Ketika Banyak Tahu Tetapi Tidak Berarti Memahami

by -1547 Views

Buku III ini merupakan pendalaman dari apa yang telah kita pelajari pada Buku II. Jika sebelumnya kita menata kembali cara memperoleh dan membangun ilmu di era digital, kini kita bergerak satu tingkat lebih tinggi: bagaimana ilmu diproses menjadi kemampuan berpikir yang matang. 

Kita berpindah dari sekadar knowledge consumption menuju intellectual formation. Sebab, problem kader hari ini bukan lagi semata-mata kekurangan data, melainkan melimpahnya data yang gagal diolah menjadi pemahaman.

Dari Informasi Menuju Kedalaman

Kita perlu membedakan informasi, pengetahuan, pemahaman, dan kedalaman intelektual. Informasi adalah serpihan data yang kita temukan; pengetahuan (knowledge) adalah informasi yang dikumpulkan dan ditata; sedangkan pemahaman (understanding) menuntut kemampuan melihat hubungan, memahami sebab-akibat, membedakan premis dan kesimpulan, serta membaca struktur argumentasi.

Adapun kedalaman intelektual (intellectual depth) melampaui semuanya. Ia mengubah pemahaman menjadi worldview, lalu mendorong lahirnya amal. 

Kader dakwah tidak cukup menjadi penyampai informasi yang reaktif terhadap sesuatu yang viral. Ia harus memiliki kemampuan memahami persoalan sebelum berbicara tentang persoalan tersebut.

Masalahnya, era digital melahirkan illusion of knowledge: perasaan mengetahui karena jawaban begitu mudah ditemukan. Tom Nichols dalam The Death of Expertise menulis, “Itu memungkinkan orang untuk meniru pencapaian intelektual dengan memanjakan diri dalam ilusi keahlian yang disediakan oleh pasokan fakta yang tidak terbatas”.

Temuan psikolog Yale yang dirujuk Nichols bahkan menunjukkan bahwa orang yang mencari informasi di internet dapat keluar dari proses tersebut dengan “rasa percaya diri yang berlebihan tentang seberapa banyak yang mereka ketahui”, bahkan terhadap topik yang tidak berkaitan dengan pencarian awal mereka. 

Inilah bahaya outsourced knowledge: pengetahuan yang sebenarnya berada diluar diri dianggap sebagai pengetahuan yang telah kita kuasai.

Nichols memberikan peringatan yang sangat penting: “Mengetahui hal-hal (knowing things) tidak sama dengan memahaminya (understanding them). Pemahaman (comprehension) tidak sama dengan analisis. Keahlian bukanlah permainan ruang tamu yang dimainkan dengan fakta-fakta kecil (factoids)”.

Ilmu Membutuhkan Kerja Akal

Pemahaman tidak lahir dari konsumsi informasi semata. Ia membutuhkan kerja intelektual. Ian Tuhovsky dalam Critical Thinking menjelaskan: “Sistem 1 mengandalkan emosi, impuls, dan intuisi, sedangkan Sistem 2 mengandalkan pemikiran dan pertimbangan yang cermat”.

Media digital sangat mudah mengaktifkan Sistem 1: cepat, emosional, sederhana, dan spontan. Tuhovsky mengingatkan, “Meskipun bermaksud baik, Sistem 1 juga mendorong pemikiran yang malas. Ia meminimalkan energi yang kita gunakan untuk setiap tugas dan menerapkan apa yang dikenal sebagai Hukum Usaha Minimal (the Law of Least Effort)”.

Karena itu, berpikir mendalam membutuhkan kesediaan melawan arus. 

“Masalah dengan pemikiran rasional adalah bahwa ia membutuhkan usaha dan pertimbangan… Inilah sebabnya mengapa irasionalitas begitu meluas. Lingkungan sosial dan ekonomi kita mendorong pilihan-pilihan bodoh, jadi agar kita bisa memutuskan secara berbeda, kita harus bangkit melawan arus”.

Kader dakwah harus berani memperlambat proses berpikir: membaca utuh, memeriksa dalil, membandingkan perspektif, menguji argumentasi, dan menunda kesimpulan. Jangan sampai membaca dan mengklik hanya menjadi cara “bukan untuk belajar tetapi untuk membuktikan suatu poin”.

Ilmu, Tadabbur, dan Hikmah

Dalam perspektif Islam, ilmu tidak berhenti pada aktivitas mental. Syaikh Yusuf al-Qaradawi dalam Al-Imān wal-Ḥayāh, mengutip Ahmad Amin, membedakan antara al-ra’yu dan al-aqīdah: “perbedaan besar antara melihat pendapat (an tara al-ra’ya) dan meyakininya (an ta’taqidahu). Jika Anda sekadar melihat pendapat, Anda baru memasukkannya ke dalam lingkaran informasi Anda (da’iratu ma’lumatik). Namun, jika Anda telah meyakininya, ia akan mengalir di dalam darah Anda, merasuk ke dalam sumsum tulang Anda, dan menembus ke lubuk hati Anda yang paling dalam”.

Lebih jauh, al-Qaradawi menegaskan: “Iman dalam hakikatnya bukanlah sekadar ucapan lisan, bukan pula sekadar amal anggota badan, dan bukan pula sekadar aktivitas mental kognitif (عمل ذهني). Iman dalam hakikatnya adalah aktivitas jiwa yang mendalam (عمل نفسي) yang merasuk ke relung jiwa terdalam dan meliputi seluruh sisinya, mulai dari kesadaran (idrāk), kehendak (irādah), hingga perasaan (wijdān)”.

Akal memang harus digunakan, tetapi tidak boleh dipertuhankan. Al-Qaradawi kembali mengingatkan: “Akal, bagaimanapun kecerdasan, kemampuan eksperimen, analogi, dan deduksinya, tetaplah terbatas oleh batas-batas kemampuan manusiawi… Maka, akal tidak akan pernah bisa lepas dari sandaran dan penolong… dan sandaran ini adalah Wahyu, yang merupakan asas dari agama”.

Disinilah tadabbur dan tazkiyatun nufus menjadi penting. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengajarkan bahwa ilmu yang bermanfaat bukan sekadar memperbanyak informasi, tetapi ilmu yang melahirkan khasyyah, memperbaiki jiwa, dan membimbing amal.

Maka, kader dakwah harus bergerak dari knowledge consumption menuju intellectual formation. Banyak tahu belum tentu banyak memahami. Banyak membaca belum tentu matang berpikir. Ilmu baru menjadi kekuatan ketika diproses oleh akal, diterangi wahyu, ditadabburi oleh hati, lalu diwujudkan dalam amal dan hikmah. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.