Ijlis Binā: Pentingnya Duduk Bersama Orang-Orang Shalih dan Berilmu

by -1506 Views

Ditengah kehidupan modern yang serba cepat, kita mudah terjebak dalam rutinitas, target duniawi, dan hiruk-pikuk informasi. 

Hatipun perlahan mengeras, fokus tercerai, dan ruh kehilangan nutrisi. Dalam konteks inilah para sahabat salafus shalih mengajarkan satu kebiasaan sederhana namun sangat dalam maknanya: duduk bersama untuk memperbarui iman.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Rawahah, ia biasa berkata kepada sahabat lainnya:

اجْلِسْ بِنَا نُؤْمِنْ سَاعَةً

“Duduklah bersama kami sejenak, mari beriman sesaat.”

Dalam riwayat lain:

تَعَالَ نُؤْمِنْ بِرَبِّنَا سَاعَةً
“Mari kita beriman kepada Rabb kita sejenak.”

Riwayat lengkapnya disebut dalam Musnad Ahmad, Syu’ab al-Iman, dan Hilyat al-Awliya’.

Sebagian orang tidak memahami maksud ucapan tersebut, dianggap ajakan beriman sesaat, lalu mengadukannya kepada Nabi ﷺ, beliau justru bersabda:

يَرْحَمُ اللَّهُ ابْنَ رَوَاحَةَ، إِنَّهُ يُحِبُّ الْمَجَالِسَ الَّتِي تَتَبَاهَى بِهَا الْمَلَائِكَةُ
“Semoga Allah merahmati Ibnu Rawahah. Sesungguhnya ia mencintai majelis-majelis yang dibanggakan para malaikat.”

Para ahli hadits menjelaskan bahwa meskipun sanad atsar ini dibahas pada sebagian jalurnya, maknanya shahih dan dikuatkan oleh banyak nash lain.

Pentingnya Duduk Bersama Orang Shalih 

Iman bukan keadaan yang selalu stabil. Ia hidup, bergerak, bertambah dan berkurang. Ibn Taymiyyah menjelaskan:

الإيمان قول وعمل، يزيد وينقص
“Iman adalah ucapan dan amal; ia bertambah dan berkurang.”

Karena itu, maksud نؤمن ساعة bukan berarti seseorang beriman satu jam atau sesaat, melainkan menyediakan waktu khusus untuk memperkuat iman melalui: dzikir, tilawah Al-Qur’an, ilmu, tadabbur, nasihat, atau mengingat akhirat.

Allah ﷻ berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ
“Dan bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pagi dan petang, mengharap wajah-Nya.” (QS. Al-Qur’an Al-Kahfi: 28)

Dalam tafsirnya, Ibn Kathir menjelaskan bahwa ayat ini adalah perintah untuk tetap bersama أهل الخير والصلاح (orang-orang baik dan shalih), karena kebersamaan itu menjaga istiqamah hati.

Majelis Ilmu adalah Nutrisi Ruh

Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa majelis yang dipuji Nabi ﷺ adalah majelis yang menghidupkan hati: membaca Al-Qur’an, belajar ilmu, berdzikir, dan saling menasihati.

Seseorang mungkin kuat secara intelektual, aktif dalam aktivitas sosial, bahkan sibuk berdakwah; tetapi tanpa majelis ruhiyah, jiwanya bisa kering.

Karena itu, para ulama tasawuf menekankan pentingnya mujālasah ash-shāliḥīn (bersahabat dan duduk bersama orang shalih).

Ibn al-Qayyim menjelaskan dalam Madarij al-Salikin bahwa hati mudah tertutup oleh syahwat, lalai, dan kesibukan dunia. Obatnya adalah: dzikir, ilmu, tafakkur, dan persahabatan dengan orang-orang yang mengingatkan kepada Allah.

Relevansi untuk Kehidupan Modern

Hari ini, banyak orang merasa lelah secara batin: informasi melimpah, koneksi sosial banyak, tetapi hati justru terasa kosong.

Di sinilah makna اجلس بنا نؤمن ساعة menjadi sangat relevan.

Kita perlu memiliki ruang rutin untuk menghadiri halaqah atau kajian, membaca Al-Qur’an bersama, berdiskusi ilmu, duduk dengan guru dan sahabat yang saleh. Bukan semata menambah wawasan, tetapi menjaga kebersihan hati.

Majelis seperti ini adalah bentuk “spiritual maintenance”; sebagaimana tubuh membutuhkan makanan, hati pun membutuhkan nutrisi.

Khatimah

Ungkapan sederhana اجلس بنا نؤمن ساعة mengajarkan fiqh kehidupan yang mendalam: iman tidak cukup dipertahankan dengan keyakinan abstrak, tetapi harus dirawat melalui kebiasaan yang benar.

Kadang yang kita butuhkan bukan solusi rumit, melainkan kembali duduk bersama orang-orang baik; mendengar ilmu, membaca ayat, dan mengingat Allah.Barangkali disanalah hati bisa kembali hidup. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.