Gerigi Pertama: Ilmu yang Meniadakan Kebodohan

by -1804 Views

Pada bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa syahadah adalah kunci surga yang memiliki “gigi-gigi” atau syarat-syarat tertentu. Kini kita memasuki pembahasan gerigi pertama, yaitu al-‘ilmu al-munāfī lil-jahl (ilmu yang meniadakan kebodohan).

Mengapa ilmu ditempatkan pada urutan pertama? 

Karena seseorang tidak mungkin bersaksi terhadap sesuatu yang tidak diketahuinya. Dalam syariat Islam, persaksian (syahadah) harus dibangun diatas pengetahuan. Kesaksian tanpa ilmu bukanlah kesaksian, melainkan sekadar ucapan yang tidak memiliki makna.

Allah SWT berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.” (QS. Muhammad: 19)

Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa Allah mendahulukan perintah untuk mengetahui (fa’lam) sebelum amal dan ucapan, karena tauhid harus dibangun diatas ilmu yang benar. Demikian pula Imam Al-Bukhari menjadikan ayat ini sebagai dalil dalam bab terkenal di dalam Shahih-nya: “Al-‘Ilmu qabla al-qaul wal-‘amal” (ilmu sebelum perkataan dan perbuatan).

Karena itu, para ulama akidah menjadikan ilmu sebagai syarat pertama diterimanya syahadah. Syaikh Hafizh al-Hakami berkata dalam Sullam al-Wushul:

فَحَقُّهَا الْعِلْمُ بِالْمَعْنَى الْمُرَادِ مِنْهَا

“Hak kalimat tauhid itu adalah memahami makna yang dikehendaki darinya.”

Dengan demikian, syahadah bukan sekadar lafaz yang diwarisi dari keluarga atau lingkungan, tetapi sebuah kesaksian sadar yang lahir dari pengetahuan.

Memahami Makna Laa Ilaaha Illallah

Ilmu yang dimaksud para ulama bukan sekadar mengetahui terjemahan harfiah Lā ilāha illallāh. Tetapi, hal yang dituntut adalah memahami kandungan tauhid yang terkandung di dalamnya.

Para ulama menjelaskan bahwa kalimat ini memiliki dua rukun utama.

Pertama, an-nafy (peniadaan), yaitu menolak seluruh sesembahan selain Allah.

Kedua, al-itsbat (penetapan), yaitu menetapkan bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah.

Karena itu, makna Lā ilāha illallāh bukanlah “tidak ada Tuhan selain Allah”, tetapi “tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.”

Allah SWT berfirman:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ

“Demikian itu karena Allah adalah Yang Maha Benar, dan apa yang mereka sembah selain Dia adalah kebatilan.” (QS. Al-Hajj: 62)

Menurut Imam Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan bahwa seluruh bentuk penghambaan yang ditujukan kepada selain Allah adalah batil, sedangkan ibadah yang benar hanyalah yang dipersembahkan kepada Allah semata.

Dalam perspektif tazkiyatun nafs, pemahaman ini tidak hanya membebaskan manusia dari penyembahan berhala fisik, tetapi juga dari perbudakan terhadap hawa nafsu, ambisi dunia, dan ketergantungan berlebihan kepada makhluk. 

Syaikh Sa’id Hawwa menjelaskan dalam Tarbiyatunā ar-Rūhiyyah bahwa tauhid sejati adalah membebaskan hati dari segala sesuatu yang menyaingi kedudukan Allah di dalam jiwa seorang mukmin.

Karena itu para ulama tasawuf yang lurus memandang bahwa inti perjalanan ruhani adalah merealisasikan makna Lā ilāha illallāh dalam hati sebelum mewujudkannya dalam amal.

Ilmu yang Melahirkan Ketundukan

Ilmu yang benar tidak berhenti pada pengetahuan teoritis. Ia harus melahirkan penghambaan dan ketundukan kepada Allah.

Allah SWT berfirman:

إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Kecuali orang-orang yang bersaksi dengan kebenaran dan mereka mengetahui.” (QS. Az-Zukhruf: 86)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan syarat sahnya persaksian, yaitu adanya pengetahuan yang benar terhadap apa yang dipersaksikan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa meninggal dunia dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, maka ia masuk surga.” (HR. Muslim)

Dalam syarahnya terhadap hadits ini, Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ilmu tersebut harus mencakup pemahaman makna tauhid dan penafian segala bentuk syirik yang bertentangan dengannya.

Di sinilah letak pentingnya ilmu. Ilmu yang benar akan melahirkan kesadaran bahwa hanya Allah yang mencipta, mengatur, memberi rezeki, dan berhak menjadi tujuan doa, harapan, rasa takut, tawakal, serta seluruh bentuk ibadah.

Syaikh Yusuf al-Qaradhawi menegaskan dalam Al-Īmān wal-Hayāh bahwa iman yang hidup selalu melahirkan komitmen moral dan ketaatan praktis. Tauhid yang hanya berhenti sebagai teori belum mencapai kesempurnaan yang dikehendaki syariat.

Ilmu merupakan fondasi pertama bangunan syahadah. Tanpa ilmu, seseorang tidak mengetahui apa yang ia ikrarkan. Tanpa ilmu, ia tidak mampu membedakan tauhid dan syirik secara benar. Dan tanpa ilmu, perjalanan ruhani menuju Allah akan kehilangan arah.

Namun ilmu saja belum cukup. Banyak orang mengetahui kebenaran tetapi belum sepenuhnya terbebas dari keraguan. 

Oleh sebab itu, setelah ilmu tertanam dalam hati, syahadah menuntut gerigi berikutnya yang akan mengokohkan seluruh bangunan iman, yaitu al-yaqīn—keyakinan yang tidak menyisakan keraguan sedikit pun terhadap kebenaran yang telah diketahui. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.