Sejarah dakwah para nabi adalah sejarah tentang ujian. Tidak ada seorang nabi pun yang diutus Allah kecuali menghadapi penolakan, keraguan, dan tantangan dari kaumnya. Namun justru melalui ujian itulah kebenaran risalah semakin tampak dan hujjah Allah semakin sempurna.
Diantara episode penting dalam perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ adalah peristiwa ketika kaum musyrikin Quraisy berusaha menguji bahkan menjatuhkan legitimasi kenabian beliau. Mereka mendatangi para rabi Yahudi di Yatsrib (Madinah) untuk mencari pertanyaan-pertanyaan yang dianggap mampu membuktikan apakah Muhammad ﷺ benar seorang nabi atau hanya seorang pendusta.
Peristiwa ini kemudian menjadi sebab turunnya sejumlah ayat dalam Surah Al-Kahfi dan Surah Al-Isra’. Allah menjadikan ujian tersebut bukan sebagai sarana untuk melemahkan Nabi-Nya, melainkan sebagai bukti yang semakin menguatkan kebenaran risalah yang beliau bawa.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
﴿وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا﴾
“Dan katakanlah: Telah datang kebenaran dan telah lenyap kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.” (QS. Al-Isra’: 81)
Para mufassir seperti Ibnu Katsir dan Ath-Thabari menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan sunnatullah yang berlaku sepanjang zaman: ketika hujjah yang benar datang dari Allah, maka kebatilan pada akhirnya tidak akan mampu bertahan.
Antara Sejarah, Dakwah, dan Tazkiyatun Nafs
Buku kecil ini tidak dimaksudkan sekadar mengulang kisah sejarah yang telah banyak dikenal. Tujuan utamanya adalah mengambil ‘ibrah (pelajaran) dari peristiwa tersebut untuk kebutuhan umat Islam masa kini.
Karena itu setiap pembahasan akan dilihat dari tiga sudut pandang sekaligus.
Pertama, sudut pandang sejarah kenabian (ikhtibār an-nubuwwah), yaitu bagaimana Allah membimbing Rasul-Nya menghadapi ujian intelektual yang sangat berat.
Kedua, sudut pandang dakwah. Sebab para pewaris nabi akan selalu menghadapi berbagai bentuk syubhat, tuduhan, propaganda, dan upaya delegitimasi sebagaimana yang dahulu dialami Rasulullah ﷺ.
Ketiga, sudut pandang tazkiyatun nafs. Karena sering kali musuh terbesar manusia bukanlah lawan yang berada di luar dirinya, melainkan penyakit hati yang bersemayam di dalam dirinya sendiri: kesombongan, iri hati, fanatisme, dan kecenderungan mengikuti hawa nafsu.
Imam Abu Hamid Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati yang sakit dapat menghalangi seseorang menerima kebenaran meskipun bukti-buktinya telah nyata di hadapannya. Oleh sebab itu, kajian tentang kenabian tidak boleh berhenti pada aspek intelektual semata, tetapi harus berlanjut kepada proses penyucian jiwa.
Relevansi untuk Umat Hari Ini
Hal yang menarik, pertanyaan yang diajukan kepada Rasulullah ﷺ pada saat itu sesungguhnya mewakili pertanyaan manusia sepanjang zaman. Pertanyaan tentang ruh, sejarah umat terdahulu, kepemimpinan, kekuasaan, sumber ilmu, dan hakikat kebenaran tetap menjadi tema besar peradaban manusia, hingga hari ini.
Al-Qur’an tidak hanya menjawab kebutuhan masyarakat Makkah abad ketujuh, tetapi juga memberikan panduan bagi manusia di setiap zaman.
Allah berfirman:
﴿سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ﴾
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar.” (QS. Fussilat: 53)
Menurut penjelasan para ahli tafsir seperti Fakhruddin Ar-Razi, ayat ini menunjukkan bahwa bukti kebenaran wahyu akan terus tampak seiring perjalanan zaman dan perkembangan pengetahuan manusia.
Melalui buku kecil ini, kita akan menyaksikan bagaimana makar manusia berhadapan dengan hikmah Allah, bagaimana keraguan dikalahkan oleh keyakinan, serta bagaimana ujian justru menjadi sarana penguatan iman.
Semoga pembahasan sederhana ini dapat menambah kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ, memperkuat keyakinan terhadap Al-Qur’an, memperhalus hati dalam perjalanan menuju Allah, serta menumbuhkan semangat ukhuwah dan dakwah yang penuh hikmah.
وَاللّٰهُ الْمُوَفِّقُ إِلَى أَقْوَمِ الطَّرِيقِ
“Dan Allah-lah yang memberi taufik menuju jalan yang paling lurus.” (im)





