Allah Swt. berfirman:
﴿وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ﴾
“Tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perjuangan). Mengapa tidak pergi dari setiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga diri.” (QS. At-Taubah [9]: 122)
Menurut Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim dan Wahbah az-Zuhaili dalam Al-Tafsir al-Munir, ayat ini bukan sekadar memerintahkan belajar, tetapi membangun sistem kaderisasi umat.
Sebagian bergerak menjaga keamanan umat, sementara sebagian lainnya menetap untuk menjaga warisan ilmu. Dari sinilah lahir keseimbangan antara amal dan ilmu, antara gerakan dan hikmah.
Di zaman digital, ketika ceramah dapat diakses melalui YouTube, podcast, atau bahkan diringkas oleh kecerdasan buatan (AI), muncul pertanyaan: apakah majelis taklim masih diperlukan?
Jawabannya jelas: lebih diperlukan daripada sebelumnya.
Ilmu Tidak Hanya Dipelajari, Tetapi Diwariskan
Teknologi mampu memindahkan informasi, tetapi tidak mampu memindahkan adab.
Dalam tradisi Islam, ilmu diwariskan melalui talaqqi, yaitu belajar langsung kepada guru. Rasulullah ﷺ mendidik para sahabat bukan hanya dengan menyampaikan materi, tetapi juga dengan membentuk akhlak, cara berpikir, dan kejernihan hati.
Allah berfirman:
﴿لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ﴾
“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)
Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan pentingnya belajar melalui keteladanan (uswah), karena sebagian besar pendidikan berlangsung melalui contoh nyata, bukan sekadar penjelasan lisan.
Syaikh Sa’id Hawwa dalam Al-Asas fi al-Tafsir juga menegaskan bahwa proses tafaqquh bukan hanya penguasaan informasi, tetapi proses pembentukan hamba Rabbani, yakni pribadi yang ilmunya menyatu dengan amal, akhlak, dan keikhlasan.
Di dalam majelis ilmu, seorang murid tidak hanya mendengar jawaban, tetapi juga menyaksikan bagaimana gurunya bersikap ketika berbeda pendapat, bagaimana beliau menjaga lisannya, serta bagaimana beliau memuliakan Al-Qur’an dan sunnah. Semua itu tidak dapat ditransmisikan melalui layar.
Keberkahan Guru dan Ruang Dialog
Ulama salaf memiliki sebuah ungkapan yang sangat masyhur:
مَنْ كَانَ شَيْخُهُ كِتَابَهُ، كَانَ خَطَؤُهُ أَكْثَرَ مِنْ صَوَابِهِ
“Barang siapa gurunya hanyalah buku, maka kesalahannya lebih banyak daripada benarnya.”
Ungkapan ini bukan merendahkan buku, melainkan menegaskan pentingnya bimbingan guru agar pemahaman tetap berada pada jalur yang benar.
Majelis taklim juga menyediakan ruang dialog. Disana seseorang dapat bertanya, meluruskan pemahaman, bahkan mengoreksi dirinya.
Syaikh Abu Bakr al-Jaza’iri dalam Aysar al-Tafasir menjelaskan bahwa makna لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ adalah memahami hukum-hukum Allah, halal dan haram, serta hikmah syariat secara mendalam. Kedalaman seperti ini lahir melalui proses bertanya, berdiskusi, dan bermulazamah dengan para ulama.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
إِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ
“Sesungguhnya obat kebodohan adalah bertanya.” (HR. Abu Dawud)
Hadis ini menunjukkan bahwa dialog merupakan bagian dari metode pendidikan Islam.
Memadukan Teknologi dengan Majelis Ilmu
Teknologi adalah nikmat Allah yang patut disyukuri. Ceramah online, perpustakaan digital, maupun AI dapat menjadi sarana memperluas akses ilmu. Namun semuanya sebaiknya diposisikan sebagai pelengkap, bukan pengganti majelis taklim.
Tasawuf mengajarkan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang melahirkan khusyuk, tawadhu‘, dan mahabbah kepada Allah. Imam Ibn ‘Athaillah as-Sakandari mengingatkan:
رُبَّ عِلْمٍ أَوْرَثَكَ الِاعْتِرَاضَ، وَرُبَّ جَهْلٍ أَوْرَثَكَ الِانْقِيَادَ
“Betapa banyak ilmu yang justru melahirkan sikap membangkang, dan betapa ada ketidaktahuan yang mengantarkan seseorang kepada kepatuhan.”
Maksudnya, ilmu yang tidak disertai tazkiyatun nafs dapat berubah menjadi kesombongan intelektual. Karena itu, kehadiran di majelis taklim menjadi sarana untuk menjaga hati tetap rendah, membuka ruang musyawarah, serta memperkuat ukhuwah di antara kaum muslimin.
Majelis taklim bukan hanya tempat memperoleh jawaban, tetapi tempat menumbuhkan karakter. Di sanalah ilmu memperoleh ruhnya, adab menemukan rumahnya, dan keberkahan mengalir dari guru kepada murid. Peradaban Islam yang agung tidak lahir dari layar-layar digital, melainkan dari hati-hati yang dipertemukan dalam majelis ilmu yang ikhlas karena Allah SWT. (im)





