Kehilangan Kemampuan Membandingkan Perspektif

by -1537 Views

Kedalaman intelektual (intellectual depth) menuntut kemampuan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang sebelum mengambil kesimpulan. 

Seorang kader dakwah yang matang harus mampu menimbang hujah yang berbeda secara adil, objektif, dan proporsional. 

Namun, ekosistem digital justru mendorong kita masuk ke dalam filter bubble dan ruang gema (echo chamber), sehingga perspektif yang berbeda semakin jarang ditemui.

Akibatnya, kader mudah menganggap pandangannya sendiri sebagai satu-satunya kebenaran, sulit menerima kritik, dan memandang perbedaan sebagai ancaman. Karena itu, kita perlu merestorasi kelenturan kognitif dan adab inshaf sebagai bagian dari integritas intelektual dakwah.

Mengapa Perspektif Penting?

Berpikir kritis tidak berlangsung dalam ruang hampa. Ia membutuhkan keberanian untuk menghadapi sudut pandang yang berbeda. 

Ian Tuhovsky dalam Critical Thinking: Think Clearly in a World of Agendas, Bad Science, and Information Overload menegaskan:

“Melihat dua sisi dari sebuah cerita sangatlah penting karena hal itu memberikan kita perspektif. Seseorang yang Anda anggap suka mengatur (bossy) mungkin saja dipersepsikan oleh orang lain sebagai seorang pemimpin”.

Dalam perspektif Islam, kemampuan menimbang perbedaan secara objektif juga merupakan bagian dari akhlak. Abdurrahman Hasan Habannakah al-Maidani dalam Al-Akhlāq al-Islāmiyyah wa Ususuh menjelaskan:

“Kebaikan moral dan keadilan dalam bertindak hanya bisa dilahirkan dari jiwa yang mampu menimbang kebenaran secara objektif, bebas dari dorongan hawa nafsu dan fanatisme buta yang mengaburkan pandangan akal sehat”.

Syaikh Yusuf al-Qaradawi dalam Aṣ-Ṣaḥwah al-Islāmiyyah Bayna al-Ikhtilāf al-Masyrū’ wa at-Tafarruq al-Madhmūm juga mengingatkan:

“Sesungguhnya perbedaan pendapat dalam masalah cabang (furu’) merupakan suatu keniscayaan (lazimah) dan merupakan rahmat serta kelapangan…”

Karena itu, perbedaan perspektif tidak otomatis berarti perbedaan kebenaran.

Filter Bubble, Echo Chamber, dan Confirmation Bias

Eli Pariser dalam The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You menjelaskan bagaimana algoritma personalisasi membangun dunia informasi yang berbeda bagi setiap orang: “Bersama-sama, mesin-mesin prediksi ini menciptakan sebuah alam semesta informasi yang unik bagi kita masing-masing—apa yang saya sebut sebagai gelembung penyaring (filter bubble)—yang secara mendasar mengubah cara kita menghadapi ide-ide dan informasi”.

Dalam gelembung tersebut, kita semakin jarang bertemu pandangan yang berbeda. Pariser memperingatkan: “Di dalam gelembung penyaring (filter bubble), ruang bagi pertemuan tidak sengaja (chance encounters) yang membawa wawasan dan pembelajaran menjadi semakin sempit… Berdasarkan definisinya, sebuah dunia yang dikonstruksikan sepenuhnya dari hal-hal yang sudah familier adalah sebuah dunia di mana tidak ada lagi hal baru yang bisa dipelajari”.

Tom Nichols dalam The Death of Expertise menambahkan: “Secara daring (online), sebagaimana dalam kehidupan nyata, orang-orang mengelompok ke dalam ruang-ruang gema (echo chambers) kecil, lebih memilih untuk berbicara hanya dengan mereka yang sudah mereka sepakati opini-opininya”.

Situasi ini diperparah oleh confirmation bias. Nichols menyebutnya: “‘Bias konfirmasi’ (confirmation bias) adalah hambatan yang paling umum—dan sangat menyebalkan—bagi percakapan yang produktif… Istilah ini merujuk pada kecenderungan untuk mencari informasi yang hanya memperkuat apa yang sudah kita percayai, menerima fakta-fakta yang memperkokoh penjelasan pilihan kita, dan membuang data yang menantang apa yang sudah kita terima sebagai kebenaran”.

Ian Tuhovsky bahkan menggambarkannya sebagai Yes Man: “Pikirkan bias konfirmasi (confirmation bias) sebagai seorang ‘Asisten Penurut’ (Yes Man)…”

Dari Defensive Thinking menuju Explorative Thinking

Kader yang terjebak dalam filter bubble cenderung menggunakan defensive thinking. Ketika keyakinannya ditantang, ia justru mempertahankan pandangan lama. 

Tuhovsky menjelaskan:

“Hal itu terjadi karena kita berpikir lebih mendalam tentang bukti ketika bukti tersebut bertentangan dengan keyakinan kita… Dalam kasus tertentu di mana keyakinan seseorang ditantang oleh sudut pandang yang saling bertentangan, mereka justru mulai bersandar erat pada keyakinan lama mereka untuk memandu mereka”.

Solusinya adalah explorative thinking. Tuhovsky menegaskan: “Dalam situasi-situasi di mana terdapat peluang untuk mengambil pilihan yang mudah, kita harus secara aktif mengadopsi pendekatan yang lebih sistematis dalam memproses informasi, yang menuntut lebih banyak analisis, sekaligus rasa ingin tahu (curiosity)”.

Kader tidak perlu takut membaca orang yang berbeda pandangan. Justru dari sanalah cakrawala berpikir berkembang.

Steelman Argument dan Inshaf

Salah satu latihan penting adalah steelman argument: membangun versi terbaik dari argumen pihak yang berbeda sebelum membantahnya. 

Tuhovsky menyarankan: “Untuk secara aktif melepaskan diri dari pola pikir Anda yang kaku, tempatkan diri Anda pada posisi orang lain. Bayangkan kehidupan dari sudut pandang yang berbeda, pecahkan gelembung informasi (information bubble) yang selama ini sangat Anda agungkan”.

Ia juga menyarankan: “Dengan mendebat sebuah poin dari sudut ekstrem yang lain, atau dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak menggiring opini, Anda akan menemukan opini yang jauh lebih seimbang”.

Dalam tradisi Islam, sikap ini berdekatan dengan inshaf. Yusuf al-Qaradawi memuji keluasan Imam Asy-Syafi’i: “Dan ini merupakan bagian dari sifat inshaf (keadilan intelektual) Imam Asy-Shafi’i r.a., keluasan ilmunya, serta kelapangan cakrawala berpikirnya”.

Inshaf berarti berani mengakui kebenaran meskipun datang dari pihak yang berbeda.

Membandingkan Sumber dan Melakukan Zoom Out

Kader juga harus membandingkan sumber primer dan sekunder. Jangan menilai suatu pemikiran hanya melalui kritik pihak ketiga.

Pariser mengingatkan: “Sebagaimana yang akan dikatakan oleh ahli statistik mana pun kepada Anda, Anda tidak akan pernah bisa menilai seberapa bias sebuah sampel hanya dengan melihat sampel itu sendiri: Anda membutuhkan sesuatu yang lain sebagai pembanding”.

Karena itu, kita membutuhkan Zoom Out. Jangan mengira beranda media sosial adalah gambaran seluruh realitas. 

Pariser menulis: “Karena filter personalisasi biasanya tidak memiliki fungsi ‘Perkecil’ (Zoom Out), sangat mudah bagi kita untuk kehilangan arah, percaya bahwa dunia ini hanyalah sebuah pulau kecil yang sempit, padahal kenyataannya dunia adalah sebuah benua yang sangat luas dan beragam”.

Kader dakwah harus keluar dari monopoli perspektif. Bacalah sumber primer, pahami argumen lawan secara utuh, uji asumsi sendiri, lalu ambillah kesimpulan dengan inshaf. Dengan demikian, kita bergerak dari defensive thinking menuju explorative thinking: dari menjaga ego menuju mencari kebenaran. 

Inilah jalan menuju kader yang matang fikrahnya, jernih hujahnya, lapang dadanya, dan berwibawa dalam dakwah. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.