Menganggap Informasi Viral sebagai Informasi Penting

by -1541 Views

Di era digital, kita hidup dalam suasana yang hampir tidak pernah sepi dari sesuatu yang sedang ramai dibicarakan. Setiap hari ada topik yang menjadi trending, video yang ditonton jutaan kali, unggahan yang dibagikan ribuan orang, atau peristiwa yang memenuhi percakapan di media sosial.

Keadaan ini secara perlahan dapat membentuk cara kita menentukan sesuatu yang dianggap penting.

Sesuatu yang banyak dibicarakan terasa penting. Sesuatu yang banyak dibagikan terasa relevan. Sesuatu yang memperoleh banyak like terasa layak diperhatikan. Sebaliknya, persoalan yang tidak viral mudah dianggap tidak penting, meskipun sesungguhnya memiliki dampak yang jauh lebih besar bagi umat.

Inilah salah satu jebakan serius bagi aktivis dakwah: menggunakan popularitas sebagai ukuran relevansi. Padahal, viralitas bukan ukuran kebenaran dan bukan pula ukuran kepentingan strategis.

Daniel J. Levitin dalam The Organized Mind mengingatkan: “Otak kita memang memiliki kemampuan untuk memproses informasi yang kita terima, tetapi ada harganya: Kita bisa kesulitan memisahkan hal sepele dari hal penting, dan semua pemrosesan informasi ini membuat kita lelah.”

Dalam kondisi informasi yang begitu melimpah, kemampuan membedakan mana yang penting dan mana yang sekadar menarik menjadi semakin sulit.

Seorang kader dapat menghabiskan satu jam mengikuti perdebatan yang sedang viral, tetapi tidak memiliki waktu membaca buku yang mendukung kapasitas keilmuannya. Ia dapat mengetahui perkembangan terbaru seorang tokoh di media sosial, tetapi tidak mengetahui persoalan pendidikan umat di lingkungannya. Ia dapat mengikuti ribuan komentar tentang sebuah isu, tetapi tidak pernah bertanya apakah isu tersebut benar-benar berkaitan dengan prioritas dakwahnya.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Apakah yang viral selalu penting?

Tentu tidak.

Ketika Banyak Orang Menyukai Sesuatu, Kita Menganggapnya Benar

Salah satu mekanisme psikologis yang membuat manusia mudah tertarik kepada sesuatu yang viral adalah social proof—kecenderungan menganggap sesuatu lebih benar, lebih baik, atau lebih layak diikuti karena banyak orang mengikutinya.

Ian Tuhovsky dalam Critical Thinking menjelaskan: “Kita percaya sebuah ide menjadi lebih baik jika lebih banyak orang mengikutinya… Fenomena ini begitu tertanam kuat dalam pikiran kita sehingga banyak perusahaan menumbuhkan angka mereka dengan membayar pengikut palsu (fake followers) agar terlihat seolah-olah ada daya tarik yang lebih besar dari yang sebenarnya.”

Ini merupakan pelajaran penting.

Jumlah pengikut bukan ukuran kebenaran. Jumlah like bukan ukuran kualitas. Jumlah share bukan ukuran urgensi. Jumlah komentar bukan ukuran kedalaman pemikiran.

Namun, algoritma digital sering membuat kita merasa sebaliknya.

Sebuah konten yang memperoleh jutaan penonton tampak seolah-olah jauh lebih penting daripada kajian yang hanya ditonton beberapa ratus orang. Sebuah pernyataan yang menjadi trending topic terasa lebih mendesak daripada persoalan masyarakat yang tidak pernah masuk daftar tren.

Padahal bisa jadi yang terjadi hanyalah perbedaan kemampuan sebuah konten dalam menarik perhatian.

Popularitas dan kebenaran adalah dua perkara yang berbeda.

Algoritma Tidak Dirancang untuk Menentukan Prioritas Dakwah

Kita perlu memahami bagaimana lingkungan digital bekerja.

Algoritma media sosial pada dasarnya berusaha mempertahankan perhatian pengguna. Konten yang mampu menimbulkan reaksi emosional kuat cenderung lebih mudah mendapatkan perhatian dan interaksi.

Eli Pariser dalam The Filter Bubble mencatat: “Cerita-cerita emosional adalah cerita yang umumnya berkembang biak dalam gelembung filter… cerita yang membangkitkan perasaan kuat—kekaguman, kecemasan, kemarahan, kebahagiaan—jauh lebih mungkin untuk dibagikan.”

Artinya, sesuatu bisa menjadi viral bukan karena ia paling penting, melainkan karena ia paling mampu memancing emosi.

Berita yang membuat marah lebih mudah dibagikan. Konten yang menimbulkan ketakutan lebih mudah menarik perhatian. Pernyataan yang memancing pertengkaran (kontroversial) lebih mudah mendapatkan komentar. Konten yang membangkitkan rasa kagum lebih mudah disebarkan.

Sementara itu, persoalan yang membutuhkan ketenangan, penelitian, dan perhatian panjang seringkali tidak mendapatkan perhatian sebesar itu.

Maka seorang kader harus memahami satu hal: Apa yang paling ramai belum tentu apa yang paling penting.

Bahkan bisa jadi sebaliknya.

Hal-hal yang paling strategis bagi umat seringkali justru tidak viral.

Ketika Afirmasi Mengalahkan Kebenaran

Persoalan menjadi semakin rumit karena ekosistem media modern memiliki insentif ekonomi yang kuat untuk mempertahankan perhatian.

Clay A. Johnson dalam The Information Diet menegaskan: “Perusahaan media belajar bahwa afirmasi menjual jauh lebih baik daripada informasi. Siapa yang mau mendengar kebenaran ketika mereka bisa mendengar bahwa mereka benar?”

Kalimat ini seharusnya menjadi bahan muhasabah bagi setiap aktivis dakwah.

Kadang kita tidak mencari informasi untuk mengetahui kebenaran. Kita mencari informasi untuk membenarkan apa yang sudah kita yakini.

Ketika menemukan berita yang mendukung pandangan kita, kita segera membagikannya.  Ketika menemukan informasi yang menyerang kelompok yang tidak kita sukai, kita merasa puas.

Sebaliknya, ketika menemukan informasi yang mengoreksi pandangan kita sendiri, kita cenderung mencari alasan untuk menolaknya.

Disinilah persoalan informasi bertemu dengan tazkiyatun nafs.

Seorang aktivis dakwah harus berhati-hati agar kecintaannya kepada suatu pandangan tidak berubah menjadi keengganan menerima kebenaran.

Seorang mukmin seharusnya mencintai kebenaran lebih daripada mencintai kemenangan pendapatnya sendiri. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.