Al-Mu’minuna Haqqa: Mengembalikan Militansi Aktivis Dakwah

by -1442 Views

Perjalanan menegakkan kalimat Allah di muka bumi bukanlah sebuah rute yang bertabur bunga, melainkan jalan panjang yang sarat dengan benturan antara kebenaran (haq) dan kebatilan (bathil). 

Ditengah derap perjuangan ini, kita kerap menyaksikan terjadinya krisis militansi di kalangan aktivis dakwah.

Militansi yang saya maksud, tidak boleh didefinisikan secara keliru sebagai kekerasan, fanatisme golongan, atau sekadar keberanian fisik menghadapi lawan. Militansi yang sesungguhnya adalah kekuatan iman yang melahirkan kesungguhan dalam dakwah, kesiapan berkorban (tadhiyah), keteguhan dalam ketaatan, kemampuan menahan godaan dunia, dan kesediaan menjalankan amanah meskipun jalan perjuangan terasa berat.

Ketika ruh ini meredup, aktivitas dakwah dapat bergeser dari kedudukannya sebagai jalan hidup menjadi sekadar rutinitas organisasi yang kehilangan daya dorong spiritualnya. Karena itu, persoalan militansi pada hakikatnya bukan semata-mata persoalan aktivitas, melainkan persoalan iman dan kehidupan hati.

Salah satu akar yang perlu kita periksa adalah hubbud dunya, yaitu kecintaan yang berlebihan terhadap dunia. Kehidupan dunia dengan segala pesona dan perhiasannya terus menawarkan bujuk rayu yang dapat menggelincirkan manusia sedikit demi sedikit. 

Terkait fenomena ini, Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam kitabnya Fiqhus Sirah mengingatkan bahwa dunia dapat melalaikan manusia hingga imannya merosot setapak demi setapak hingga menjadikan dakwah (agama) ini tidak lebih sebagai sebuah game (permainan).

وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۚ 

“Dan tinggalkan mereka yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan olok-olokan dan mereka yang tertipu oleh kehidupan dunia…”
(QS. Al-An’am: 70)

Ketika orientasi duniawi mulai merasuki hati, seorang aktivis dapat berubah menjadi pribadi yang pamrih dan kalkulatif. Pengorbanan mulai dihitung, amanah mulai dipertimbangkan berdasarkan keuntungan pribadi, dan dakwah berisiko dipandang sebagai sarana memperoleh kedudukan. 

Syaikh Musthafa Masyhur dalam Qadhaya Asasiyyah dalam Dakwah menegaskan dengan sangat tajam: “Siapa yang menginginkan keuntungan duniawi, kedudukan atau pangkat, tempuhlah jalan selain jalan dakwah. Jalan dakwah hanya menghendaki orang yang berani menempuh perjalanan, bersedia mengerahkan tenaga, bersiap mengorbankan jiwa, harta, dan segala yang dimilikinya…”

Tazkiyah, Mahabbatullah, dan Tadhiyah

Kecintaan berlebihan kepada dunia pada akhirnya berbanding lurus dengan melemahnya iman dan mengeringnya spiritualitas. Ketika aktivis tenggelam dalam kesibukan administratif dan melupakan pembinaan batin, shaf perjuangan dapat kehilangan daya hidupnya. 

Syaikh Musthafa Masyhur mengibaratkan dakwah adalah sebatang pohon, maka tarbiyah dan tazkiyah batin adalah humus dan pupuknya; tanpa pupuk tersebut, pohon perjuangan akan dilanda kekeringan spiritual.

Karena itu, langkah pertama untuk mengembalikan militansi harus dimulai dari tazkiyatun nafs, penyucian jiwa. Jiwa manusia memiliki penyakit laten seperti kesombongan, ujub, kedengkian, riya’, dan ketamakan terhadap materi. Penyakit-penyakit tersebut tidak cukup diatasi dengan menambah kesibukan. Ia membutuhkan keberanian untuk kembali berhadapan dengan diri sendiri.

Semenatara itu, syaikh Muhammad Said Ramadhan al-Buthy dalam kitabnya Sirah Nabawiyah membedah rahasia pentingnya penyucian batin ini: “Hikmah dari program ‘uzlah ini ialah, bahwa tiap jiwa manusia memiliki sejumlah penyakit yang tidak dapat dibersihkan kecuali dengan ‘obat’ ‘uzlah dan ‘mengadilinya’ dalam suasana hening, jauh dari keramaian dunia.”

Melalui proses penyucian jiwa yang intensif, hati yang keras diharapkan kembali dilembutkan oleh ilmu dan hikmah, kemudian dipenuhi oleh mahabbatullah, kecintaan yang mendalam kepada Allah. Dari kecintaan inilah lahir kesiapan untuk berkorban tanpa pamrih. Seorang aktivis tidak lagi bertanya, “Apa yang saya dapatkan dari dakwah?” tetapi mulai bertanya, “Apa yang dapat saya berikan untuk Allah dan agama-Nya?”

Penyucian jiwa yang konsisten kemudian membentuk profil Mukmin Haq (Al-Mu’minuna Haqqa). Sosok mukmin sejati bukan sekadar pribadi yang berislam secara lisan, melainkan manusia yang memadukan kekuatan akal budi dengan kedalaman perasaan iman. 

Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam Fiqhus Sirah mendefinisikan esensi profil ini: “Orang muslim sejati ialah muslim yang mengenal Allah dengan pengenalan yang seyakin-yakinnya dan bersamaan dengan itu ia mempunyai perasaan mengakui kebesaran dan keagungan-Nya, limpahan nikmat karunia-Nya dan kesucian sifat-sifat-Nya.”

Iman yang hidup akan memancarkan tadhiyah, pengorbanan yang nyata. Syaikh Sa’id Hawwa dalam Membina Angkatan Mujahid menjelaskan: “Yang saya maksud dengan tadhiyah (pengorbanan) adalah pengorbanan jiwa, harta, waktu, kehidupan, dan segala sesuatu yang dipunyai oleh seseorang untuk meraih tujuan… Jika pengorbanan yang habis-habisan seperti itu tidak dilakukan untuk dakwah, maka dakwah—untuk meninggikan kalimat Allah—tidak akan tertegak, dan orang-orang yang melalaikan pengorbanan akan berdosa.”

Istiqamah dan Estafet Tarbiyah

Pengorbanan tidak cukup dilakukan sesaat. Ia harus disertai istiqamah dan tsabat, keteguhan pendirian di tengah badai ujian. Aktivis dakwah dituntut untuk terus bekerja sebagai mujahid, betapa pun jauh tujuan yang hendak dicapai dan panjang masa yang harus ditempuh. 

Syaikh Sa’id Hawwa menegaskan: “Tidak ada tolok ukur yang dapat menunjukkan kejujuran seseorang terhadap Allah seperti sikap konsistennya berada di medan dakwah dalam berbagai kondisi.”

Sikap tersebut selaras dengan firman Allah Swt. dalam Surah Al-Ahzab ayat 23, yang memuji orang-orang beriman yang menepati janji mereka kepada Allah dan tidak mengubah janji tersebut sedikit pun.

Pada akhirnya, iman, tazkiyah, pengorbanan, dan istiqamah harus diikat melalui kaderisasi militansi yang berkelanjutan. Dakwah adalah proyek besar lintas generasi yang tidak mungkin diselesaikan oleh satu angkatan. Karena itu, tarbiyah tidak boleh dikesampingkan atau digusur oleh kesibukan taktis-politis belaka.

Kaderisasi yang kokoh harus mewariskan nilai dan pengalaman generasi sebelumnya sekaligus memberikan ruang bagi dinamika dan kekuatan generasi berikutnya. Dengan demikian, kebijaksanaan serta pengalaman generasi tua dapat bertemu dengan dinamika dan kekuatan generasi muda dalam satu mata rantai perjuangan.

Buku kecil ini hadir bukan untuk menghakimi para aktivis dakwah, apalagi untuk mengagungkan masa lalu. Buku ini adalah ajakan untuk bercermin, bermuhasabah, dan kembali membangun kekuatan iman. Kita akan mencoba memahami mengapa militansi melemah, bagaimana dunia dapat mengambil tempat terlalu besar di dalam hati, bagaimana tazkiyatun nafs menghidupkan kembali ruh perjuangan, dan bagaimana tarbiyah melahirkan kader yang mampu menjaga estafet dakwah.

Pada akhirnya, yang kita cari bukan sekadar aktivis yang banyak bergerak, tetapi manusia yang benar-benar memiliki kualitas sebagaimana firman Allah:

أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا

“Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman.” (QS. Al-Anfal: 4)

Inilah perjalanan yang hendak ditempuh buku ini: dari tadabbur menuju muhasabah, dari muhasabah menuju tazkiyah, dari tazkiyah menuju mujahadah, dan dari mujahadah menuju perubahan. 

Semoga Allah menghidupkan kembali iman di dalam hati kita, menguatkan langkah kita dalam kebaikan, dan menjadikan kita bagian dari orang-orang yang layak menyandang predikat al-mu’minūna ḥaqqā. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.