Ketika Searching dan Googling Disetarakan Dengan Taklim

by -1550 Views

Ada sebuah perubahan besar dalam cara manusia belajar yang terjadi tanpa banyak disadari.

Dahulu, seseorang yang ingin mengetahui sesuatu harus menempuh perjalanan. Ia mencari guru, membaca kitab, membuka perpustakaan, mencatat, bertanya, berdiskusi, mengulang pelajaran, dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit.

Hari ini, hampir semuanya dapat dilakukan dengan beberapa sentuhan pada layar.

Sebuah pertanyaan muncul dalam pikiran. Kita membuka mesin pencari. Beberapa detik kemudian, puluhan jawaban tersedia. Jika belum puas, kita membuka YouTube. Jika ingin penjelasan yang lebih singkat, kita mencari video pendek. Jika ingin perspektif lain, kita bertanya kepada AI. Jika ingin berdiskusi, kita masuk ke grup WhatsApp atau Telegram.

Informasi tidak lagi sulit ditemukan. Justru di sinilah persoalan baru muncul.

Kita mulai sulit membedakan antara mencari informasi dan belajar. Kita merasa sudah belajar karena telah menemukan jawaban. Kita merasa sudah memahami karena telah menonton penjelasan. Kita merasa sudah menguasai persoalan karena telah membaca beberapa artikel. Kita merasa memiliki ilmu karena mampu mengutip beberapa pendapat.

Padahal, menemukan informasi hanyalah awal dari perjalanan ilmu.

Seorang kader dapat mengetahui banyak hal, tetapi belum tentu memiliki ilmu yang mendalam. Ia dapat mengikuti banyak kajian, tetapi belum tentu mengalami proses belajar. Ia dapat menyimpan ribuan materi, tetapi belum tentu memiliki satu bangunan pengetahuan yang kokoh.

Inilah problem yang menjadi pintu masuk buku ini: Kita hidup dalam zaman ketika informasi semakin mudah diperoleh, tetapi proses pembentukan ilmu justru semakin mudah ditinggalkan.

Informasi Tidak Otomatis Menjadi Ilmu

Kita perlu memulai dengan membedakan beberapa istilah yang dalam kehidupan digital sering bercampur: informasi, pengetahuan, ilmu, pemahaman, dan hikmah.

Informasi adalah data atau keterangan yang kita terima. Pengetahuan mulai terbentuk ketika informasi itu dipahami, dihubungkan, dibandingkan, dan ditempatkan dalam suatu kerangka. Ilmu memiliki kedalaman yang lebih jauh. Ia bukan sekadar sesuatu yang pernah kita dengar, melainkan sesuatu yang dipahami dengan benar, memiliki dasar, memiliki struktur, dan menetap dalam kesadaran. Pemahaman membuat seseorang mampu melihat hubungan antara satu fakta dengan fakta lainnya. Sedangkan hikmah membuat seseorang mampu menempatkan ilmu secara tepat dalam kehidupan.

Karena itu, informasi adalah bahan mentah; ilmu adalah hasil dari proses pembentukan.

Tom Nichols dalam The Death of Expertise memberikan peringatan yang sangat relevan: “Sangat berbahaya saat ini. Belum pernah terjadi begitu banyak orang memiliki akses ke begitu banyak pengetahuan, namun mereka sangat resisten untuk mempelajari apa pun.”

Pernyataan ini seharusnya menjadi bahan muhasabah bagi aktivis dakwah.

Kita memiliki akses yang belum pernah dimiliki generasi sebelumnya. Kitab-kitab tersedia dalam format digital. Ceramah ulama dari berbagai penjuru dunia dapat didengarkan kapan saja. Jurnal akademik dapat dicari dalam hitungan detik. Bahkan teknologi kecerdasan buatan mampu membantu merangkum dan menjelaskan berbagai persoalan.

Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: Apakah kemudahan akses itu membuat kita benar-benar lebih berilmu? Sebab memiliki akses kepada ilmu tidak sama dengan memiliki ilmu.

Yusuf al-Qaradawi dalam Al-Īmān wal-Ḥayāh menjelaskan keterbatasan ilmu manusia dan pentingnya agama dalam memberikan arah: “Ilmu materiil memberikan manusia banyak alat, tetapi ia tidak memberikan ‘nilai’ yang besar, atau ‘tujuan’ yang mulia untuk ia jalani dan ia perjuangkan sampai mati. Itu karena hal tersebut bukanlah fungsi ilmu dan bukanlah spesialisasinya, melainkan spesialisasi agama.”

Disini kita menemukan perbedaan penting. Teknologi dapat memberi kita alat untuk mengetahui. Tetapi ia tidak otomatis memberikan kita arah untuk menggunakan pengetahuan tersebut.

Bahaya Illusion of Knowledge: Merasa Tahu karena Bisa Mencari

Salah satu jebakan terbesar dalam pembelajaran digital adalah illusion of knowledge—ilusi pengetahuan. Kita merasa mengetahui sesuatu hanya karena kita tahu di mana mencari jawabannya.

Jika ditanya tentang suatu persoalan, kita dapat membuka Google. Jika ditanya hadis, kita dapat mencarinya. Jika ditanya ayat, kita dapat mencarinya. Jika ditanya pendapat ulama, kita dapat menemukan kutipannya. Jika ditanya data politik, kita dapat mencarinya.

Kemampuan mencari memang penting. Tetapi ia belum sama dengan kemampuan memahami.

Nichols mencatat temuan penelitian dari Yale:”orang yang mencari informasi di Web keluar dari proses tersebut dengan rasa percaya diri yang berlebihan tentang seberapa banyak yang mereka ketahui—bahkan mengenai topik yang tidak terkait dengan apa yang mereka cari.”

Tim peneliti Yale menyimpulkan bahwa manusia dapat: “salah mengira pengetahuan yang bersumber dari luar (outsourced knowledge) sebagai pengetahuan internal.”

Ini fenomena yang sangat penting untuk dipahami kader.

Kita menyimpan jawaban di internet, lalu secara psikologis merasa jawaban itu sudah menjadi milik kita. Padahal ketika koneksi internet terputus, kita mungkin tidak mampu menjelaskan kembali apa yang tadi kita “ketahui”.

Kita pernah membaca, tetapi belum memahami. Kita pernah mendengar, tetapi belum menguasai. Kita pernah melihat, tetapi belum mencerna. Kita pernah mengutip, tetapi belum tentu mengerti.

Maka perlu dibedakan antara: “Saya bisa menemukan jawabannya” dan: “Saya memahami persoalannya.” Keduanya bukan hal yang sama.

Menonton Tidak Sama dengan Belajar

Perubahan berikutnya adalah lahirnya budaya menonton sebagai pengganti belajar.  Seorang kader menonton video kajian selama satu jam, lalu berkata: “Saya sudah belajar.”

Ia mendengarkan podcast sambil berkendara, kemudian merasa telah mempelajari sebuah tema. Ia melihat sepuluh video pendek tentang fikih, lalu merasa telah memahami fikih. Ia membaca beberapa kutipan ulama di Instagram, lalu merasa sudah memahami pemikiran ulama tersebut. Padahal paparan terhadap informasi belum tentu menghasilkan pembelajaran.

Nichols menggambarkan perubahan cara membaca di internet: “Mereka tidak membaca online dalam arti tradisional; sebaliknya, ada tanda-tanda bahwa bentuk-bentuk baru ‘membaca’ muncul saat pengguna melakukan ‘power browse’ secara horizontal melalui judul, halaman konten, dan abstrak untuk mencari kemenangan cepat (informasi instan).”

Budaya power browse membuat kita terbiasa bergerak cepat dari satu informasi ke informasi lainnya. Kita mengejar novelty, bukan kedalaman. Kita mengejar sesuatu yang baru, bukan sesuatu yang benar-benar perlu dikuasai.

Akibatnya, perhatian kita terus berpindah.

Satu video belum selesai, kita sudah membuka video lain. Satu artikel belum tuntas, kita sudah berpindah ke artikel berikutnya. Satu kitab belum selesai, kita sudah membeli atau mengunduh kitab lain. Pada akhirnya, kita memiliki banyak permulaan dan sedikit penyelesaian.

Mendengar Tidak Sama dengan Memahami

Ada pula perbedaan antara mendengar dan memahami. Mendengar adalah menerima suara. Memahami membutuhkan kerja akal. Bahkan memahami belum tentu berarti menguasai.

Untuk memahami sebuah gagasan, kader perlu bertanya: Apa masalah yang sedang dibahas? Apa definisi istilah yang digunakan? Apa dalil atau argumentasinya? Apa konteksnya? Apa hubungan gagasan tersebut dengan gagasan lain? Apa batas penerapannya? Apa pendapat yang berbeda? Mengapa ulama atau ilmuwan mengambil kesimpulan tersebut? Bagaimana gagasan itu diterapkan dalam realitas?

Proses seperti ini membutuhkan pemikiran aktif.

Ian Tuhovsky dalam Critical Thinking menegaskan: “Apa yang perlu kita kembangkan adalah kapasitas untuk pemikiran rasional… Emosi hanya menjadi masalah ketika mereka berada di luar ranah kesadaran sadar kita. Itulah kehancuran kita dan apa yang dapat menodai penilaian kita.”

Ini penting karena media digital sering menyajikan informasi dalam bentuk yang dirancang untuk memicu reaksi, bukan membangun pemahaman.

Kita dibuat terkejut. Dibuat marah. Dibuat kagum. Dibuat takut. Dibuat tertawa. Lalu kita berpindah ke konten berikutnya. Sedikit sekali ruang untuk berhenti dan bertanya: “Apa sebenarnya yang baru saja saya pelajari?”

Disinilah pembelajaran sejati membutuhkan jeda. Belajar membutuhkan perhatian. Dan perhatian membutuhkan kesengajaan.

Penutup: Jangan Hanya Menjadi Orang yang Tahu

Di era digital, kita tidak sedang menghadapi kekurangan informasi. Justru sebaliknya. Kita menghadapi kelimpahan informasi yang belum tentu berubah menjadi ilmu.Karena itu, pertanyaan seorang kader tidak boleh lagi berhenti pada: “Apa yang baru?” Tetapi: “Apa yang perlu saya pelajari?”

Tidak berhenti pada: “Dimana saya bisa menemukan jawabannya?” Tetapi: “Bagaimana saya memahami persoalan ini secara benar?” Tidak berhenti pada: “Berapa banyak yang sudah saya dengar?” Tetapi: “Apa yang telah berubah dalam diri saya setelah mendengarnya?”

Sebab dakwah tidak membutuhkan manusia yang sekadar tahu banyak hal. Dakwah membutuhkan manusia yang dibentuk oleh ilmu. Manusia yang ilmunya melahirkan ketundukan kepada Allah. Manusia yang pengetahuannya melahirkan kebijaksanaan. Manusia yang pemahamannya melahirkan kematangan. Dan manusia yang ilmunya akhirnya menjelma menjadi amal.

Maka, mencari informasi hanyalah mengetuk pintu ilmu. Belajar adalah memasuki pintu itu. Menuntut ilmu adalah berjalan di dalamnya dengan bimbingan seorang guru.

Dan hikmah adalah ketika perjalanan itu membuat kita menjadi manusia yang berbeda: lebih mengenal Allah, lebih memahami kehidupan, lebih matang menghadapi persoalan, dan lebih bermanfaat bagi sesama.

Di situlah kita mulai bergerak dari sekadar knowledge consumption menuju knowledge formation.

Dan di situlah pula perjalanan pembentukan kader yang sesungguhnya dimulai. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.