Matinya Budaya Membaca: Dari Lembaran Kitab ke Guliran Layar

by -1528 Views

Membaca bukan sekadar aktivitas memperoleh informasi. Ia adalah latihan membangun perhatian, kesabaran, kemampuan memahami, dan kedalaman berpikir. 

Matinya budaya membaca merupakan ancaman serius bagi masa depan intelektualitas gerakan dakwah. 

Ditengah kelimpahan informasi digital, kader justru semakin sulit menyelesaikan satu buku secara utuh. Lembaran kitab yang menuntut keheningan dan kontemplasi perlahan digantikan oleh scrolling, feed, summary, dan quotes.

Dari Tradisi Iqra’ Menuju Budaya Scrolling

Peradaban Islam sejak awal dibangun diatas tradisi ilmu. Wahyu pertama dimulai dengan perintah Iqra’

Dalam Jundullāh Tsaqāfatan wa Akhlāqan, Said Hawwa menegaskan pentingnya menjadikan Kitabullah sebagai pusat pembinaan: “Sesungguhnya Kitab ini adalah dari sisi Allah, tidak ada keraguan di dalamnya dan tidak ada kebimbangan…”.

Dalam manhaj tarbiyah, ilmu tidak cukup diperoleh melalui pertemuan singkat. Said Hawwa menyerukan: “…kami menyeru orang muslim dan mengkhususkannya setelah ia menguasai akidah, mengetahui induk-induk akhlak dasar dan merealisasikannya, mengetahui fikih, dan setelah ia mengambil bagiannya dari Al-Kitab dan As-Sunnah, untuk membaca apa yang ia kehendaki dari buku-buku akhlak Islam…”. 

Beliau bahkan menganjurkan telaah kitab-kitab seperti Al-Ri’ayah karya Al-Muhasibi dan Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali.

Namun kini terjadi migrasi besar: dari membaca buku menuju membaca feed

Johann Hari dalam Stolen Focus mencatat paradoks yang mengkhawatirkan: “Proporsi orang yang membaca buku demi kesenangan kini berada pada tingkat terendah yang pernah tercatat… rata-rata orang menghabiskan tujuh belas menit sehari untuk membaca buku dan 5,4 jam pada ponsel mereka”.

Persoalannya bukan sekadar medium. Ia menyangkut cara kerja perhatian. Anne Mangen, profesor literasi di Universitas Stavanger, menjelaskan: “Membaca buku melatih kita untuk membaca dengan cara tertentu—secara linear, fokus pada satu hal dalam jangka waktu yang berkelanjutan. Membaca dari layar, seperti yang ia temukan, melatih kita membaca dengan cara berbeda—dalam lompatan dan lompatan manik dari satu hal ke hal lainnya”.

Ia menambahkan, “Kita lebih cenderung memindai dan memindai (scan and skim) ketika kita membaca di layar”. Kebiasaan skimming inilah yang kemudian terbawa ketika kita kembali membaca buku.

Ketika Fokus dan Kesabaran Kognitif Melemah

Kader yang dahulu mampu duduk berjam-jam membaca kitab kini dapat merasa gelisah setelah beberapa halaman karena terdorong memeriksa gawai. 

Johann Hari, merujuk penelitian Mihaly Csikszentmihalyi, menyebut membaca sebagai salah satu jalan paling sederhana menuju flow: “salah satu bentuk aliran (flow) paling sederhana dan paling umum yang dialami orang dalam hidup mereka adalah membaca buku—dan, seperti bentuk-bentuk flow lainnya, ia sedang tercekik dalam budaya kita yang terus-menerus terdistraksi”.

Apa yang hilang bukan hanya waktu membaca, tetapi kesabaran kognitif. Anne Mangen khawatir kita kehilangan “‘kemampuan kita untuk membaca teks panjang lagi,’ dan kita juga kehilangan ‘kesabaran kognitif kita… [dan] stamina serta kemampuan untuk menghadapi teks-teks yang menantang secara kognitif'”.

Akibatnya, kader semakin menyukai gagasan sederhana dan hitam-putih, sementara persoalan umat yang kompleks membutuhkan kesabaran untuk dipahami.

Buku Bukan Sekadar Kumpulan Kutipan

Budaya summary dan quotes semakin memperkuat problem tersebut. Clay A. Johnson dalam The Information Diet mengibaratkan informasi buruk seperti junk food: “makanan yang buruk bagi kita memiliki padanan dalam dunia informasi. 

Dalam dunia pertanian, kita sekarang memiliki pabrik pertanian yang memproduksi makanan sampah (junk food); dan dalam dunia media, kita sekarang memiliki pabrik konten yang memproduksi informasi sampah (junk information)”.

Sebaliknya, Johnson mengingatkan: “Mengonsumsi makanan utuh (whole foods) yang berasal dari tanah cenderung baik untuk Anda, dan mengonsumsi berita dari sumber yang dekat dengan asalnya cenderung paling memberikan informasi kepada Anda”.

Jika kader terus bergantung pada ringkasan dan potongan kutipan, lahirlah obesitas informasi: “…diet informasi yang buruk memberi kita bentuk-bentuk ketidaktahuan baru—ketidaktahuan yang muncul bukan karena kurangnya informasi, melainkan karena konsumsi informasi yang berlebihan…”.

Padahal, buku adalah bangunan argumentasi. Johann Hari menulis: “Pertama, hidup itu kompleks, dan jika Anda ingin memahaminya, Anda harus meluangkan waktu yang cukup untuk memikirkannya secara mendalam. Anda perlu memperlambat langkah. Kedua, ada nilai dalam meninggalkan kekhawatiran Anda yang lain dan mempersempit perhatian Anda pada satu hal, kalimat demi kalimat, halaman demi halaman”.

Daniel J. Levitin dalam The Organized Mind bahkan menyebut buku sebagai brain extenders: “Secara historis, perpanjangan otak (brain extenders) yang paling utama adalah buku, melacak pengetahuan terkumpul selama berabad-abad yang dapat kita akses saat kita membutuhkannya. Mungkin mereka masih tetap seperti itu”.

Menghidupkan Kembali Muthala’ah Syakhshiyyah

Karena itu, gerakan dakwah perlu merestorasi muthala’ah syakhshiyyah. Said Hawwa menegaskan: “Sesungguhnya satu pelajaran dalam sepekan atau satu sesi ilmiah dalam sepekan tidaklah cukup untuk mendapatkan tsaqafah Islam yang terfokus… oleh karena itu, mutlak diperlukan adanya muthala’ah syakhshiyyah (pembacaan mandiri) yang terarah”.

Namun membaca pun membutuhkan ruh. Abdullah bin Umar r.a. memperingatkan orang yang membaca tanpa memahami: “…ia membaca dari pembuka Al-Kitab hingga penutupnya, tidak tahu apa perintah-Nya, larangan-Nya, dan di mana seharusnya ia berhenti; ia menaburkannya bagaikan menabur kurma kering yang buruk kualitasnya (daqal)”.

Maka, kader dakwah jangan menjadi kolektor PDF, bookmarks, atau kutipan. Jadilah pembaca yang sabar. Matikan notifikasi, hadirkan hati, baca buku secara utuh, ikuti argumentasinya, renungkan pesannya, dan hubungkan ilmu dengan amal. Membaca dengan sabar adalah bagian dari tazkiyatun nafs, karena ia melatih jiwa untuk tidak tunduk kepada budaya instan.

Dari lembaran kitab menuju kedalaman ilmu, dari scrolling menuju muthala’ah, dari konsumsi konten menuju pembentukan intelektual. Di situlah tradisi literasi Islam kembali menemukan ruhnya. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.