Siti Munjiyah: Ketika Mimbar Menjadi Jalan Pencerahan

by -1660 Views

Dalam perjalanan dakwah, tidak semua perjuangan dilakukan melalui organisasi atau lembaga pendidikan. Ada kalanya perubahan hadir melalui kata-kata yang jernih, argumentasi yang kuat, dan keberanian menyampaikan kebenaran dengan penuh hikmah.

Diantara tokoh perempuan awal ’Aisyiyah yang memiliki keistimewaan tersebut adalah Siti Munjiyah.

Beliau dikenal sebagai mubaligah yang memiliki kemampuan berbicara di depan publik dengan sangat baik. Namun kekuatan utamanya bukan terletak pada kefasihan retorika semata, melainkan pada kedalaman ilmu, keluasan wawasan, dan ketulusan dalam membela kemaslahatan umat.

Siti Munjiyah menunjukkan bahwa mimbar bukan sekadar tempat berbicara. Mimbar adalah sarana mendidik masyarakat, meluruskan pemahaman, dan mengajak umat kembali kepada nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Dakwah dengan Hikmah dan Ilmu

Allah Ta’ala berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Menurut Imam Ibnu Katsir, hikmah dalam ayat ini adalah menyampaikan kebenaran dengan ilmu, kelembutan, dan cara yang sesuai dengan kondisi masyarakat yang dihadapi.

Prinsip inilah yang tampak dalam dakwah Siti Munjiyah. Ketika berbicara tentang kedudukan perempuan dalam Islam, beliau tidak menggunakan bahasa permusuhan atau pertentangan. Sebaliknya, beliau mengajak masyarakat kembali melihat ajaran Islam secara utuh.

Beliau mengingatkan bahwa sejak awal, Islam telah mengangkat martabat perempuan, memberikan hak-hak kemanusiaan yang jelas, serta membuka ruang bagi perempuan untuk berkontribusi dalam kehidupan sosial dan pendidikan.

Karena itu, solusi bagi berbagai persoalan perempuan bukanlah menjauh dari agama, melainkan semakin memahami ajaran agama secara benar.

Kongres Perempuan 1928: Menyampaikan Suara Umat

Salah satu momen penting dalam perjalanan Siti Munjiyah adalah keterlibatannya dalam Kongres Perempuan Indonesia tahun 1928 di Yogyakarta.

Dalam forum yang mempertemukan berbagai unsur masyarakat tersebut, beliau menyampaikan pandangan Islam tentang kemuliaan perempuan, pentingnya pendidikan, dan tanggung jawab bersama dalam membangun bangsa.

Pesan yang beliau sampaikan sesungguhnya sangat sederhana namun mendalam: perempuan yang berilmu akan melahirkan keluarga yang kuat, dan keluarga yang kuat akan melahirkan masyarakat yang kuat.

Pandangan ini memiliki landasan yang kokoh dalam tradisi keilmuan Islam. Para ulama tarbiyah sejak dahulu menekankan pentingnya peran ibu sebagai pendidik pertama bagi anak-anaknya.

Imam Ibnul Qayyim dalam Tuhfatul Maudud menjelaskan bahwa pembentukan karakter anak dimulai jauh sebelum ia dewasa. Karena itu, kualitas pendidikan seorang ibu memiliki pengaruh besar terhadap kualitas generasi yang akan datang.

Di sinilah pentingnya perempuan memperoleh akses terhadap ilmu dan pendidikan yang baik.

Menyuarakan Keadilan dengan Akhlak

Siti Munjiyah juga dikenal sebagai tokoh yang peduli terhadap berbagai persoalan sosial yang dihadapi perempuan pada masanya. Namun menariknya, beliau memperjuangkan nilai-nilai keadilan tanpa meninggalkan adab dan akhlak.

Beliau tidak mengajak masyarakat untuk saling menyalahkan. Beliau juga tidak membangun narasi pertentangan antara laki-laki dan perempuan. Yang beliau lakukan adalah mengajak umat kembali kepada prinsip-prinsip keadilan yang diajarkan Islam.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil dan berbuat ihsan.”  (QS. An-Nahl: 90)

Menurut Imam Al-Qurthubi, ayat ini merupakan salah satu ayat yang paling komprehensif dalam menjelaskan prinsip kehidupan sosial Islam. Keadilan harus berjalan bersama ihsan, sehingga perubahan sosial tidak melahirkan permusuhan, tetapi menghadirkan kemaslahatan.

Inilah pendekatan yang diwariskan oleh para tokoh awal ’Aisyiyah.

Pelajaran untuk Muslimah Masa Kini

Dari jejak Siti Munjiyah, kita belajar bahwa suara seorang Muslimah dapat menjadi sumber perubahan yang besar apabila dibangun di atas ilmu, akhlak, dan keikhlasan.

Dakwah tidak selalu dilakukan dari mimbar besar. Ia dapat dimulai dari majelis taklim, ruang kelas, komunitas, bahkan dari percakapan sehari-hari yang menghadirkan ilmu dan kebaikan.

Dalam perspektif tasawuf, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa lisan yang paling bernilai adalah lisan yang digunakan untuk mengajak manusia kepada Allah dan memperbaiki kehidupan sesama.

Karena itu, warisan terbesar Siti Munjiyah bukan sekadar pidato-pidato yang pernah beliau sampaikan. Warisan terbesarnya adalah keberanian untuk menyuarakan kebenaran dengan hikmah, menjaga adab dalam perbedaan, serta menjadikan ilmu sebagai cahaya bagi masyarakat.Dan itulah yang tetap dibutuhkan oleh umat hingga hari ini. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.