Dalam kehidupan sehari-hari, kata “kontradiksi” sering digunakan untuk menyebut sekadar perbedaan pendapat. Padahal, dalam Ilmu Mantiq, kontradiksi memiliki pengertian yang jauh lebih ketat. Tidak setiap perbedaan adalah tanaqudh, dan tidak setiap dua pernyataan yang tampak berlawanan benar-benar saling bertentangan.
Al-Tanaqudh adalah hubungan antara dua proposisi yang, karena bentuk pertentangannya, mengharuskan salah satunya benar dan yang lainnya salah. Karena itu, memahami kontradiksi bukan hanya berguna untuk menemukan kesalahan dalam sebuah argumen, tetapi juga dapat digunakan untuk membuktikan suatu kesimpulan melalui pembuktian tidak langsung.
Apa yang Dimaksud dengan Kontradiksi?
Al-Sanusi menjelaskan tanaqudh sebagai perbedaan antara dua proposisi dalam aspek afirmasi dan negasi yang menyebabkan salah satunya harus benar dan yang lainnya salah. Al-Katibi juga menempatkan unsur kaif dan kam sebagai bagian penting dalam menentukan hubungan kontradiktif.
Dengan demikian, kontradiksi bukan sekadar dua kalimat yang menggunakan kata “ya” dan “tidak”. Ada struktur tertentu yang harus terpenuhi.
Misalnya:
“Semua manusia adalah makhluk hidup.”
dan
“Sebagian manusia bukan makhluk hidup.”
Kedua proposisi tersebut tidak mungkin sama-sama benar. Jika proposisi pertama benar, proposisi kedua pasti salah. Sebaliknya, jika proposisi kedua benar, proposisi pertama tidak mungkin benar.
Namun, perhatikan perbedaan berikut:
“Sebagian manusia adalah penulis.”
dan
“Sebagian manusia bukan penulis.”
Keduanya dapat sama-sama benar. Karena itu, keduanya bukan kontradiksi.
Contoh sederhana ini menunjukkan bahwa memahami tanaqudh membutuhkan ketelitian terhadap kuantitas dan kualitas proposisi.
Kontradiksi sebagai Jalan Pembuktian
Salah satu fungsi penting tanaqudh adalah membantu kita membuktikan sesuatu melalui Qiyas al-Khulf.
Dalam pembuktian langsung, kita berusaha menunjukkan bahwa suatu klaim benar dengan menyusun premis-premis yang mengarah kepadanya. Tetapi tidak semua persoalan mudah dibuktikan dengan cara demikian. Dalam keadaan tertentu, kita dapat mengambil jalan lain: anggap sementara bahwa kebalikan dari klaim tersebut benar, lalu lihat apa konsekuensinya.
Jika asumsi tersebut menghasilkan sesuatu yang mustahil atau bertentangan dengan premis yang telah diterima, maka asumsi tersebut harus ditolak. Dengan demikian, klaim awal memperoleh pembenaran melalui gugurnya kontradiksinya.
Al-Ghazali menjelaskan bahwa terkadang sebuah perkara tidak mudah dibuktikan secara langsung, tetapi dapat ditunjukkan melalui pembatalan lawannya. Qutb al-Din al-Razi juga menjelaskan fungsi tanaqudh dalam Qiyas al-Khulf: apabila kontradiksi dari suatu klaim terbukti batil, maka klaim tersebut mengikuti secara niscaya dalam kerangka pembuktian yang digunakan.
Cara berpikir ini sebenarnya sangat dekat dengan kebiasaan kita dalam menguji sebuah pendapat. Kita tidak hanya bertanya, “Apa yang terjadi jika pendapat ini benar?” tetapi juga, “Apa yang terjadi jika kebalikannya benar?”
Tidak Semua Pertentangan adalah Kontradiksi
Di sinilah kita perlu berhati-hati. Dua pernyataan tidak dapat langsung disebut kontradiktif hanya karena tampak bertentangan.
Mantiq mengenal al-wahdat al-thamaniyah, delapan kesatuan yang harus diperhatikan. Di antaranya kesatuan subjek, predikat, syarat, keseluruhan dan bagian, waktu, tempat, serta relasi.
Misalnya seseorang mengatakan, “Khalid adalah ayah,” sedangkan orang lain mengatakan, “Khalid bukan ayah.” Kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa keduanya bertentangan. Bisa jadi pernyataan pertama bermaksud bahwa Khalid adalah ayah bagi Ahmad, sedangkan pernyataan kedua bermaksud bahwa ia bukan ayah bagi Zaid.
Demikian pula dengan waktu. “Anak itu sudah memiliki gigi” dan “anak itu belum memiliki gigi” dapat sama-sama benar jika keduanya berbicara tentang tahap perkembangan yang berbeda.
Pelajarannya jelas: sebelum menyatakan ada kontradiksi, pastikan objek, predikat, konteks, waktu, tempat, dan relasinya benar-benar sama.
Ini juga merupakan adab dalam membaca pendapat orang lain. Jangan mengambil dua pernyataan dari konteks berbeda kemudian memaksa keduanya menjadi kontradiksi.
Memahami Kontradiksi Proposisi Terukur
Persoalan menjadi lebih menarik ketika kita berhadapan dengan proposisi yang menggunakan kata pembatas seperti “semua” atau “sebagian.”
Al-Malawi menjelaskan bahwa pada proposisi terukur, perubahan dari positif menjadi negatif belum cukup untuk membentuk kontradiksi. Kuantitasnya juga harus diperhatikan.
Pasangan pentingnya adalah:
- Kulliyyah Mujabah: “Setiap manusia adalah makhluk hidup.”
Kontradiksinya: Juz’iyyah Salibah — “Sebagian manusia bukan makhluk hidup.” - Kulliyyah Salibah: “Tidak ada manusia yang merupakan batu.”
Kontradiksinya: Juz’iyyah Mujabah — “Sebagian manusia adalah batu.”
Hal ini menunjukkan mengapa kata seperti “semua,” “tidak ada,” dan “sebagian” sangat penting dalam argumentasi. Menghilangkan satu kata pembatas dapat mengubah cakupan sebuah pernyataan secara drastis.
Karena itu, ketika seseorang mengatakan, “Tidak ada yang berpikir demikian,” kita perlu bertanya: “Benarkah tidak ada satu pun?” Sebab, klaim universal jauh lebih berat daripada klaim partikular.
Kontradiksi dan Kejujuran dalam Berpikir
Mempelajari tanaqudh bukan berarti menjadikan kita pemburu kesalahan dalam perkataan orang lain. Justru latihan yang lebih penting adalah menguji apakah pikiran kita sendiri konsisten.
Kadang-kadang kita menggunakan satu prinsip ketika prinsip tersebut menguntungkan posisi kita, tetapi meninggalkannya ketika kesimpulannya tidak sesuai dengan keinginan. Kadang-kadang kita menuntut bukti sangat ketat dari orang lain, tetapi cukup puas dengan dugaan ketika dugaan itu mendukung pendapat kita.
Mantiq mengajarkan kita untuk menggunakan ukuran yang sama.
Di sinilah mantiq bertemu dengan tazkiyah. Kemampuan menemukan kontradiksi adalah kemampuan intelektual, tetapi keberanian mengakui kontradiksi dalam pemikiran sendiri adalah latihan kejujuran.
Maka pertanyaan penting setelah mempelajari tanaqudh bukan hanya, “Di mana kesalahan argumentasi orang lain?” tetapi juga:
“Apakah ada dua keyakinan dalam diri saya yang sebenarnya tidak dapat saya pertahankan sekaligus?”
Jika ada, maka tugas kita bukan mencari alasan untuk menyembunyikannya. Tugas kita adalah kembali kepada kebenaran.
Sebab, dalam berpikir, sebagaimana dalam mencari kebenaran, kita tidak cukup hanya memiliki banyak pendapat. Kita perlu memastikan bahwa pendapat-pendapat itu dapat berdiri bersama secara rasional.
Mantiq mengajarkan kita mengenali kontradiksi. Tazkiyah mengajarkan kita tidak mempertahankan kontradiksi hanya karena ego menginginkannya. (im)
Daftar Pustaka
- Al-Ghazali, Abu Hamid. Mi‘yar al-‘Ilm fi Fan al-Mantiq. Beirut: Al-Maktabah al-‘Ashriyyah.
- Al-Katibi al-Qazwini, Najm al-Din ‘Ali ibn ‘Umar. Al-Shamsiyyah fi al-Qawa‘id al-Mantiqiyyah, dengan kajian Dr. Mahdi Fadlallah. Beirut: Al-Markaz al-Thaqafi al-‘Arabi.
- Al-Malawi, Shihabuddin Ahmad Abdul Fattah. Al-Sharh al-Kabir ‘ala al-Sullam al-Munawraq fi ‘Ilm al-Mantiq. Kuwait: Dar al-Dhiya’.
- Al-Sanusi al-Hasani, Abu ‘Abdullah Muhammad ibn Yusuf. Matn Mukhtasar al-Mantiq.
- Al-Razi, Qutb al-Din. Tahrir al-Qawa‘id al-Mantiqiyyah fi Sharh al-Risalah al-Shamsiyyah. Qum: Intisharat Bidar.






