Mulkan ‘Āḍḍan: Antara Kejayaan Peradaban dan Ujian Kepemimpinan

by -1867 Views
Ceramah ustadz Heri Ahmadi di masjid al-Anwar, Kota Tasikmalaya.

Rasulullah ﷺ memberikan peta besar perjalanan umat. Salah satu fase perjalanan yang dilalui ummat ini, ialah fase mulkan addan.


«تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ… ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا…»
“Akan ada masa kenabian di tengah kalian selama Allah menghendaki… kemudian akan ada kerajaan yang menggigit…” (HR. Ahmad).

Para ulama hadits seperti Ahmad ibn Hanbal menilai riwayat ini memiliki derajat hasan dengan penguat, sehingga dapat dijadikan dasar memahami fase sejarah umat.

Secara bahasa, ‘āḍḍan (عَاضًّا) bermakna “menggigit erat”—yakni kekuasaan yang dipegang kuat dan cenderung diwariskan.

 Imam Ibn al-Athir menjelaskan istilah ini sebagai simbol peralihan dari kepemimpinan berbasis syura menuju sistem dinasti. 

Namun, sebagaimana ditegaskan Ibn Taymiyyah, fase ini bukan keluar dari Islam, melainkan perubahan bentuk politik dalam bingkai umat yang tetap hidup dengan agama.

Rentang Peradaban: Dari Umayyah hingga Utsmaniyah

Fase Mulkan ‘Āḍḍan (661–1924 M) membentang panjang dan melahirkan capaian besar.

Pada masa Bani Umayyah (661-750 M), pusat kekuasaan di Damaskus terjadi perluasan pengaruh Islam yang masif. Islam menjangkau Afrika Utara, Andalusia, hingga Asia Tengah. Menurut Al-Dhahabi, fase ini menandai intishār al-islām (penyebaran Islam secara luas).

Memasuki Bani Abbasiyah (750-1258 M) di Baghdad, arah peradaban bergeser ke ilmu. Ini menandai puncak peradaban ilmu. Lahir para ulama besar di bidang tafsir, fiqh, kedokteran, dan filsafat. Ibn Kathir menyebutnya sebagai masa kematangan peradaban, di mana ilmu menjadi kekuatan utama umat.

Di Andalusia (756-1031 M), pusatnya di Cordoba, Islam tampil sebagai peradaban maju di Eropa—menggabungkan ilmu, seni, dan toleransi. Sementara Dinasti Fatimiyah (909-1171 M) di Kairo mendirikan Universitas Al-Azhar, yang hingga kini menjadi rujukan keilmuan dunia Islam.

Dinasti Seljuk (1037-1194 M) berperan sebagai pelindung dunia Sunni. Dengan dukungan terhadap Abbasiyah dan pendirian Madrasah Nizamiyah, mereka menjaga ortodoksi akidah ditengah pertarungan ideologis.

Kemudian, Dinasti Ayyubiyah (1171-1250 M) dibawah Shalahuddin al-Ayyubi mengukir sejarah dengan membebaskan Al-Quds dari Tentara Salib—peristiwa yang oleh Ibn Kathir disebut sebagai kemenangan yang mempersatukan umat.

Dinasti Mamluk (1250-1517 M) melanjutkan peran strategis dengan menghentikan invasi Mongol, menjaga jantung dunia Islam. Hingga akhirnya, Khilafah Utsmaniyah (1299 – 1924 M)  di Istanbul menjadi kekuatan global terakhir umat Islam selama berabad-abad.

Kritik, Hikmah, dan Arah Perbaikan

Dibalik capaian besar, para ulama juga mencatat kelemahan fase ini: melemahnya syura, konflik internal, dan kecenderungan kekuasaan turun-temurun. Al-Mawardi menegaskan bahwa ideal kepemimpinan tetap pada keadilan dan musyawarah.

Dari perspektif ruhiyah, Al-Ghazali mengingatkan bahwa krisis politik berakar pada krisis hati. Ketika tazkiyah melemah, kekuasaan mudah tergelincir.

Al-Qur’an memberikan prinsip abadi:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan kebaikan.” (QS. An-Nahl: 90).
Imam Al-Qurtubi menjelaskan ayat ini sebagai fondasi seluruh tatanan kehidupan, termasuk politik dan kekuasaan. 

Maka pelajaran besar dari fase ini yang bisa kita ambil, diantaranya: peradaban bisa tetap berjaya meski sistem tidak sepenuhnya ideal, ilmu dan amal mampu menopang umat dalam berbagai bentuk kekuasaan, dan yang tak kalah pentingnya: perbaikan sejati selalu kembali pada manusia dan jiwanya

Khatimah

Fase Mulkan ‘Āḍḍan menunjukkan bahwa peradaban Islam tidak berhenti pada satu bentuk politik. Ia terbentang lebih dari tiga belas abad, melintasi berbagai dinasti, wilayah, dan tantangan.

Dan hingga hari ini, meskipun bentuk kekuasaan telah berubah, warisan peradaban itu masih hidup—dalam ilmu, institusi, nilai, dan semangat umat.

Sejarah ini mengajarkan bahwa kejayaan bukan semata pada bentuk negara, tetapi pada kualitas iman, ilmu, dan persatuan.Dalam bahasa yang ringkas namun dalam:
قَلْبٌ سَلِيمٌ، وَفَهْمٌ صَحِيحٌ، وَأُخُوَّةٌ إِسْلَامِيَّةٌ
“Hati yang bersih, pemahaman yang benar, dan persaudaraan Islam.”  Dari sinilah, setiap upaya kebangkitan umat sejatinya bermula.(im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.