Pada bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa syahadah harus diucapkan dengan kejujuran yang sempurna (ash-shidq), sehingga tidak ada jarak antara apa yang diyakini hati dan apa yang diikrarkan oleh lisan. Namun kejujuran saja belum cukup untuk menyempurnakan perjalanan seorang mukmin.
Hati manusia tidak hanya membutuhkan keyakinan dan kejujuran, tetapi juga membutuhkan cinta. Karena itulah para ulama memasukkan al-mahabbah al-munāfiyah lil-bughdh (cinta yang meniadakan kebencian) sebagai salah satu syarat diterimanya syahadah.
Hakikat cinta dalam syahadah adalah kecenderungan hati yang tulus kepada Allah, Rasul-Nya, agama-Nya, dan seluruh nilai yang terkandung dalam kalimat Lā ilāha illallāh. Syahadah bukan sekadar pernyataan intelektual, melainkan ikatan cinta antara seorang hamba dengan Rabb-nya.
Oleh sebab itu, seorang mukmin tidak hanya membenarkan tauhid, tetapi juga mencintainya.
Dalam perspektif para ulama tazkiyah, cinta merupakan buah dari ma’rifatullah. Semakin dalam seseorang mengenal Allah, semakin besar pula kecintaannya kepada-Nya. Imam Al-Ghazali dalam Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn menjelaskan bahwa cinta kepada Allah merupakan puncak dari seluruh maqām ruhani, karena hati secara fitrah akan mencintai Dzat yang paling sempurna, paling memberi nikmat, dan paling layak diagungkan.
Mahabbah dalam Al-Qur’an dan Sunnah
Allah SWT menggambarkan kedudukan cinta dalam iman melalui firman-Nya:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan perbedaan mendasar antara orang beriman dan orang musyrik. Kaum musyrikin membagi cintanya kepada berbagai sesembahan, sedangkan orang-orang beriman memusatkan cinta tertinggi mereka hanya kepada Allah SWT.
Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami memasukkan mahabbah ke dalam syarat-syarat syahadah. Dalam nazam Sullam al-Wushūl beliau berkata:
وَالصِّدْقُ وَالْإِخْلَاصُ وَالْمَحَبَّةُ
وَفَّقَكَ اللَّهُ لِمَا أَحَبَّهُ
“Dan kejujuran, keikhlasan, serta kecintaan; semoga Allah memberikan taufik kepadamu kepada apa yang Dia cintai.”
Dalam Ma’ārij al-Qabūl, beliau menjelaskan bahwa cinta yang benar menuntut seseorang mencintai kalimat tauhid, mencintai orang-orang yang mengamalkannya, dan membenci segala bentuk kesyirikan yang merusak kemurnian tauhid.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا…
“Ada tiga perkara yang apabila terdapat pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya…” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa “manisnya iman” adalah kenikmatan ruhani yang dirasakan ketika hati lebih mengutamakan ridha Allah daripada seluruh kepentingan duniawi.
Cinta yang Melahirkan Ukhuwah dan Ketundukan
Mahabbah yang lahir dari syahadah tidak berhenti pada hubungan vertikal dengan Allah. Ia juga melahirkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, kepada kaum mukminin, serta kepada perjuangan menegakkan kebaikan di tengah umat.
Syaikh Yusuf al-Qaradhawi dalam Al-Īmān wal-Hayāh menjelaskan bahwa cinta kepada Allah akan melahirkan cinta kepada hamba-hamba-Nya yang saleh. Karena itu, ukhuwah Islamiyah pada hakikatnya bukan dibangun oleh kesamaan suku, bangsa, atau kepentingan, melainkan oleh kesamaan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
Syaikh Sa’id Hawwa dalam Tarbiyatunā ar-Rūhiyyah juga menegaskan bahwa mahabbah merupakan energi utama dalam perjalanan dakwah. Dakwah yang hanya dibangun oleh kewajiban akan mudah melelahkan, tetapi dakwah yang dibangun oleh cinta akan melahirkan kesabaran, pengorbanan, dan keteguhan.
Lebih jauh lagi, cinta yang benar akan melahirkan ketaatan. Orang yang mencintai Allah tidak akan memandang syariat sebagai beban, melainkan sebagai jalan menuju kedekatan dengan-Nya. Ia tunduk bukan karena terpaksa, tetapi karena mencintai Dzat yang memerintahkannya.
Jika ilmu menerangi akal, yaqīn meneguhkan hati, ikhlas memurnikan niat, dan shidq menyelaraskan hati dengan lisan, maka mahabbah menghidupkan seluruhnya dengan ruh cinta. Namun cinta yang sejati tidak berhenti pada perasaan. Cinta yang benar harus melahirkan kepatuhan nyata kepada Allah SWT. Karena itulah gerigi terakhir dari kunci surga adalah al-inqiyād—ketundukan dan kepatuhan total kepada seluruh konsekuensi syahadah, yang akan menjadi pembahasan pada bab berikutnya.(im)





