Quote Tanpa Konteks dan Budaya Potong-Tempel

by -1491 Views

Di era media sosial, lahir budaya baru dalam mengonsumsi ilmu: budaya kutipan singkat (quotes). Kalimat pendek yang terdengar tajam, puitis, atau konfrontatif dipotong dari ceramah, buku, atau kitab, kemudian ditempelkan pada grafis dan disebarkan. 

Masalahnya, quote sering diperlakukan sebagai argumentasi final, padahal ketika sebuah kalimat dicabut dari konteksnya, ia dapat kehilangan maksud aslinya. 

Karena itu, kader dakwah harus membangun kebiasaan memeriksa konteks sebelum menggunakan sebuah pernyataan sebagai dalil atau argumentasi.

Mengapa Kita Menyukai Kalimat Singkat?

Otak manusia cenderung menyukai informasi sederhana yang mudah diproses. 

Ian Tuhovsky dalam Critical Thinking: Think Clearly in a World of Agendas, Bad Science, and Information Overload menjelaskan:

“Sering kali kita lebih menyukai informasi yang salah daripada tidak ada informasi sama sekali, dan kita menggunakannya untuk membenarkan ide dan pandangan kita. Ini adalah keputusan yang dibuat berdasarkan impuls dan emosi, bukan rasionalitas. Sebagai manusia, kita mencari pola di mana-mana, dan pola terbesar yang kita bangun adalah pola yang kita buat sendiri. Kita lebih terombang-ambing oleh cerita yang memikat daripada oleh kenyataan”.

Kutipan singkat sangat mudah menjadi jalan pintas kognitif. Kader merasa telah memahami pemikiran seorang ulama hanya dengan satu kalimat. 

Padahal, quote bukan keseluruhan gagasan. Sebuah pemikiran harus dibaca bersama konteks, argumentasi, dan tujuan penulisnya.

Cropping, Framing, dan Manipulasi Konteks

Manipulasi informasi tidak selalu berbentuk kebohongan. Seringkali yang dilakukan adalah pemotongan konteks (cropping). 

Mike Caulfield dan Sam Wineburg dalam Verified: How to Think Straight, Get Duped Less, and Make Better Decisions about What to Believe Online menjelaskan:

“Sebuah tradisi lama dalam iklan kampanye politik adalah mengambil kutipan dari lawan politik di luar konteksnya dan menyajikannya sebagai keseluruhan cerita… Dengan adanya internet dan penyuntingan video yang murah, apa yang dulunya merupakan wilayah para profesional kini tersedia bagi khalayak luas. Siapa saja dapat memotong video, membingkainya sebagai sebuah kemarahan (outrage), dan membuatnya viral sebelum konteks utuhnya sempat menyusul”.

Caulfield dan Wineburg bahkan merumuskan Hukum Molloy (Molloy’s Law): “Semakin ketat sebuah video dipotong, semakin tidak boleh Anda membagikannya”.

Bahaya lain adalah teknik “Connect My Dots” (Hubungkan Titik-Titikku):

“Kami menyebut teknik ini sebagai ‘Connect My Dots’: Anda merasa seolah-olah sedang membuat gambar sendiri secara langsung dari bukti, tetapi kenyataannya, Anda telah diberi titik-titik untuk dihubungkan dan urutan untuk menghubungkannya. Titik-titik yang tidak sesuai dengan narasi yang dipilih tidak disediakan”.

Kader dakwah harus memahami bahwa potongan informasi dapat benar secara literal tetapi salah secara konteks.

Trace to Context: Jangan Berhenti pada Kutipan

Sebelum menggunakan sebuah quote, kader perlu bertanya: Siapa yang mengatakan? Dalam konteks apa? Apa yang dikatakan sebelum dan sesudahnya? Apakah kutipan mengalami framing?

Caulfield dan Wineburg melalui kerangka SIFT, khususnya langkah T (Trace to context), memberikan pedoman:

“Lacak klaim, kutipan, atau media ke konteks aslinya. Terkadang sumber pertama yang Anda temui tidaklah bagus, tetapi ia menautkan ke tempat ia mendapatkan informasinya. Pergilah ke sumber asli tersebut dan nilai (a) apakah sumber itu bereputasi baik, dan (b) apakah ia benar-benar mendukung pernyataan tersebut”.

Inilah adab dasar seorang penuntut ilmu: jangan menjadikan apa yang pertama kali ditemukan sebagai kebenaran final.

Bahaya Quote Mining

Dalam tradisi keilmuan Islam, kehati-hatian terhadap berita merupakan prinsip yang sangat penting. Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj fi Syarh Shahih Muslim menjelaskan hadis Nabi SAW:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ 

“Cukuplah seseorang dianggap berdusta dengan menceritakan setiap apa yang ia dengar”.

Beliau menegaskan:

“Adapun makna hadis dan riwayat-riwayat dalam bab ini, di dalamnya terdapat peringatan keras (zajr) agar seseorang tidak menceritakan setiap apa yang ia dengar. Sebab, manusia dalam kebiasaannya mendengar perkara yang jujur (benar) dan juga perkara yang dusta (bohong). Jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar, maka sungguh ia telah terjatuh dalam kedustaan; karena ia mengabarkan perkara yang sebenarnya tidak pernah ada”.

Prinsip ini sangat relevan dengan budaya copy-paste. Kader yang menyebarkan kutipan tanpa memeriksa sumber dan konteks dapat menjadi penyebar kesalahpahaman atas nama dakwah.

Fenomena quote mining bahkan lebih berbahaya: seseorang sengaja mencari perkataan ulama yang mendukung pandangannya, lalu mengabaikan penjelasan lain yang tidak sesuai. Ini bukan sekadar kesalahan teknis, tetapi pelanggaran terhadap integritas ilmiah.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari juga mengingatkan:

“Barangsiapa menceritakan suatu hadis yang ia ketahui atau ia duga kuat bahwa hadis itu adalah dusta, maka ia termasuk salah satu dari para pendusta”.

Mengembalikan Adab Ilmiah

Kader dakwah harus meninggalkan budaya cut-paste atau copy-paste dan menghidupkan kembali budaya tahqiq, yaitu verifikasi yang serius. 

Ketika memperoleh sebuah quote, jangan segera membagikannya. Telusuri siapa yang mengatakannya, buka sumber primer, baca konteks sebelum dan sesudahnya, pahami maksudnya, lalu timbang dengan kaidah ilmu.

Tradisi ini sejalan dengan ketelitian ulama, serta metodologi para muhadditsin dalam menjaga keutuhan riwayat. Ilmu tidak boleh diperlakukan sebagai amunisi untuk memenangkan perdebatan.

Kader yang matang bukanlah kader yang paling banyak mengoleksi quotes, melainkan kader yang mampu memahami gagasan secara utuh sebelum menyetujuinya atau menolaknya.

Ditengah banjir informasi, menjaga konteks adalah bagian dari menjaga kebenaran. Sebab, kutipan yang benar dapat menjadi pesan yang salah ketika ditempatkan dalam konteks yang salah. 

Karena itu, merestorasi adab ilmiah dalam mengutip bukan sekadar membangun kecakapan intelektual, tetapi juga menjaga amanah dakwah agar tidak berubah menjadi penyebaran informasi yang menyesatkan.(im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.