Sujud Sahwi: Apa Itu, Kapan Dilakukan, dan Bagaimana Tata Caranya?

by -1473 Views

Ustadz, saya kadangkala lupa dalam shalat—kadang ragu jumlah rakaat, kadang lupa tahiyat awal. Apa sebenarnya sujud sahwi itu?

Jawab:
Sujud sahwi adalah dua kali sujud yang dilakukan untuk menutup kekurangan atau kekeliruan dalam shalat akibat lupa, ragu, atau tidak sengaja menambah sesuatu dalam shalat.

Pensyariatannya menunjukkan rahmat Allah kepada hamba-Nya. Islam memahami bahwa manusia tidak lepas dari lupa. Karena itu, tidak setiap kesalahan kecil dalam shalat harus membuat seseorang mengulang dari awal.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا زَادَ الرَّجُلُ أَوْ نَقَصَ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ
“Jika seseorang menambah atau mengurangi dalam shalatnya, maka hendaklah ia sujud dua kali.” (HR. Sahih Muslim)

Imam An-Nawawi dalam syarahnya atas Sahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dasar umum disyariatkannya sujud sahwi sebagai penambal kekurangan shalat.

Maka, sujud sahwi adalah bentuk kasih sayang syariat: memperbaiki, bukan mempersulit.

Kapan perlu melakukan sujud sahwi

Secara umum, ulama menyebut ada tiga sebab utama. Pertama, karena penambahan. Misalnya seseorang tidak sadar menambah rakaat.

Ada hadits ketika Rasulullah ﷺ pernah shalat Zhuhur lima rakaat. Setelah diingatkan sahabat, beliau melakukan sujud dua kali setelah salam.

Riwayat ini menjadi dasar bahwa penambahan yang tidak disengaja ditutup dengan sujud sahwi.

Kedua, karena pengurangan atau lupa Misalnya lupa tasyahud awal.

Dalam hadits Abdullah ibn Buhainah: Rasulullah ﷺ pernah bangkit dari rakaat kedua tanpa duduk tasyahud awal, lalu meneruskan shalat dan sujud dua kali sebelum salam. (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)

Hadits ini menjadi landasan kuat bahwa kelupaan pada bagian tertentu dalam shalat bisa ditutup dengan sujud sahwi.

Ketiga, karena keraguan. Misalnya ragu: sudah tiga atau empat rakaat?

Rasulullah ﷺ bersabda:

فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ
“Hendaklah ia buang keraguan dan membangun di atas yang ia yakini.” (HR. Sahih Muslim)

Artinya, ambil angka yang paling yakin (biasanya yang lebih sedikit), lalu lakukan sujud sahwi.

Dalam riwayat itu disebut:

فَإِنَّهَا تُرْغِمُ الشَّيْطَانَ
“Karena itu membuat setan marah.”

Imam Nawawi menjelaskan bahwa sujud sahwi bukan hanya koreksi teknis, tetapi juga simbol melawan was-was setan.

Tata cara sujud sahwi

Dilakukan sebelum salam atau setelah salam? Disini ada perbedaan pendapat ulama.

Madzhab Syafi’i umumnya sebelum salam. Madzhab Hanafi, setelah salam. Sedangkan Madzhab Malik  tergantung sebabnya; pengurangan sebelum salam, penambahan setelah salam.

Perbedaan ini lahir dari variasi praktik Nabi ﷺ dalam beberapa riwayat. Karena itu, semua praktik yang sesuai madzhab mu’tabar dapat diamalkan tanpa saling menyalahkan.

Secara teknis:

  1. bertakbir turun sujud,
  2. sujud pertama,
  3. duduk,
  4. sujud kedua,
  5. lalu salam (atau salam ulang jika dilakukan setelah salam).

Adapun bacaan yang lebih kuat menurut banyak ulama adalah bacaan sujud biasa:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى
“Mahasuci Rabb-ku Yang Maha Tinggi.”

Sebagian ulama menyebut doa tambahan seperti:

سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو
Namun bacaan ini tidak sekuat bacaan sujud standar.

Hikmah dari sujud sahwi

Sujud sahwi mengajarkan satu hal penting: manusia boleh lupa, tetapi tidak boleh meremehkan perbaikan. Dalam tasawuf, ini mendidik hati agar tidak perfeksionis secara berlebihan, namun juga tidak lalai.

Shalat yang terganggu tidak selalu harus diulang total; cukup diperbaiki dengan kerendahan hati.Sujud sahwi adalah pengingat bahwa dalam perjalanan menuju Allah, yang utama bukan bebas dari salah, tetapi segera memperbaiki. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.