Dibalik kemudahan media sosial tersimpan sebuah kenyataan yang sering luput dari perhatian. Hal yang diperebutkan oleh berbagai platform digital bukan semata-mata data pribadi, melainkan perhatian manusia.
Setiap notifikasi, tanda like, komentar, dan share dirancang agar pengguna terus kembali membuka aplikasi. Dalam konteks ini, keinginan untuk terus berbicara di ruang digital bukan sekadar persoalan kebiasaan, tetapi juga dipengaruhi oleh desain teknologi yang memanfaatkan mekanisme psikologis manusia.
Adam Alter dalam Irresistible menjelaskan bahwa tombol like mengubah media sosial dari ruang berbagi menjadi sistem penghargaan yang bersifat tidak terduga (variable reward). Ketika seseorang mengunggah sebuah tulisan, ia tidak mengetahui berapa banyak respons yang akan diterima. Justru ketidakpastian itulah yang mendorong otak terus menantikan notifikasi berikutnya.
Dari sudut pandang ilmu saraf, pengalaman tersebut berkaitan dengan pelepasan dopamin yang memberikan sensasi menyenangkan sehingga mendorong seseorang mengulangi perilaku yang sama.
Ketika Pujian Menjadi Tujuan
Islam tidak menolak penghargaan yang datang secara alami dari manusia. Akan tetapi, syariat mengingatkan agar hati tidak menjadikan pujian sebagai tujuan amal.
Allah Ta’ala berfirman,
﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ﴾
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 5).
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan dasar agung tentang keikhlasan. Seluruh amal hendaknya dibangun atas niat mencari ridha Allah semata, bukan mencari sanjungan manusia. Senada dengan itu, Imam al-Qurthubi menegaskan bahwa keikhlasan adalah lawan dari riya’, yaitu menjadikan pandangan manusia sebagai orientasi amal.
Dalam dunia digital, ukuran keberhasilan sering bergeser menjadi banyaknya like, share, atau jumlah follower. Padahal, ukuran tersebut tidak selalu mencerminkan nilai suatu amal di sisi Allah.
Ekonomi Perhatian dan Ujian Keikhlasan
Claudio Celis Bueno dalam The Attention Economy menjelaskan bahwa perhatian manusia telah menjadi komoditas ekonomi. Aktivitas sederhana seperti memberi like, membagikan tulisan, atau mengomentari sebuah unggahan menghasilkan data yang bernilai bagi perusahaan teknologi. Dengan kata lain, semakin lama seseorang bertahan di dalam platform digital, semakin besar keuntungan yang dihasilkan oleh sistem tersebut.
Fenomena ini menjelaskan mengapa algoritma cenderung mendorong pengguna agar terus berbicara. Diam tidak menghasilkan interaksi, sedangkan komentar dan perdebatan justru memperpanjang waktu penggunaan aplikasi.
Dari perspektif tazkiyatun nafs, keadaan ini merupakan medan mujahadah. Said Hawwa dalam Al-Mustakhlash fi Tazkiyat al-Anfus menegaskan bahwa menjaga lisan termasuk bagian penting dari penyucian jiwa. Beliau mengingatkan agar seorang Muslim menjauhkan lisannya dari الهَذَيَان (al-hadhayān), yaitu pembicaraan yang sia-sia, serta dari ghibah, namimah, dusta, dan perdebatan yang tidak membawa manfaat.
Semakin hati bergantung kepada penghargaan manusia, semakin sulit ia merasakan manisnya keikhlasan.
Mengendalikan Dopamin dengan Mujahadah
Rasulullah ﷺ bersabda,
«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47).
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini merupakan kaidah universal dalam menjaga lisan. Setiap ucapan hendaknya diukur berdasarkan maslahatnya. Jika tidak membawa kebaikan, maka diam lebih utama.
Dalam konteks media sosial, hadis ini mengajarkan bahwa tidak setiap dorongan untuk mengunggah sesuatu harus diikuti. Keinginan memperoleh respons seringkali hanyalah reaksi sesaat dari mekanisme biologis, sedangkan dampak ucapan dapat bertahan jauh lebih lama.
Para ulama tasawuf mengajarkan bahwa mujahadah dimulai dari kemampuan menunda dorongan nafsu. Ketika seorang Muslim mampu menahan diri untuk tidak segera membalas komentar, tidak tergesa-gesa mengunggah sesuatu, atau tidak terpancing mengejar popularitas, sesungguhnya ia sedang melatih hatinya agar lebih bergantung kepada Allah daripada kepada penilaian manusia.
Menjadikan Media sebagai Sarana, Bukan Tujuan
Media sosial pada hakikatnya hanyalah alat. Ia dapat menjadi wasilah dakwah, silaturahim, dan penyebaran ilmu apabila digunakan dengan niat yang benar. Sebaliknya, ia dapat berubah menjadi ladang riya’ apabila hati menjadikan perhatian manusia sebagai sumber kebahagiaan.
Karena itu, mujahadah pada zaman digital bukan hanya mengurangi waktu di depan layar, tetapi juga membersihkan orientasi hati. Seorang mukmin tidak mengukur nilai dirinya dari banyaknya like, melainkan dari sejauh mana Allah menerima amalnya. Ketika hati kembali kepada keikhlasan, maka jempol yang mengetik dan lisan yang berbicara pun akan lebih mudah berada dalam kendali iman. (im)





