

Menurut Imam al-Qurthubi dalam Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, ayat ini menggambarkan karakter para nabi dan pewarisnya, yaitu keberanian yang lahir dari keyakinan bahwa seluruh urusan berada dalam genggaman Allah semata.

Musthafa Masyhur dalam Al-Qiyādah wal Jundiyyah menjelaskan bahwa keberanian adalah keteguhan hati yang dibangun di atas kepercayaan penuh kepada Allah. Karena itu, keberanian seorang mukmin bukanlah keberanian yang lahir dari kekuatan fisik semata, tetapi dari kekuatan keyakinan.

Keberanian Moral: Jihad Terbesar dalam Kehidupan

Keberanian tidak selalu diwujudkan dalam medan peperangan. Justru seringkali keberanian terbesar hadir dalam medan yang tidak terlihat oleh manusia, yaitu peperangan melawan hawa nafsu.

Imam al-Ghazali menjelaskan dalam Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn bahwa sumber banyak kelemahan manusia adalah dominasi syahwat dan kecintaan berlebihan kepada dunia. Ketika hati terlalu bergantung kepada dunia, maka keberanian akan melemah. Sebaliknya, ketika hati dipenuhi keyakinan kepada Allah, manusia akan memiliki kebebasan batin yang luar biasa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

« لَا يَمْنَعَنَّ أَحَدَكُمْ مَخَافَةُ النَّاسِ أَنْ يَقُولَ بِحَقٍّ إِذَا عَلِمَهُ »

“Janganlah rasa takut kepada manusia menghalangi seseorang untuk menyampaikan kebenaran ketika ia mengetahuinya.” (HR. Ahmad. Dinilai hasan oleh sebagian ulama hadits, di antaranya al-Mundziri dalam At-Targhīb wat Tarhīb).

Musthafa Masyhur menegaskan bahwa keberanian yang paling utama adalah keberanian mengatakan kebenaran, mengakui kesalahan, menjaga amanah, dan mengendalikan diri ketika marah. Inilah keberanian moral yang menjadi inti pembentukan karakter seorang mukmin.

Said Hawwa dalam Jundullah Tsaqāfatan wa Akhlāqan menjelaskan bahwa orang yang benar-benar beriman tidak akan diperbudak oleh rasa takut terhadap makhluk. Ia mungkin berhitung secara matang, bersikap bijaksana, dan memilih waktu yang tepat, tetapi ia tidak akan mengorbankan prinsip-prinsip kebenaran demi kenyamanan pribadi.

Keberanian yang Lahir dari Ketenangan Hati

Namun Islam juga mengajarkan bahwa keberanian harus berjalan berdampingan dengan ketenangan. Keberanian yang lahir dari kemarahan sering berubah menjadi kenekatan, sedangkan keberanian yang lahir dari tauhid akan melahirkan kebijaksanaan.

Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Sālikīn menjelaskan bahwa hati yang dipenuhi ma‘rifat kepada Allah akan memperoleh kekuatan sekaligus ketenangan. Ia berani menghadapi kesulitan karena yakin kepada pertolongan Allah, namun tetap rendah hati karena menyadari kelemahan dirinya sebagai hamba.

Inilah keberanian yang lahir dari Madlūl asy-Syahādah. Seorang mukmin tidak mencari konflik, tidak mencintai permusuhan, dan tidak terpikat oleh sikap heroik yang berlebihan. Ia berani karena Allah, berbicara karena Allah, diam karena Allah, dan bertindak karena Allah.

Ketika keberanian seperti ini telah tumbuh dalam hati, maka ia akan melahirkan buah berikutnya yang lebih dalam, yaitu Al-Ithmi’nān—ketenangan hati yang bersumber dari zikir, tawakal, dan kedekatan kepada Allah SWT. Sebab hakikat keberanian seorang mukmin bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan kemampuan menenangkan hati karena yakin bahwa Allah selalu bersamanya. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.