Syahwat Eksistensi: Ketika Pengakuan Manusia Mengalahkan Keikhlasan

by -1520 Views

Dalam khazanah tazkiyatun nafs, para ulama memandang lisan bukan sekadar alat komunikasi, tetapi jendela yang memperlihatkan keadaan hati. Apa yang terus-menerus diucapkan seseorang seringkali menunjukkan apa yang paling dicintainya. 

Pada era media sosial, lisan tidak hanya hadir dalam bentuk ucapan, tetapi juga tulisan, unggahan, komentar, dan berbagai bentuk ekspresi digital. Disinilah muncul fenomena yang dapat disebut sebagai syahwat eksistensi: dorongan untuk terus terlihat, diakui, dan memperoleh perhatian manusia.

Fenomena ini bukanlah penyakit baru. Yang berubah hanyalah medianya. Jika dahulu seseorang mencari pujian di hadapan sekelompok kecil manusia, kini ia dapat mencarinya di hadapan jutaan orang melalui sebuah layar.

Antara Performa Diri dan Riya’

Sherry Turkle dalam Reclaiming Conversation menjelaskan bahwa media sosial mendorong manusia membangun aspirational self, yaitu citra diri yang ingin dilihat orang lain. Seseorang tidak lagi sekadar menunjukkan siapa dirinya, tetapi sibuk membentuk siapa yang ingin dipersepsikan oleh publik. 

Dalam kondisi ini, identitas mudah berubah menjadi sebuah pertunjukan.

Islam telah lama mengingatkan bahaya orientasi semacam itu. Allah Ta’ala berfirman,

﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi [18]: 110).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan landasan utama keikhlasan. Amal yang diterima adalah amal yang benar sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ dan dilakukan semata-mata karena Allah, bukan untuk mencari pujian manusia. Imam al-Qurthubi juga menerangkan bahwa ayat ini menjadi dalil tentang tercelanya riya’, yaitu menjadikan pandangan manusia sebagai tujuan amal.

Al-Harits al-Muhasibi dalam Ar-Ri’ayah li Huquqillah menguraikan bahwa riya’ lahir ketika hati merasa belum cukup dengan penilaian Allah sehingga masih mencari penghargaan dari makhluk. Semakin besar ketergantungan hati kepada pujian manusia, semakin lemah ketenangannya di hadapan Allah.

Hasrat Menjadi Viral

Budaya digital melahirkan ukuran-ukuran baru tentang keberhasilan: jumlah pengikut, tanda suka, dan banyaknya orang yang membagikan sebuah unggahan. Turkle bahkan menggambarkan paradigma modern dengan ungkapan, “I share, therefore I am.” Seseorang merasa keberadaannya diakui ketika ia terus membagikan kehidupannya kepada publik.

Dalam perspektif Islam, kondisi ini mengingatkan pada penyakit حب الجاه (hubb al-jāh), yaitu kecintaan berlebihan terhadap kedudukan dan popularitas. Ibnul Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan dalam pembahasan Zād al-Ma‘ād dan karya-karyanya tentang madārij as-sālikīn bahwa hati yang dipenuhi ambisi mencari kemasyhuran akan sulit menikmati keikhlasan. Beliau juga menjelaskan bahwa فضول الكلام (fudhūl al-kalām), yakni berbicara melebihi kebutuhan, termasuk perkara yang merusak kelembutan hati dan menghalangi perjalanan menuju Allah.

Popularitas pada dirinya bukanlah sesuatu yang tercela. Hal yang berbahaya adalah ketika popularitas menjadi tujuan, sedangkan ridha Allah berubah menjadi sarana.

Belajar Menikmati Kesunyian

Rasulullah ﷺ bersabda,

«مَنْ صَمَتَ نَجَا»

“Barang siapa mampu menjaga diamnya, maka ia akan selamat.” (HR. at-Tirmidzi no. 2501). 

Sherry Turkle menunjukkan bahwa manusia modern semakin kehilangan kemampuan menikmati kesendirian. Padahal, menurutnya, seseorang baru mampu membangun hubungan yang sehat dengan orang lain apabila ia terlebih dahulu mampu berdamai dengan dirinya sendiri.

Tradisi tasawuf sejak masa awal telah mengenal konsep الخلوة (khalwah), bukan sebagai pelarian dari masyarakat, tetapi sebagai sarana membersihkan hati dari ketergantungan kepada penilaian manusia. 

Al-Muhasibi menjadikan muhasabah, muraqabah, dan khalwah sebagai jalan untuk mengembalikan orientasi hati hanya kepada Allah.

Mengembalikan Nilai Diri kepada Allah

Syahwat eksistensi pada hakikatnya bukan sekadar persoalan media sosial, tetapi persoalan orientasi hati. Semakin seseorang menggantungkan harga dirinya kepada komentar manusia, semakin rapuh ketenangan batinnya. 

Sebaliknya, ketika seseorang meyakini bahwa kemuliaan sejati berada di sisi Allah, ia tidak lagi merasa harus hadir dalam setiap perdebatan atau mengomentari setiap peristiwa.

Seorang da’i, penuntut ilmu, maupun setiap Muslim hendaknya menjadikan media digital sebagai wasilah menyebarkan manfaat, bukan sebagai panggung pencarian pengakuan. Mujahadah terbesar pada zaman ini mungkin bukan sekadar menahan lisan dari ucapan yang buruk, tetapi juga menahan hati dari keinginan untuk selalu dilihat. Sebab, hati yang ikhlas akan lebih sibuk mencari ridha Allah daripada mengejar tepuk tangan manusia. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.