Bagaimana Membangun Ekosistem Tafaqquh

by -1762 Views

Allah SWT berfirman:

﴿وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ﴾

“Tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu pergi semuanya. Mengapa tidak pergi dari setiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga diri.” (QS. At-Taubah [9]: 122)

Menurut Imam Ibnu Katsir dan Wahbah az-Zuhaili dalam Al-Tafsir al-Munir, ayat ini bukan hanya berbicara tentang kewajiban menuntut ilmu, tetapi juga tentang pentingnya membangun sistem pendidikan umat yang berkelanjutan. 

Ilmu harus dijaga melalui institusi, tradisi, dan kaderisasi yang terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Membangun Budaya, Bukan Sekadar Menyelenggarakan Event

Salah satu kelemahan dakwah di era modern adalah terlalu bergantung pada kegiatan yang bersifat sesaat. Seminar, tabligh akbar, atau pelatihan tentu memiliki manfaat, tetapi peradaban tidak dibangun oleh satu atau dua kegiatan. Peradaban lahir dari kebiasaan yang terus dipelihara.

Dalam bahasa Arab terdapat ungkapan yang indah:

مَنْ ثَبَتَ نَبَتَ

“Siapa yang istiqamah, dialah yang akan bertumbuh.”

Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya agenda tahunan, melainkan budaya belajar yang berlangsung sepanjang waktu.

Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa pembagian tugas dalam QS. At-Taubah ayat 122 menunjukkan adanya organisasi umat yang kokoh. Sebagian menjaga keamanan masyarakat, sementara sebagian lainnya mengabdikan dirinya untuk menjaga ilmu dan akidah. 

Dengan demikian, membangun ekosistem tafaqquh merupakan bagian dari menjaga kekuatan umat secara menyeluruh.

Menghidupkan Kembali Rumah-Rumah Ilmu

Ekosistem tafaqquh memerlukan wadah-wadah yang hidup dan saling menguatkan. Di antaranya adalah halaqah, daurah, kelas kitab, forum diskusi, perpustakaan, klub membaca, sekolah kader, serta komunitas menulis.

Syaikh Abu Bakr al-Jaza’iri dalam Aysar al-Tafasir menjelaskan bahwa makna التفقه في الدين bukan sekadar mengetahui hukum-hukum syariat, tetapi memahami hikmah, tujuan, serta rahasia-rahasia syariat secara mendalam. Kedalaman seperti ini hanya dapat dicapai melalui proses belajar yang teratur dan berkesinambungan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”

(HR. Muslim no. 2699)

Imam an-Nawawi ketika mensyarah hadis ini menjelaskan bahwa “jalan” mencakup perjalanan fisik menuju majelis ilmu maupun seluruh ikhtiar yang dilakukan untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat.

Sekolah Kader dan Tradisi Literasi

Syaikh Sa’id Hawwa dalam Al-Asas fi al-Tafsir menegaskan bahwa mereka yang bertafaqquh dipersiapkan menjadi Rabbaniyyun, yaitu manusia yang menjaga wahyu, mengamalkannya, kemudian membimbing masyarakat dengan penuh hikmah.

Karena itu, sekolah kader tidak boleh hanya menghasilkan aktivis yang pandai berbicara, tetapi harus melahirkan pribadi yang kuat ruhiyahnya, luas ilmunya, serta lembut akhlaknya.

Ekosistem tersebut juga membutuhkan budaya literasi. Perpustakaan bukan sekadar ruang penyimpanan buku, melainkan tempat bertemunya pikiran para ulama lintas zaman. Klub membaca membiasakan umat berdialog dengan karya-karya besar Islam. Komunitas menulis melatih kader untuk mengolah ilmu menjadi gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Imam Abdullah bin al-Mubarak pernah berkata:

لَا يَزَالُ الْمَرْءُ عَالِمًا مَا طَلَبَ الْعِلْمَ، فَإِذَا ظَنَّ أَنَّهُ قَدْ عَلِمَ فَقَدْ جَهِلَ

“Seseorang akan tetap menjadi orang berilmu selama ia terus mencari ilmu. Ketika ia merasa telah cukup berilmu, saat itulah sesungguhnya ia mulai menjadi bodoh.”

Ungkapan ini mengingatkan bahwa budaya ilmu harus dipelihara melalui kerendahan hati.

Ekosistem yang Melahirkan Umat Rabbani

Forum diskusi yang sehat, halaqah yang rutin, kelas kitab yang berkesinambungan, perpustakaan yang hidup, dan tradisi menulis yang produktif akan melahirkan masyarakat yang memiliki sifat يَحْذَرُونَ (yahdzarun), yaitu masyarakat yang waspada terhadap penyimpangan akidah, akhlak, maupun pemikiran.

Dalam perspektif tasawuf, lingkungan yang baik juga menjadi sarana tazkiyatun nafs. Hati manusia mudah berubah. Karena itu ia membutuhkan sahabat yang saleh, guru yang membimbing, dan majelis yang senantiasa mengingatkan kepada Allah. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan:

الصَّاحِبُ سَاحِبٌ

“Seorang sahabat akan menarik sahabatnya ke arah yang ia tempuh.”

Membangun ekosistem tafaqquh pada hakikatnya adalah membangun rumah besar bagi tumbuhnya ilmu, adab, ukhuwah, dan keikhlasan. Inilah investasi jangka panjang bagi kebangkitan umat. 

Peradaban Islam tidak dibangun oleh keramaian sesaat, melainkan oleh budaya ilmu yang diwariskan dengan sabar, dijaga dengan istiqamah, dan dihidupkan dengan hati yang selalu terpaut kepada Allah SWT. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.