Kolektor Konten, Bukan Penuntut Ilmu

by -1514 Views

Ada satu pemandangan yang semakin lazim di kalangan aktivis dakwah hari ini.

Seseorang membuka ponselnya. Di sana tersimpan puluhan video kajian, ratusan screenshot, puluhan tautan artikel, ratusan PDF kitab, rekaman podcast, potongan ceramah, dan berbagai unggahan yang diberi tanda save

Hampir semuanya disimpan dengan satu niat yang terdengar sangat baik: “Nanti saya pelajari.” Tetapi “nanti” itu sering tidak pernah datang.

Video terus bertambah. PDF terus menumpuk. Bookmark semakin panjang. Folder semakin banyak. Sementara waktu untuk benar-benar membaca, memahami, mencatat, mengulang, mendiskusikan, dan mengamalkan justru semakin sedikit.

Disinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:

Apakah kita sedang menuntut ilmu, atau hanya sedang mengoleksi konten tentang ilmu?

Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh salah satu persoalan penting dalam kehidupan intelektual aktivis dakwah di era digital.

Sebab, teknologi telah mengubah bukan hanya apa yang kita baca, tetapi juga cara kita berhubungan dengan ilmu.

Dahulu, seseorang yang ingin mempelajari sebuah kitab harus mencarinya, membelinya, membawanya pulang, membukanya, lalu duduk berjam-jam membacanya. Jika ingin memahami lebih dalam, ia kembali kepada gurunya. Jika lupa, ia membuka kembali halaman yang telah dibaca. Jika menemukan persoalan, ia mencatatnya. Jika belum paham, ia bertanya.

Kini, dalam beberapa detik, kita dapat memiliki ratusan kitab dalam satu perangkat. Tetapi pertanyaannya: apakah kemudahan memiliki telah membuat kita lebih mudah belajar? Belum tentu. Bahkan, dalam kondisi tertentu, kelimpahan justru dapat membuat kita kehilangan kemampuan untuk memilih.

Daniel J. Levitin dalam The Organized Mind menggambarkan bagaimana perangkat digital kita dapat berubah menjadi tempat penampungan informasi yang tidak teratur: “Komputer kita… telah menjadi laci dapur yang besar, tidak mulia, dan sangat tidak teratur, penuh dengan berkas elektronik yang asal-usul atau fungsinya tidak jelas”.

Gambaran tersebut terasa sangat dekat dengan kehidupan kita.

Folder bernama Kajian Penting.
Folder Baca Nanti.
Folder Referensi Dakwah.
Folder Kitab.
Folder Politik.
Folder Tarbiyah.
Folder Must Read.

Tetapi ketika dibuka kembali beberapa bulan kemudian, sebagian besar isinya bahkan sudah tidak kita ingat.

Kita memiliki banyak hal, tetapi tidak benar-benar menguasainya. Kita menyimpan banyak informasi, tetapi sedikit yang menjadi pengetahuan. Kita mengetahui banyak judul, tetapi tidak banyak kitab yang selesai dibaca. Kita mengikuti banyak kajian, tetapi tidak selalu mengalami perubahan dalam cara berpikir. Kita memiliki banyak bookmark, tetapi sedikit yang menjadi bagian dari struktur berpikir kita.

Inilah yang dapat disebut sebagai ilusi kepemilikan ilmu.

Kita merasa lebih dekat dengan ilmu hanya karena ilmu itu tersimpan di perangkat kita. Padahal, sebuah PDF yang tersimpan tidak otomatis menjadi ilmu. Sebuah video yang diberi tanda watch later tidak otomatis menjadi pemahaman. Sebuah screenshot tidak otomatis menjadi hikmah.

Save bukan study. Download bukan learning. Watch later bukan berarti akan belajar nanti.

Ilmu baru mulai menjadi milik kita ketika informasi itu diproses, dipahami, dihubungkan, diingat, diuji, dan akhirnya mempengaruhi cara kita berpikir dan bertindak.

Ketika “Nanti” Menjadi Kuburan Ilmu

Salah satu jebakan paling halus dalam kehidupan digital adalah kata “nanti.” 

Kita melihat sebuah kajian yang menarik. Save. Kita menemukan sebuah buku yang bagus. Download. Kita membaca sebuah kutipan yang inspiratif. Screenshot. Kita menemukan artikel yang menurut kita penting. Bookmark.

Lalu kita berkata:“Nanti kalau ada waktu, saya baca.”

Masalahnya, arus informasi tidak pernah berhenti. Sebelum “nanti” tiba, muncul sepuluh video baru. Sebelum kita membuka PDF yang kemarin disimpan, muncul lima artikel baru. Sebelum kita menyelesaikan satu buku, ada rekomendasi buku lain.

Akhirnya kita hidup dalam sebuah paradoks: semakin banyak yang kita simpan, semakin sedikit yang benar-benar kita pelajari.

Clay A. Johnson dalam The Information Diet memberikan peringatan yang sangat relevan: “Bukan kelebihan informasi (information overload), melainkan konsumsi informasi yang berlebihan (information overconsumption) yang menjadi masalah… Informasi tidak berdaya untuk memaksa Anda melakukan apa pun selama Anda sadar bagaimana ia memengaruhi Anda”.

Ini penting.

Masalah kita bukan semata-mata karena terlalu banyak informasi tersedia. Masalahnya adalah kita terlalu mudah merasa harus mengonsumsi semuanya.

Padahal seorang penuntut ilmu tidak dituntut mengetahui segala sesuatu. Ia justru dituntut mengetahui apa yang perlu dipelajari, mengapa ia perlu mempelajarinya, dari siapa ia mempelajarinya, dan bagaimana ia mengubah pengetahuan itu menjadi amal.

Di sinilah kemampuan memilih menjadi bagian dari kedewasaan intelektual.

Kolektor Konten atau Penuntut Ilmu?

Mari kita membedakan keduanya.

Kolektor konten bertanya: “Apalagi yang bisa saya simpan?” Sedangkan penuntut ilmu bertanya: “Apa yang harus saya pahami?” Kolektor konten merasa produktif ketika jumlah save-nya bertambah. Penuntut ilmu merasa bertumbuh ketika pemahamannya semakin dalam.

Kolektor konten mengejar banyak sumber. Penuntut ilmu memilih sumber yang tepat lalu menyelaminya. Kolektor konten berpindah dari satu konten ke konten lain. Penuntut ilmu berani tinggal lebih lama pada satu persoalan. Kolektor konten mengumpulkan. Penuntut ilmu mengolah. Kolektor konten memiliki arsip. Penuntut ilmu memiliki struktur pengetahuan.

Perbedaan ini sangat penting bagi kader dakwah.

Dakwah tidak membutuhkan manusia yang sekadar memiliki gudang informasi. Dakwah membutuhkan manusia yang memahami, meyakini, menghayati, dan mengamalkan apa yang dipelajarinya.

Said Hawwa dalam Al-Mustakhlas fī Tazkiyatil Anfus bahkan mengingatkan bahwa sebagian materi ilmu memang membutuhkan pembacaan berulang: “menuntut pembaca untuk membacanya berkali-kali, karena banyak diantaranya yang termasuk dalam kategori ilmu yang diwajibkan atas setiap muslim”.

Kalimat ini mengandung pelajaran yang sangat dalam. Ilmu tidak selalu selesai dalam satu kali baca. Ada ilmu yang harus dibaca ulang. Ada ilmu yang harus direnungkan. Ada ilmu yang harus ditanyakan. Ada ilmu yang baru benar-benar dipahami setelah pengalaman hidup membuat kita melihat maknanya dari sudut yang berbeda.

Kedalaman tidak mungkin lahir dari budaya berpindah-pindah secara terus-menerus.

Satu Buku yang Selesai

Barangkali kita perlu mengubah ukuran keberhasilan belajar.

Bukan: “Berapa banyak PDF yang sudah saya download?” Tetapi:“Berapa banyak buku yang benar-benar saya selesaikan?”

Bukan:“Berapa banyak kajian yang saya simpan?” Tetapi: “Berapa banyak ilmu yang benar-benar saya pahami?”

Bukan: “Berapa banyak kutipan yang saya punya?” Tetapi: “Berapa banyak prinsip yang telah mengubah hidup saya?”

Satu buku yang selesai dibaca dengan serius, dicatat, direnungkan, dan diamalkan bisa jauh lebih berharga daripada seratus PDF yang hanya tersimpan di memori perangkat.

Satu kitab yang dipahami secara bertahap dapat membentuk kerangka berpikir. Satu guru yang membimbing dengan baik dapat membentuk adab. Satu prinsip yang benar-benar diamalkan dapat mengubah kehidupan.

Banyaknya sumber bukan ukuran kedalaman ilmu. Bahkan terkadang, kemampuan untuk berkata “cukup” kepada informasi adalah bagian dari kecerdasan.

Daniel J. Levitin menyebut perlunya melakukan “Triage” informasi, yaitu: “pemilahan aktif… memisahkan hal-hal yang perlu Anda tangani sekarang dari hal-hal yang tidak perlu”.

Prinsip ini sangat relevan dalam kehidupan kader. Tidak semua informasi harus kita baca. Tidak semua video harus kita tonton. Tidak semua perdebatan harus kita ikuti. Tidak semua isu harus kita komentari.Tidak semua kitab harus kita kuasai.

Apa yang harus kita lakukan adalah mengetahui apa yang menjadi kebutuhan ilmu kita, apa yang menjadi amanah kita, dan apa yang benar-benar membantu kita menjalankan misi dakwah.(im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.