Ketika Hati Bergetar karena Allah

by -1354 Views

Diantara ungkapan Al-Qur’an yang sangat kuat dalam menggambarkan kualitas batin orang beriman adalah وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ — wajilat qulūbuhum, yaitu hati mereka bergetar.

Seorang mukmin sejati bukanlah manusia yang kehilangan rasa takut, melainkan manusia yang memiliki rasa takut yang benar, yaitu rasa takut kepada Allah yang membuatnya semakin dekat kepada-Nya, semakin berhati-hati dalam kehidupan, dan semakin cepat merespons ketika berhadapan dengan perintah maupun larangan-Nya.

Allah Swt. berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2).

Secara makna, wajal berkaitan dengan rasa takut dan gentar yang lahir dari pengagungan kepada Allah, sehingga ia berbeda dengan rasa takut yang membuat seseorang melarikan diri dari sumber ketakutan, karena rasa takut seorang mukmin justru membuatnya berlari menuju Allah, memperbaiki kesalahan, meninggalkan maksiat, dan memperkuat ketaatan.

Syaikh Ibnu Katsir dalam Tafsīr Ibn Kathīr ketika menjelaskan ayat tersebut menukil penafsiran Ibn Abbas r.a. tentang keadaan orang beriman yang ketika diingatkan kepada Allah hatinya bergetar karena takut kepada-Nya, kemudian ia menahan diri dari dosa dan kembali kepada ketaatan.

Sedangkan syaikh As-Suddi menjelaskan keadaan seseorang yang hendak melakukan kezaliman atau maksiat lalu ketika dikatakan kepadanya, “Takutlah kepada Allah!”, hatinya bergetar sehingga ia menghentikan perbuatannya.

وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ

“Hati mereka bergetar.” (QS. Al-Anfal: 2).

Dari sini kita memahami bahwa wajal bukan sekadar emosi sesaat yang membuat seseorang tersentuh ketika mendengar ceramah. Ukuran yang lebih penting adalah apakah getaran tersebut menghasilkan perubahan perilaku, sehingga rasa takut kepada Allah membuat seseorang menjaga amanah, menahan lisannya dari menyakiti saudara, menjaga harta dakwah, menghindari kezaliman, dan segera bertaubat ketika menyadari kekhilafannya.

Seorang aktivis yang benar-benar memiliki wajal tidak hanya takut kepada Allah ketika berada dalam majelis ilmu, tetapi juga ketika berhadapan dengan kesempatan untuk menyalahgunakan amanah, ketika memperoleh jabatan yang membuatnya mudah merasa lebih tinggi daripada orang lain, ketika memiliki peluang untuk membalas sakit hati kepada saudaranya, dan ketika tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang sedang ia lakukan.

Inilah yang membuat wajal menjadi salah satu sumber militansi yang paling penting. Sseseorang yang hatinya benar-benar takut kepada Allah tidak akan mudah diperbudak oleh ketakutan kepada manusia, tidak mudah menjual prinsip karena tekanan, tidak mudah mengubah amanah menjadi kepentingan pribadi, dan tidak mudah meninggalkan kebaikan hanya karena jalan yang ditempuh terasa berat.

Disisi lain, kita juga harus berhati-hati agar rasa takut kepada Allah tidak berubah menjadi keputusasaan, sebab seorang mukmin hidup diantara khauf dan raja’, antara rasa takut terhadap kekurangan dirinya dan harapan terhadap luasnya rahmat Allah.

Seorang mukmin takut amalnya tidak diterima tetapi tidak berhenti beramal, ia takut dirinya memiliki banyak dosa tetapi tidak berhenti bertaubat, dan ia takut gagal tetapi tetap berusaha karena ia menggantungkan hasil akhirnya kepada Allah.

Ketika hati kita tidak lagi bergetar ketika nama Allah disebut, ketika ayat-ayat Al-Qur’an tidak lagi membuat kita melakukan koreksi diri, atau ketika nasihat tentang dosa dan akhirat tidak lagi mengubah perilaku kita, mungkin persoalan yang harus segera diperiksa bukan militansi organisasi kita, melainkan sensitivitas iman dalam hati kita.

Sebab hati yang hidup akan bereaksi ketika disentuh oleh kebenaran, sedangkan hati yang mulai mati dapat mendengar ayat yang sama berkali-kali tanpa mengalami perubahan apapun. Karena itu salah satu pertanyaan penting bagi setiap aktivis dakwah bukanlah “Seberapa banyak kegiatan yang sudah saya lakukan?”, tetapi “Apakah hati saya masih bergetar ketika Allah disebut?”.

Militansi yang lahir dari wajal bukanlah keberanian yang nekad tanpa alasan, melainkan keberanian seorang hamba yang takut kepada Allah sehingga tidak mudah takut kepada selain-Nya. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.