Ar-Ridhā: Muara Kesempurnaan Syahadah

by -1785 Views

Setelah kita menelusuri perjalanan panjang syahadah melalui ilmu (al-‘ilm), keyakinan (al-yaqīn), keikhlasan (al-ikhlāṣ), kejujuran (ash-shidq), cinta (al-mahabbah), penerimaan (al-qabūl), dan kepatuhan (al-inqiyād), sampailah kita pada sebuah kondisi ruhani yang menjadi buah dari seluruh proses tersebut, yaitu ar-ridhā (kerelaan dan kepuasan hati terhadap Allah dan ketetapan-Nya).

Perlu ditegaskan bahwa ar-ridhā bukanlah syarat kedelapan yang berdiri sendiri di luar tujuh syarat syahadah yang telah dirumuskan para ulama. Ia adalah buah yang matang dari seluruh syarat tersebut. Jika syahadah adalah pohon tauhid, maka ridha adalah buah manis yang tumbuh setelah akar, batang, cabang, dan daunnya berkembang dengan sempurna.

Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami dalam Ma’ārij al-Qabūl menegaskan bahwa manfaat syahadah tidak akan diperoleh hanya dengan pengucapan lisan semata. Beliau berkata:

إِنَّهُ لَا يَنْتَفِعُ قَائِلُهَا بِالنُّطْقِ إِلَّا حَيْثُ يَسْتَكْمِلُهَا

“Sesungguhnya orang yang mengucapkannya tidak akan memperoleh manfaat dari ucapannya itu kecuali apabila ia menyempurnakannya.”

Ketika penyempurnaan itu terjadi, hati akan sampai pada maqam ridha. Dalam bahasa para ulama tasawuf, ridha adalah ketenangan hati terhadap pilihan Allah, baik dalam syariat maupun takdir-Nya.

Hakikat Ridha kepada Allah, Rasul, dan Islam

Rasulullah ﷺ bersabda:

ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا

“Telah merasakan manisnya iman orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabb, kepada Islam sebagai agama, dan kepada Muhammad sebagai Rasul.” (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kesempurnaan iman seseorang ketika hatinya menerima dengan penuh kerelaan seluruh ketetapan Allah dan tuntunan Rasul-Nya.

Ridha memiliki tiga dimensi utama.

Pertama, ridha kepada Allah sebagai Rabb. Allah SWT berfirman:

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS. Al-Mā’idah: 119)

Menurut Imam Al-Qurthubi, keridhaan seorang hamba kepada Allah berarti menerima seluruh pengaturan Allah tanpa protes dan tanpa keberatan dalam hati.

Kedua, ridha kepada Rasulullah ﷺ sebagai pembimbing kehidupan. Seorang mukmin tidak lagi mencari petunjuk di luar sunnah beliau karena meyakini bahwa Allah telah menyempurnakan agama ini melalui risalah Muhammad ﷺ.

Ketiga, ridha kepada Islam sebagai jalan hidup. Islam tidak dipandang sebagai kumpulan aturan yang membatasi kebebasan manusia, tetapi sebagai rahmat yang membimbing manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Syaikh Yusuf al-Qaradhawi dalam Al-Īmān wal-Hayāh menjelaskan bahwa seorang mukmin yang benar akan merasakan ketenteraman ketika berada dalam naungan syariat Allah, sebagaimana seorang musafir merasa tenang ketika menemukan jalan yang benar menuju tujuannya.

Ridha sebagai Puncak Perjalanan Tauhid

Para ulama menempatkan ridha sebagai salah satu maqam tertinggi perjalanan ruhani. Imam Ibnul Qayyim dalam Madārij as-Sālikīn menjelaskan bahwa ridha merupakan buah dari cinta, tawakal, dan keyakinan yang sempurna. Hati yang ridha tidak hanya taat ketika keadaan menyenangkan, tetapi juga tetap tunduk ketika menghadapi ujian.

Syaikh Sa’id Hawwa dalam Tarbiyatunā ar-Rūhiyyah menerangkan bahwa ridha adalah tanda bahwa tauhid telah berakar kuat dalam jiwa. Ketika seorang hamba ridha kepada Allah, ia tidak lagi diperbudak oleh ketakutan terhadap makhluk, ambisi duniawi, atau kecemasan berlebihan terhadap masa depan.

Disinilah kita kembali kepada ungkapan terkenal Wahab bin Munabbih tentang syahadah sebagai kunci surga yang memiliki gerigi-gerigi. Ilmu, keyakinan, keikhlasan, kejujuran, cinta, penerimaan, dan kepatuhan adalah gerigi-gerigi yang menyempurnakan kunci tersebut. Adapun ridha adalah keadaan ketika kunci itu telah sempurna dan siap membuka pintu surga.

Tujuan akhir syahadah bukan hanya menjadikan seseorang mengetahui tauhid, tetapi menjadikannya tenang bersama Allah. Ia rela diatur oleh Allah, rela mengikuti Rasulullah ﷺ, dan rela menjadikan Islam sebagai jalan hidupnya. Inilah hakikat kebebasan seorang mukmin: terbebas dari penghambaan kepada makhluk karena sepenuhnya menghambakan diri kepada Al-Khāliq. 

Itulah muara kesempurnaan syahadah. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.