Ilmu Harus Kembali kepada Umat

by -1656 Views

Allah SWT tidak menjadikan tafaqquh fid din sebagai perjalanan intelektual yang berhenti pada diri sendiri. 

Setelah seorang mukmin diperintahkan memperdalam agama, Allah melanjutkan tujuan mulia tersebut dengan firman-Nya:

﴿فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ﴾

“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, agar mereka dapat menjaga diri.” (QS. At-Taubah [9]: 122)

Menurut Imam Ibnu Katsir dan Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam Al-Tafsir al-Munir, ayat ini menunjukkan bahwa tujuan akhir tafaqquh bukan hanya memperoleh ilmu, melainkan menghadirkan manfaat bagi umat melalui fungsi indzār (memberi peringatan) dan pembinaan masyarakat.

Mengapa Kita Belajar? 

Di zaman yang dipenuhi berbagai sarana publikasi, seseorang dapat belajar untuk banyak tujuan. Ada yang mengejar gelar, ada yang mencari popularitas, bahkan ada yang menjadikan ilmu sekadar bahan konten agar dikenal banyak orang. 

Semua itu mungkin tidak salah apabila menjadi sarana, tetapi akan menjadi masalah apabila berubah menjadi tujuan.

Al-Qur’an justru mengarahkan orientasi yang berbeda. Setelah menyebut لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ, Allah langsung menyambungnya dengan وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ. Artinya, ilmu yang benar harus kembali kepada masyarakat.

Syaikh Sa’id Hawwa dalam Al-Asās fi al-Tafsīr menjelaskan bahwa kelompok yang bertafaqquh dipersiapkan menjadi الربانيون (hamba-hamba Rabbani), yaitu orang-orang yang menjaga nilai-nilai wahyu sekaligus membimbing umat dengan ilmu yang telah mereka pelajari. Ilmu tidak berhenti menjadi pengetahuan, tetapi berubah menjadi amanah dakwah.

Dalam tradisi tasawuf, para ulama selalu mengingatkan bahwa ilmu yang tidak melahirkan pelayanan kepada manusia dikhawatirkan hanya akan menumbuhkan kesombongan. 

Imam Abu Hamid al-Ghazali menegaskan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mendekatkan seseorang kepada Allah dan memperbaiki akhlaknya.

Liyundziru: Menjadi Penyejuk dan Peringatan bagi Umat

Kata لِيُنذِرُوا berasal dari akar kata الإنذار, yaitu memberikan peringatan dengan penuh kasih sayang agar seseorang terhindar dari bahaya. Dalam bahasa Al-Qur’an, peringatan bukanlah celaan, melainkan bentuk kasih sayang seorang mukmin kepada saudaranya.

Syaikh Abu Bakr al-Jaza’iri dalam Aysar al-Tafāsīr menjelaskan bahwa mereka yang bertafaqquh berkewajiban mengajarkan hukum-hukum Allah, menjelaskan halal dan haram, serta mengingatkan masyarakat terhadap akibat meninggalkan syariat. Semua itu dilakukan agar umat memperoleh petunjuk, bukan agar mereka merasa dihakimi.

Karena itu, seorang penuntut ilmu hendaknya bertanya kepada dirinya sendiri: apakah ilmu yang dipelajari telah menghadirkan manfaat bagi keluarga, tetangga, masjid, dan masyarakatnya?

Sebagaimana pepatah Arab menyatakan:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Walaupun ungkapan ini lebih dikenal sebagai hikmah yang dinukil para ulama, maknanya sejalan dengan semangat banyak hadis tentang pentingnya memberi manfaat kepada sesama.

Ilmu yang Membuahkan Yahdzarun

Tujuan terakhir dari seluruh proses ini dijelaskan oleh Allah dengan firman-Nya:

﴿لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ﴾

“Agar mereka dapat menjaga diri.”

Menurut penjelasan Syaikh Wahbah az-Zuhaili, kata يَحْذَرُونَ menunjukkan lahirnya kesadaran untuk menjaga diri dari kemaksiatan, penyimpangan akidah, dan berbagai bentuk kerusakan moral. Inilah buah sejati dari ilmu.

Dengan demikian, keberhasilan seorang penuntut ilmu tidak diukur dari banyaknya hafalan, luasnya pengikut, atau tingginya popularitas, melainkan dari sejauh mana ilmunya mampu menghidupkan hati manusia dan mengantarkan mereka semakin dekat kepada Allah.

Dalam perspektif tasawuf, ilmu ibarat cahaya. Cahaya tidak diciptakan untuk disimpan dalam bejana yang tertutup, tetapi untuk menerangi jalan orang lain. Demikian pula tafaqquh fid din; ia bukan perjalanan menuju kemuliaan pribadi, melainkan jalan pengabdian kepada umat.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang belajar dengan ikhlas, mengamalkan dengan istiqamah, kemudian kembali kepada masyarakat membawa cahaya ilmu, sehingga terwujud masyarakat yang memiliki sifat يَحْذَرُونَ—senantiasa menjaga diri dalam ketaatan kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.