Membangun Argumentasi dari Potongan Informasi

by -1636 Views

Ditengah ekosistem digital yang serba cepat, kader dakwah semakin sering memahami persoalan melalui serpihan informasi: quote, video pendek, screenshot, headline, atau potongan ceramah. 

Padahal, kematangan intelektual tidak ditentukan oleh banyaknya informasi yang dikumpulkan, melainkan kemampuan mengikuti alur argumentasi dari premis menuju kesimpulan.

Memahami Struktur Argumentasi

Sebuah argumentasi sekurang-kurangnya memiliki tiga unsur: klaim (claim), yaitu pernyataan yang diajukan; premis (premise), yaitu alasan atau bukti yang menopang klaim; dan kesimpulan (conclusion), yaitu hasil yang ditarik dari premis-premis tersebut. 

Argumentasi yang baik menuntut hubungan logis di antara ketiganya.

Masalahnya, budaya digital mendorong kita melompati proses tersebut. Ian Tuhovsky dalam Critical Thinking menjelaskan: “Untuk menyederhanakannya, ada dua cara di mana Anda dapat membuat keputusan. Anda bisa mendasarkannya pada perasaan, atau Anda dapat memproses informasi dan tiba pada suatu kesimpulan. Keduanya bekerja, hanya saja menggunakan perasaan untuk membuat keputusan itu lebih cepat… Namun jika kita hanya mengandalkan pengenalan pola untuk memecahkan masalah, hal itu dapat mengarah pada hasil yang buruk dan bahkan terkadang tidak rasional”.

Kader perlu membedakan argumentasi dari sekadar opini. Opini dapat lahir dari selera dan emosi; argumentasi harus tunduk pada bukti dan logika.

Tom Nichols dalam The Death of Expertise mengingatkan: “Dunia saat ini sangat berbahaya. Belum pernah terjadi begitu banyak orang memiliki akses ke begitu banyak pengetahuan, namun mereka sangat resisten untuk mempelajari apa pun. Tidak hanya semakin banyak orang awam yang kekurangan pengetahuan dasar, mereka juga menolak aturan fundamental tentang bukti dan menolak untuk belajar bagaimana membuat argumen yang logis. Dengan melakukan itu, mereka berisiko membuang akumulasi pengetahuan selama berabad-abad dan merusak praktik serta kebiasaan yang memungkinkan kita mengembangkan pengetahuan baru”.

Lebih buruk lagi, perdebatan dapat berubah menjadi benturan ego: “Sebuah argumen terjadi, tetapi orang-orang yang tidak memiliki gagasan tentang bagaimana membuat argumen yang logis (atau yang tidak memiliki pengetahuan dasar yang cukup dalam subjek yang didebatkan) tidak dapat menyadari kapan mereka gagal menawarkan tanggapan yang koheren. Dalam waktu singkat, sang ahli menjadi frustrasi dan orang awam merasa dihina. Semua orang berjalan pergi dengan perasaan marah”.

Waspada terhadap Logical Fallacies

Kader juga harus mengenali logical fallacies: ad hominem, appeal to popularity, straw man fallacy, dan expert trespass

Tuhovsky menjelaskan: “Sistem 1 adalah otomatis, dan ya saya akui, impulsif, tetapi ia masih mampu berfungsi dan mensintesis pola ide yang kompleks… Di situlah Sistem 1 berbahaya, di mana ia melompat pada kesimpulan berdasarkan kesesatan berpikir (logical fallacies)”.

Dengan demikian, setiap klaim harus diuji: Apa premisnya? Apa buktinya? Apakah kesimpulannya benar-benar mengikuti premis? Apa hidden assumptions yang digunakan?

Jangan Terjebak Quote dan Potongan Konteks

Kutipan tidak pernah otomatis menggantikan argumentasi. Mike Caulfield dan Sam Wineburg dalam Verified menyebut manipulasi ini sebagai “Connect My Dots”: “Kami menyebut teknik ini sebagai ‘Connect My Dots’: Anda merasa seperti sedang menggambar gambar sendiri secara langsung dari bukti, tetapi kenyataannya, Anda telah diberi titik-titik untuk dihubungkan dan urutan untuk menghubungkannya. Titik-titik yang tidak sesuai dengan narasi yang dipilih tidak disediakan”.

Karena itu, kader harus melakukan verifikasi dengan menelusuri sumber dan konteks asli. Prinsip SIFT, terutama T—Trace to context, menjadi penting sebelum mempercayai atau menyebarkan suatu informasi.

Tradisi Islam sebenarnya telah lama menuntut sikap demikian. Imam Al-Ghazali melalui Ihya’ Ulumuddin menempatkan ilmu sebagai proses memahami, menimbang, dan menyucikan jiwa, bukan sekadar mengumpulkan factoids

Said Hawwa dalam Jundullāh Tsaqāfatan wa Akhlāqan juga menegaskan: “Sesungguhnya satu pelajaran dalam sepekan atau satu sesi ilmiah dalam sepekan tidaklah cukup untuk mendapatkan tsaqafah Islam yang terfokus… oleh karena itu, mutlak diperlukan adanya muthala’ah syakhshiyyah (pembacaan mandiri) yang terarah”.

Inilah intellectual formation yang harus dibangun. Kader dakwah tidak cukup menjadi penyebar potongan informasi. Ia harus mampu membaca gagasan secara utuh, memahami premisnya, menguji bukti, mengenali logical fallacies, dan menilai kesimpulan secara adil.

Kader yang matang bukanlah kader yang paling cepat berkomentar, tetapi kader yang mampu berhenti sejenak, berpikir secara struktural, lalu berbicara dengan hujjah. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.