Peradaban Islam Dibangun dengan Pena

by -1732 Views

Peradaban Islam tidak lahir hanya dari keberanian para mujahid di medan perjuangan, tetapi juga dari kesungguhan para ulama yang menghidupkan malam-malam mereka bersama kitab dan pena. 

Ketika Allah menghendaki lahirnya sebuah umat yang memimpin peradaban, wahyu pertama yang diturunkan bukanlah perintah untuk berbicara, apalagi seruan berperang, melainkan perintah untuk membaca.

Iqra’: Membaca sebagai Jalan Tafaqquh

Allah SWT berfirman:

﴿اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ﴾

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1)

Menurut penjelasan Imam Ibnu Katsir dan Syaikh Wahbah az-Zuhaili, perintah اقرأ bukan sekadar membaca teks, tetapi membaca ayat-ayat Allah, membaca kehidupan, dan membaca tanda-tanda kebesaran-Nya dengan hati yang dipenuhi keimanan. 

Dari sinilah lahir tafaqquh, yaitu pemahaman yang mendalam terhadap agama.

Syaikh Abu Bakr al-Jaza’iri dalam Aysar al-Tafāsīr menjelaskan bahwa tafaqquh fid din bertujuan agar seorang mukmin memahami hukum-hukum Allah, mengenali halal dan haram, serta menyelami hikmah dan rahasia syariat. Membaca adalah pintu masuk, sedangkan tafaqquh adalah tujuan yang hendak dicapai.

Dalam perspektif tasawuf, membaca juga merupakan latihan kerendahan hati. Semakin luas ilmu seseorang, semakin ia menyadari betapa sedikit yang telah diketahuinya. Sebagaimana ungkapan para ulama:

مَنْ ازْدَادَ عِلْمًا ازْدَادَ تَوَاضُعًا

“Siapa yang bertambah ilmunya, hendaklah bertambah pula kerendahan hatinya.”

Nun wal Qalam: Pena Penjaga Peradaban

Allah SWT juga mengabadikan kemuliaan pena dalam firman-Nya:

﴿ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ﴾

“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” (QS. Al-Qalam [68]: 1)

Menurut Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Mafātīḥ al-Ghayb dan Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam Al-Tafsīr al-Munīr, sumpah Allah atas pena menunjukkan kedudukan ilmu tulis sebagai salah satu fondasi tegaknya peradaban manusia. Pena menjadi sarana menjaga wahyu, menyebarkan hikmah, dan mewariskan ilmu lintas generasi.

Tradisi ini diwariskan oleh Rasulullah ﷺ kepada para sahabat. Beliau bersabda:

«قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ»

“Ikatlah ilmu dengan tulisan.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Abdullah ibn Amr ibn al-As melalui beberapa jalur dan dinilai hasan oleh sejumlah ulama hadis, di antaranya Jalaluddin as-Suyuthi dalam Al-Jāmi’ aṣ-Ṣaghīr

Pesan hadis ini sangat jelas: ilmu yang tidak dicatat akan mudah hilang, sedangkan ilmu yang ditulis akan terus memberi manfaat meskipun penulisnya telah tiada.

Tidak mengherankan apabila para ulama klasik meninggalkan ribuan karya yang hingga kini masih menjadi rujukan umat. Mereka membaca dengan tekun, kemudian menuliskan hasil perenungannya sebagai bentuk amanah ilmiah.

Dari Budaya Kitab Menuju Budaya Gawai

Disinilah kita perlu melakukan muhasabah bersama. Kemajuan teknologi merupakan nikmat Allah yang patut disyukuri. Media digital dapat menjadi sarana dakwah yang sangat bermanfaat apabila digunakan secara bijaksana. Namun, tantangan muncul ketika budaya membaca mendalam perlahan digantikan oleh kebiasaan mengonsumsi informasi secara instan.

Hari ini, tidak sedikit aktivis yang setiap hari membaca ratusan pesan di berbagai grup media sosial, tetapi sangat sedikit waktu yang disediakan untuk membaca Al-Qur’an, kitab tafsir, hadis, ataupun karya para ulama. Akibatnya, informasi bertambah, tetapi kedalaman ilmu tidak selalu ikut bertumbuh.

Padahal, Syaikh Sa’id Hawwa dalam Al-Asās fi al-Tafsīr menjelaskan bahwa seorang Rabbani adalah orang yang menjaga wahyu melalui proses belajar, mengamalkan, dan mengajarkannya kepada masyarakat. Menulis menjadi bagian dari amanah tersebut, karena dengan tulisan ilmu dapat melintasi ruang dan waktu.

Oleh sebab itu, marilah kita menghidupkan kembali budaya literasi Islam. Biasakan membaca kitab-kitab induk para ulama, mencatat faedah ilmu, menulis hasil tadabbur, dan mendokumentasikan pengalaman dakwah. 

Jika dahulu para ulama membangun peradaban dengan tinta di atas lembaran kertas, maka hari ini kita dapat memanfaatkan berbagai media untuk tujuan yang sama, yaitu menjaga ilmu agar tetap hidup dan menjadi cahaya bagi umat.

Perjalanan tafaqquh fid din tidak berhenti ketika seseorang selesai membaca. Ia mencapai kesempurnaannya ketika ilmu yang dipahami dituliskan, diwariskan, lalu menjadi jalan hadirnya generasi yang semakin dekat kepada Allah Subḥānahu wa Ta’ālā.(im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.