Merubah Kembali Budaya Scrolling Menjadi Budaya Tafaqquh

by -1560 Views

Perkembangan teknologi digital merupakan nikmat Allah SWT yang patut disyukuri. Berbagai kemudahan dalam memperoleh informasi telah membuka pintu ilmu yang dahulu sulit dijangkau. 

Sebagaimana setiap nikmat memerlukan hikmah dalam penggunaannya, derasnya arus informasi juga menghadirkan tantangan baru bagi umat. Disinilah Al-Qur’an mengingatkan bahwa yang dibutuhkan seorang mukmin bukan sekadar banyak mengetahui, melainkan memiliki tafaqquh fid din, yaitu pemahaman yang mendalam terhadap agama.

Allah SWT berfirman:

﴿وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ﴾
(QS. At-Taubah [9]: 122)

Menurut penjelasan Imam Ibnu Katsir, Imam al-Qurthubi, Wahbah az-Zuhaili dalam At-Tafsir al-Munir, dan Syaikh Abu Bakr al-Jazairi dalam Aysar at-Tafasir, ayat ini menjadi dasar penting lahirnya sekelompok umat yang mengkhususkan diri untuk mendalami agama, kemudian membimbing masyarakat dengan ilmu yang benar. 

Dari sinilah budaya tafaqquh bermula.

Menyucikan Jiwa dari Budaya Instan

Langkah pertama menuju tafaqquh adalah memperbaiki cara pandang terhadap ilmu. Informasi yang diperoleh melalui media sosial sering kali hanya menyentuh permukaan. Adapun tafaqquh, menurut Syaikh Abu Bakr al-Jazairi, adalah memahami hukum-hukum Allah, halal dan haram, serta hikmah-hikmah syariat secara mendalam.

Bagi seorang muslim, apalagi aktivis dakwah, perlu berhati-hati agar tidak merasa cukup hanya dengan membaca kutipan singkat atau menyaksikan ceramah berdurasi beberapa menit. Pengetahuan yang luas belum tentu melahirkan kebijaksanaan apabila tidak disertai tadabbur dan mujahadah.

Syaikh Sa’id Hawwa dalam Al-Asas fi at-Tafsir juga mengingatkan bahaya penyakit مُبَارَاةٌ فِي الذَّكَاءِ, yaitu kecenderungan mempertontonkan kecerdasan dan pengetahuan demi memperoleh pengakuan manusia. 

Dalam perspektif tasawuf, penyakit ini termasuk hijab hati yang menghalangi keikhlasan. Oleh sebab itu, proses takhliyah—membersihkan hati dari riya’, ujub, dan cinta popularitas—harus mendahului proses memperkaya ilmu.

Kembali kepada Majelis Ilmu dan Tradisi Ulama

Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan belajar, tetapi juga mengajarkan pembagian peran dalam membangun peradaban. Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa sebagian umat berjihad di medan amal, sementara sebagian lainnya berjihad menjaga ilmu dan akidah. Keduanya saling melengkapi, bukan saling menggantikan.

Tidak semua muslim, aktivis dakwah, harus terus berlari mengikuti arus informasi. Ada kalanya seseorang mengambil peran untuk memperdalam ilmu melalui majelis, halaqah, dan talaqqi bersama para guru. 

Syaikh Sa’id Hawwa menegaskan bahwa ilmu tidak hanya dipindahkan melalui teks, tetapi juga melalui keteladanan dan adab yang diwariskan dari guru kepada murid. Inilah yang menjaga keberkahan ilmu sekaligus menyambungkan sanad keilmuan umat.

Di samping itu, budaya membaca kitab-kitab para ulama hendaknya kembali dihidupkan. Jangan sampai waktu berjam-jam habis untuk membaca pesan singkat, sementara beberapa halaman kitab terasa begitu berat. 

Pepatah Arab mengatakan:

مَنْ كَثُرَتْ مُطَالَعَتُهُ كَثُرَتْ مَعْلُومَاتُهُ

“Siapa yang banyak membaca, akan semakin luas pengetahuannya.”

Namun, membaca saja belum cukup. Ilmu perlu diikat dengan tulisan. Walaupun hadis «قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ» (“Ikatlah ilmu dengan tulisan.”) diperselisihkan derajatnya oleh para ulama hadis, maknanya didukung oleh praktik para sahabat dan tradisi para ulama yang tekun mencatat, menyusun kitab, dan mewariskan ilmu kepada generasi berikutnya.

Membangun Ekosistem Tafaqquh

Transformasi dari budaya scrolling menuju tafaqquh tidak cukup dilakukan secara individual. Komunitas dakwah perlu menghadirkan lingkungan yang menumbuhkan kecintaan kepada ilmu. 

Halaqah Al-Qur’an, kelas kitab, perpustakaan, klub membaca, dan forum diskusi ilmiah merupakan bagian dari ikhtiar membangun peradaban ilmu sebagaimana dicontohkan generasi salaf.

Tujuan akhirnya bukan sekadar melahirkan orang yang banyak mengetahui, tetapi melahirkan hamba Rabbani yang ilmunya menghadirkan ketundukan kepada Allah, kelembutan kepada sesama, dan manfaat bagi umat. 

Ilmu yang sejati selalu melahirkan tawadhu’. Semakin dekat seseorang kepada Allah melalui ilmunya, semakin ia menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang penuntut ilmu yang terus membutuhkan petunjuk-Nya.

Ditengah derasnya arus digital, marilah kita menjadikan teknologi sebagai wasilah, bukan tujuan. Kita gunakan media untuk menyebarkan kebaikan, tetapi kita tetap membangun kedalaman jiwa melalui tafaqquh, tazkiyatun nafs, dan majelis ilmu. Dengan demikian, lahirlah generasi yang kokoh ilmunya, bersih hatinya, serta mampu menjaga persatuan umat dengan hikmah dan kasih sayang. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.