Dalam kegiatan tersebut, Ustad H. Heri Ahmadi mengajak civitas akademika memaknai bulan Dzulhijjah sebagai momentum syukur dan memperbanyak amal ibadah.
Tasikmalaya, HA — Universitas Bhakti Tunas Husada (UBTH) Tasikmalaya terus memperkuat budaya akademik yang berpadu dengan nilai-nilai keislaman. Salah satunya melalui pengajian rutin mingguan yang digelar di Masjid Ar-Ruswandi, Kompleks Kampus UBTH, Kamis (21/5/2026).
Kegiatan tersebut diikuti civitas akademika UBTH dan menghadirkan Ustad H. Heri Ahmadi sebagai pengisi materi. Dalam tausiyahnya, Heri mengajak jamaah untuk mensyukuri nikmat Allah dengan membangun pribadi dan lingkungan yang memberi manfaat bagi sesama.
Menurutnya, rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan, tetapi juga diwujudkan dalam perilaku dan kontribusi nyata di tengah masyarakat.
“Wujud syukur itu bukan hanya ucapan, tetapi bagaimana kita membangun entitas yang bermanfaat, menghadirkan kebaikan, dan memberi nilai bagi lingkungan sekitar,” ujar Heri Ahmadi.
Memaknai Bulan Haram dan Menghidupkan Sunnah
Dalam kesempatan tersebut, Heri juga mengingatkan tentang kemuliaan bulan Dzulhijjah sebagai salah satu dari empat bulan haram sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.
Ia mengutip firman Allah dalam QS At-Taubah ayat 36 tentang empat bulan yang dimuliakan, di mana umat Islam dianjurkan memperbanyak amal ibadah dan menjaga diri dari perbuatan yang merusak.
Menurut Heri, momentum Dzulhijjah hingga menjelang Muharram seharusnya menjadi ruang untuk menghidupkan sunnah dan memperkuat kedekatan spiritual kepada Allah.
“Di bulan-bulan mulia ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak dzikir, tahlil, doa, dan amal saleh. Ini momentum memperbaiki diri dan memperkuat hubungan dengan Allah maupun sesama manusia,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa ibadah kurban bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, tetapi mengandung pesan keikhlasan, ketaatan, dan kepedulian sosial.
“Nilai kurban itu bukan hanya ikhlas dan taat, tetapi juga nilai kemanusiaan. Ada semangat berbagi, empati, dan kepedulian kepada sesama,” tambahnya.
Kampus dan Penguatan Nilai Keislaman
Sementara itu, Rektor UBTH, Prof. Dr. Ruswanto, menyampaikan bahwa pengajian rutin menjadi bagian dari upaya kampus membangun lingkungan akademik yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kuat dalam nilai moral dan spiritual.
Menurutnya, UBTH terus mengembangkan budaya kerja yang bersih dan hijau, menghidupkan Rumah Al-Qur’an, serta memperkuat pembinaan karakter di lingkungan kampus.
“Pengembangan kampus diarahkan agar mahasiswa memiliki pengalaman belajar yang relevan dengan dinamika global, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai keislaman,” ujar Ruswanto.
Ia berharap penguatan nilai-nilai Islam dapat tercermin dalam budaya kerja sehari-hari dosen maupun tenaga kependidikan.
Pendidikan Tidak Hanya Akademik
Heri Ahmadi juga mengapresiasi langkah yayasan dan rektorat dalam menghadirkan suasana kampus yang religius dan membumi.
Menurutnya, perguruan tinggi harus mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan nilai kemanusiaan dan spiritual agar tidak kehilangan arah.
“Perguruan tinggi jangan hanya menjadi menara gading. Mahasiswa harus dibina agar cerdas secara akademik sekaligus memiliki akhlak, empati, dan integritas,” pungkasnya.
Pengajian berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Para peserta tampak menyimak materi yang disampaikan sebagai bagian dari penguatan spiritual di tengah aktivitas akademik kampus. (im)







