Belajar Tanpa Roadmap, Algoritma Menjadi Kurikulum

by -1413 Views

Ada satu perubahan yang mungkin tidak kita sadari dalam cara kita belajar di era digital. Dahulu, seseorang belajar karena ia memiliki tujuan, kemudian ia mencari guru, memilih kitab, menyusun tahapan, dan menempuhnya dengan sabar. 

Sekarang, sering kali prosesnya berbalik: kita membuka gawai, melihat apa yang muncul di timeline, lalu mempelajarinya. Besok algoritma menyodorkan tema lain, kita berpindah lagi. Lusa muncul perdebatan baru, kita ikut masuk ke dalamnya.

Hari ini akidah. Besok politik. Lusa ekonomi. Setelah itu sejarah. Kemudian fikih. Sesudahnya kesehatan, teknologi, psikologi, dan entah apalagi.

Kita merasa sedang belajar karena setiap hari menemukan sesuatu yang baru. Tetapi ada pertanyaan yang lebih penting: Kemana semua pembelajaran itu membawa kita?

Apakah semua informasi yang masuk telah membentuk struktur ilmu? Apakah ia memperkuat kompetensi yang memang kita butuhkan? Apakah ia semakin mendekatkan kita kepada tujuan dakwah? Ataukah kita hanya sedang berpindah dari satu topik ke topik lain mengikuti arah angin algoritma?

Inilah persoalan yang hendak kita bahas dalam bab ini.

Masalahnya bukan bahwa kader membaca banyak hal. Banyak membaca adalah kebaikan. Masalahnya adalah ketika aktivitas membaca tidak lagi memiliki arah. Ketika timeline menjadi penentu apa yang harus kita pelajari. Ketika algoritma secara perlahan mengambil alih fungsi yang dahulu dijalankan oleh guru, kurikulum, dan tujuan belajar.

Pada titik itulah algoritma bukan lagi sekadar alat distribusi informasi. Ia mulai berubah menjadi kurikulum.

Dan ini adalah persoalan yang serius.

Pengetahuan yang Fragmentaris dan Budaya Random Learning

Kita hidup dalam zaman yang memungkinkan seseorang berpindah topik hanya dengan menggeser jari. 

Satu video membahas akidah. Swipe. Video berikutnya membahas politik. Swipe. Kemudian muncul potongan ceramah tentang fikih. Swipe. Disusul analisis ekonomi. Swipe. Kemudian sebuah video sejarah Islam. Swipe. Dalam beberapa menit, seseorang telah “mempelajari” enam atau tujuh bidang yang berbeda.

Tetapi apakah ia benar-benar belajar?

Di sinilah kita perlu membedakan antara banyaknya informasi yang dikonsumsi dan struktur pengetahuan yang terbentuk. Informasi yang masuk secara acak tidak otomatis menjadi bangunan ilmu. Ia bisa saja hanya menjadi tumpukan kepingan yang tidak terhubung.

Bayangkan seseorang mengumpulkan ribuan batu bata. Ia mungkin memiliki material yang sangat banyak. Tetapi tanpa rancangan, fondasi, struktur, dan tahapan pembangunan, batu bata tersebut tidak otomatis menjadi sebuah rumah.

Demikian pula dengan ilmu.

Seorang kader dapat memiliki ribuan bookmark, ratusan video yang disimpan, puluhan kanal yang diikuti, dan berbagai catatan digital. Namun, jika semua itu tidak ditempatkan dalam struktur pembelajaran yang jelas, ia mungkin hanya memiliki gudang informasi, bukan bangunan ilmu.

Daniel J. Levitin dalam The Organized Mind menjelaskan beban yang muncul ketika manusia harus terus menentukan apa yang penting dan apa yang harus diabaikan: “Mencoba mencari tahu apa yang perlu Anda ketahui dan apa yang dapat Anda abaikan sangatlah melelahkan… Jaringan pembuat keputusan di otak kita tidak melakukan prioritas”.

Di sinilah pentingnya sebuah roadmap.

Tanpa peta jalan, setiap informasi terlihat penting. Setiap isu terasa harus dipelajari. Setiap perdebatan terasa harus diikuti. Setiap video terasa sayang untuk dilewatkan.

Akhirnya, perhatian kita habis bukan karena kita belajar terlalu banyak, tetapi karena kita belajar tanpa prioritas.

Algoritma Tidak Boleh Menjadi Kurikulum Kader

Algoritma memiliki tujuan yang berbeda dengan pendidikan.

Algoritma media sosial pada dasarnya dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna. Ia belajar dari apa yang kita klik, tonton, sukai, bagikan, dan komentari. Kemudian ia menyodorkan konten yang kemungkinan besar membuat kita terus berada di dalam platform.

Sesuatu yang muncul di timeline belum tentu sesuatu yang kita butuhkan. Ia mungkin hanya sesuatu yang menarik perhatian kita. Perbedaan ini sangat penting.

Apa yang menarik belum tentu penting. Apa yang viral belum tentu bernilai. Apa yang banyak dibicarakan belum tentu harus kita pelajari. Sebaliknya, apa yang tidak muncul di timeline bukan berarti tidak penting.

Seorang kader dakwah tidak boleh menyerahkan agenda belajarnya kepada mekanisme yang tidak mengetahui misi hidupnya. Algoritma tidak mengetahui amanah dakwah kita. Algoritma tidak mengetahui kompetensi apa yang sedang kita bangun. Algoritma tidak mengetahui kitab apa yang belum kita selesaikan. Algoritma tidak mengetahui kelemahan ilmu kita. Algoritma juga tidak mengetahui tahapan tarbiyah yang sedang kita jalani. 

Algoritma hanya mengetahui bahwa kita pernah berhenti beberapa detik pada sebuah video. Algoritma boleh membantu kita menemukan informasi atau ilmu, tetapi tidak boleh menentukan arah ilmu yang kita cari.

Said Hawwa dalam Jundullāh Tsaqāfatan wa Akhlāqan menekankan pentingnya kurikulum yang terencana dalam pembentukan kader: “Setiap gerakan… harus memiliki kurikulum budaya dan pendidikan… sehingga akarnya kokoh”.

Perhatikan ungkapan tersebut: agar akarnya kokoh. Kokohnya sebuah pohon tidak ditentukan oleh banyaknya daun yang tumbuh setiap hari, tetapi oleh kekuatan akar yang berada di bawah tanah.

Demikian pula kader. Banyaknya konten yang ia konsumsi bukan ukuran kedalaman keilmuannya. Hal yang lebih penting adalah apakah ia memiliki akar.

Ilmu Membutuhkan Struktur

Ilmu tidak tumbuh secara sembarangan.

Ada ilmu yang menjadi dasar bagi ilmu lainnya. Ada pengetahuan yang harus dipelajari sebelum pengetahuan berikutnya. Ada konsep yang harus dipahami terlebih dahulu sebelum seseorang mampu memasuki persoalan yang lebih kompleks.

Tradisi pendidikan dalam Islam mengenal tahapan, tingkatan, prioritas, guru, kitab, dan adab. Belajar bukan sekadar bertanya: “Apa yang ingin saya ketahui hari ini?” Tetapi juga bertanya: “Apa yang perlu saya kuasai agar saya mampu menjalankan amanah saya dengan benar?”

Ini adalah perubahan paradigma yang sangat penting. Pertanyaan pertama melahirkan belajar reaktif. Pertanyaan kedua melahirkan belajar strategis.

Said Hawwa dalam Al-Mustakhlas fī Tazkiyatil Anfus mengingatkan pentingnya adab dan keteraturan hubungan antara guru dan murid: “Titik awal dalam keberhasilan amal adalah adab yang mengatur dunia pengajar dan pembelajar; selama adab murid dengan gurunya tidak terikat, maka pembelajaran tidak akan berlanjut”.

Artinya, proses pembentukan ilmu bukan aktivitas yang sepenuhnya spontan. Ia membutuhkan hubungan, disiplin, arahan, dan tahapan.

Di era digital, kita perlu mengembalikan kesadaran ini. Jangan biarkan algoritma menentukan urutan ilmu yang masuk ke dalam kepala kita. Sebab algoritma tidak mengenal urutan pendidikan. Ia hanya mengenal urutan ketertarikan.

Prioritas pendidikan dan ketertarikan, tidak sama.

Melakukan Triage terhadap Informasi

Salah satu kemampuan penting kader di era digital adalah kemampuan memilah. 

Levitin menggunakan gagasan “triage” untuk menggambarkan proses pemilahan informasi: “pemilahan aktif… memisahkan hal-hal yang perlu Anda tangani sekarang dari hal-hal yang tidak perlu”.

Prinsip ini sangat penting dalam kehidupan seorang kader.

Tidak semua informasi harus dibaca. Tidak semua berita harus diketahui. Tidak semua perdebatan harus diikuti. Tidak semua persoalan harus kita komentari. 

Dan tidak semua ilmu harus dipelajari pada saat yang sama. Ada ilmu yang wajib sekarang. Ada ilmu yang penting tetapi bisa ditunda. Ada ilmu yang bermanfaat untuk diketahui sekilas. Dan ada informasi yang sama sekali tidak memiliki relevansi dengan amanah kita.

Kematangan intelektual bukan hanya kemampuan menemukan informasi. Kematangan intelektual juga merupakan kemampuan mengatakan: “Ini penting bagi saya.” dan pada saat yang sama mampu mengatakan: “Ini bukan prioritas saya sekarang.”

Kemampuan mengabaikan sebagian informasi bukan kemalasan. Dalam konteks tertentu, ia justru merupakan disiplin ilmu. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.