Dalam perjalanan memahami Madlūl asy-Syahādah, kita telah sampai pada pembahasan mengenai unsur pertama dari manifestasi iman, yaitu Al-Qaul (ucapan).
Jika hati adalah tempat bersemayamnya keyakinan, maka lisan adalah penerjemahnya. Apa yang tersembunyi dalam relung jiwa akan tampak melalui kata-kata yang keluar dari mulut seseorang. Oleh sebab itu, syahadah yang diucapkan bukan sekadar rangkaian huruf dan suara, melainkan deklarasi tauhid yang menghubungkan bumi dengan langit.
Allah SWT berfirman:
﴿ أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ ﴾
“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit.” (QS. Ibrahim: 24)
Imam ath-Thabari dan Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kalimah thayyibah dalam ayat ini adalah kalimat Lā Ilāha Illallāh, sementara pohon yang baik menggambarkan keimanan yang kokoh dalam hati dan melahirkan amal yang bermanfaat. Dengan demikian, syahadah yang terucap di lisan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal tumbuhnya pohon iman dalam kehidupan seorang mukmin.
Hasan al-Banna dalam Hadits ats-Tsulatsa’ menegaskan bahwa kata-kata merupakan cermin isi hati dan kualitas kepribadian seseorang. Karena itu, syahadah adalah ucapan yang paling agung karena ia mencerminkan pengakuan terhadap rububiyah, uluhiyah, dan kekuasaan Allah SWT.
Syahadah: Dzikir Agung dan Identitas Seorang Mukmin
Dalam perspektif tasawuf, lisan memiliki fungsi yang lebih tinggi daripada sekadar alat komunikasi. Ia merupakan sarana dzikir yang menghidupkan hati.
Imam al-Ghazali dalam Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn menjelaskan bahwa dzikir yang terus-menerus diucapkan dengan kesadaran akan mengantarkan hati menuju kehadiran bersama Allah (hudhur ma‘allah).
Kalimat syahadah bukan hanya pernyataan identitas, tetapi juga dzikir yang membersihkan jiwa dari segala bentuk ketergantungan selain kepada Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
« أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ »
“Dzikir yang paling utama adalah Lā Ilāha Illallāh.” (HR. at-Tirmidzi)
Imam al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa keutamaan hadits ini menunjukkan bahwa seluruh dzikir kembali kepada makna tauhid, karena tauhid adalah fondasi segala ibadah dan sumber seluruh kedekatan kepada Allah.
Atas dasar itu, para ulama dakwah seperti Said Hawwa menjelaskan bahwa seorang muslim tidak boleh menyembunyikan identitas keislamannya ketika ia mampu menampakkannya. Syahadah yang terucap adalah bentuk kesaksian kepada dunia bahwa dirinya memilih Allah sebagai Rabb, Islam sebagai jalan hidup, dan Rasulullah ﷺ sebagai teladan.
Namun, syahadah tidak boleh berubah menjadi slogan kosong. Muhammad al-Ghazali mengingatkan bahwa kalimat tauhid harus melahirkan keberanian moral, kejujuran, dan komitmen terhadap kebenaran. Lisan yang mengucapkan syahadah tetapi gemar berdusta atau menyakiti sesama menunjukkan bahwa cahaya tauhid belum sepenuhnya meresap ke dalam hati.
Kejujuran Lisan dan Jalan Menuju Keikhlasan
Salah satu maqam penting dalam perjalanan menuju Allah adalah ash-shidq (kejujuran). Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa kejujuran merupakan keselarasan antara ucapan, keyakinan, dan perbuatan. Ketika ketiganya menyatu, lahirlah seorang hamba yang ikhlas.
Inilah rahasia mengapa syahadah harus diucapkan dengan penuh kesadaran. Bahaya terbesar bukanlah tidak mampu berbicara tentang iman, melainkan mengucapkan sesuatu yang tidak diyakini oleh hati. Allah SWT mengingatkan tentang sifat orang munafik:
﴿ يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ ﴾
“Mereka mengatakan dengan lisannya apa yang tidak terdapat dalam hati mereka.” (QS. Al-Fath: 11)
Menurut Imam Fakhruddin ar-Razi, ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan ucapan bergantung pada kesesuaiannya dengan kondisi hati. Karena itu, syahadah yang benar harus lahir dari hati yang jujur dan tunduk kepada Allah.
Pada akhirnya, Al-Qaul bukan sekadar pengucapan formal untuk memasuki Islam. Ia adalah dzikir agung, identitas hidup, dan pantulan cahaya hati. Ketika lisan mengucapkan Lā Ilāha Illallāh dengan penuh kejujuran, kalimat itu akan membersihkan jiwa, menguatkan ukhuwah, dan mengarahkan seluruh kehidupan menuju ridha Allah SWT.
Darisinilah kita kemudian melangkah ke pembahasan berikutnya: bagaimana syahadah yang telah terucap di lisan menghunjam menjadi keyakinan yang kokoh di dalam hati melalui At-Tashdīq, pembenaran tanpa keraguan. (im)







