Ketika Aktivis Sibuk tetapi Kehilangan Ruh

by -1334 Views

Ada sebuah paradoks yang perlu kita renungkan dengan jujur dalam kehidupan dakwah, yaitu kemungkinan seseorang menjadi semakin sibuk dalam aktivitas lahiriah tetapi pada saat yang sama semakin kering dalam kehidupan ruhiyah-nya.

Jadwalnya penuh, rapatnya banyak, programnya berjalan, media sosialnya aktif, dan tanggung jawab organisasinya semakin besar, tetapi hubungan pribadinya dengan Allah justru semakin melemah.

Allah Swt. ketika menjelaskan ciri orang-orang beriman tidak hanya menyebut aktivitas lahiriah, tetapi terlebih dahulu menyebut keadaan hati mereka:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2).

Ayat tersebut seakan mengingatkan kita bahwa aktivitas yang banyak tidak otomatis menunjukkan hati yang hidup, karena seseorang dapat sangat produktif dalam mengelola dakwah tetapi kehilangan kekhusyukan dalam shalat, dapat sangat aktif mengajak orang lain membaca Al-Qur’an tetapi dirinya sendiri semakin jarang mentadaburinya, dan dapat berbicara panjang tentang pengorbanan tetapi semakin berat mengorbankan kenyamanan pribadi.

Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn memberikan peringatan tentang orang yang terlalu sibuk memperhatikan amal lahiriah tetapi melupakan kesehatan hatinya sendiri:

“Alangkah banyaknya orang yang menghabiskan umurnya dalam kesibukan mempercantik amalan-amalan lahiriah, menyusun wacana, dan berdebat, namun melupakan kesehatan hatinya sendiri, mereka mengira bahwa kesibukan luar tersebut sudah cukup untuk menyelamatkan mereka di hadapan Allah Swt., padahal hati mereka dipenuhi oleh penyakit ujub, cinta kedudukan, dan kekerasan batin, mereka seperti pohon yang rindang daunnya namun tidak berbuah, atau seperti lampu yang menerangi orang lain sementara dirinya sendiri terbakar habis.”

Peringatan ini bukan alasan bagi kita untuk meremehkan aktivitas dakwah. Bagaimanapun, dakwah memang membutuhkan kerja keras, pengorganisasian, perencanaan, pelayanan umat, pendidikan, komunikasi, dan berbagai bentuk ikhtiar yang serius. Persoalannya, persoalannya adalah apakah semua aktivitas tersebut masih menjadi buah dari hubungan kita dengan Allah atau justru telah berubah menjadi dunia tersendiri yang membuat kita lupa kepada sumber kekuatan dakwah itu sendiri.

Rasulullah saw. mengingatkan bahwa pusat seluruh kehidupan manusia berada pada hati:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah bahwa di dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh jasad, ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadits ini memberi kita sebuah prinsip yang sangat sederhana tetapi sangat dalam. Problem perilaku seringkali perlu ditelusuri sampai ke pusat batinnya, sehingga ketika seorang aktivis mulai mudah tersinggung, sulit menerima kritik, kecewa ketika tidak dihargai, merasa berat ketika tidak memperoleh posisi, atau kehilangan semangat ketika tidak mendapatkan keuntungan tertentu. Kita tidak boleh hanya melihat gejala lahiriahnya tetapi perlu memeriksa apa yang sedang terjadi dalam hati.

Ada kalanya kita mengira seseorang mengalami burnout karena terlalu banyak bekerja, padahal yang sebenarnya terjadi adalah ia terlalu lama bekerja tanpa memperbarui hubungan spiritualnya dengan Allah. Akibatnya, aktivitas yang semestinya menjadi ibadah berubah menjadi beban, amanah yang semestinya menjadi kehormatan berubah menjadi tekanan, dan pengorbanan yang semestinya menjadi sumber pahala berubah menjadi transaksi yang selalu dihitung untung-ruginya.

Para aktivis dakwah perlu belajar membedakan antara “sibuk untuk Allah” dan “sibuk atas nama Allah”. Seseorang dapat melakukan banyak hal yang secara lahiriah berkaitan dengan dakwah, tetapi secara batiniah digerakkan oleh kebutuhan akan pengakuan, popularitas, kedudukan, atau eksistensi diri.

Kita membutuhkan aktivitas, tetapi kita lebih membutuhkan hati yang sehat. Program dapat membuat organisasi bergerak untuk sementara waktu, sedangkan hati yang hidup membuat seorang manusia mampu bertahan dalam kebaikan ketika program selesai, ketika jabatan berakhir, ketika pujian menghilang, dan ketika tidak ada seorangpun yang mengetahui pengorbanannya.

Pertanyaan yang perlu kita ajukan bukanlah sekadar “Seberapa sibuk saya dalam dakwah?”, melainkan “Apakah kesibukan dakwah saya membuat saya semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh dari-Nya?”

Kesibukan yang tidak memperkuat iman pada akhirnya dapat menjadi kelelahan, sedangkan kesibukan yang lahir dari hati yang hidup akan menjadi ibadah yang menguatkan perjalanan.

Dakwah membutuhkan banyak aktivitas, tetapi aktivitas dakwah membutuhkan hati yang hidup agar tidak berubah menjadi kesibukan yang kehilangan ruh. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.