Dari Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ»
“Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan…” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini ditempatkan oleh Imam an-Nawawi sebagai pembuka dalam Al-Arba’un an-Nawawiyyah. Para ulama memandangnya sebagai salah satu hadits paling agung dalam Islam.
Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata:
“هذا الحديث يدخل في سبعين باباً من الفقه”
“Hadits ini masuk ke dalam tujuh puluh bab ilmu fiqih.”
Sementara Imam Ahmad bin Hanbal menjadikannya salah satu dari tiga hadits yang menjadi poros agama Islam.
Dalam penjelasannya, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami’ al-‘Ulum wal Hikam menerangkan bahwa hadits ini menjadi timbangan bagi seluruh amal batin sebagaimana hadits-hadits lainnya menjadi timbangan bagi amal lahir.
Niat dalam Pandangan Al-Qur’an
Walaupun lafaz niat tidak banyak disebut secara eksplisit dalam Al-Qur’an, substansi ikhlas menjadi ruh seluruh ajaran Islam. Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ﴾
(البينة: ٥)
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kewajiban memurnikan seluruh amal hanya untuk Allah dan menjauhi segala bentuk riya maupun syirik tersembunyi.
Demikian pula Sayyid Quthb dalam Fi Zhilal al-Qur’an menerangkan bahwa ikhlas adalah pembebasan jiwa dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah, termasuk penghambaan kepada pujian manusia.
Niat sebagai Pintu Tazkiyatun Nafs
Para ulama tasawuf menempatkan niat sebagai langkah pertama dalam perjalanan menuju Allah.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menjelaskan bahwa hati adalah raja bagi seluruh anggota tubuh. Jika hati lurus, maka amal akan lurus. Jika hati rusak, maka amal pun kehilangan nilainya.
Senada dengan itu, Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarij as-Salikin menyebutkan bahwa ikhlas dan mutaba’ah kepada Rasulullah merupakan dua sayap yang mengantarkan seorang hamba menuju ridha Allah.
Adapun Sa’id Hawwa dalam Tarbiyatuna ar-Ruhiyyah menegaskan bahwa mujahadah terbesar seorang mukmin bukan hanya memperbanyak amal, tetapi menjaga kemurnian tujuan amal tersebut. Banyak amal yang tampak besar di mata manusia, namun kecil di sisi Allah karena tercampuri riya. Sebaliknya, amal yang tampak sederhana dapat menjadi sangat agung karena keikhlasannya.
Pelajaran Tazkiyah dari Hadits Pertama Arba’in
Berikut ini beberapa mutiara hikmah yang bisa dipetik dari hadits pertama arbain dalam hal tazkiatun nafs.
1. Ikhlas adalah Ruh Amal
Amal tanpa niat yang benar ibarat jasad tanpa ruh. Ibnu Rajab berkata:
“أعمال القلوب أصل أعمال الجوارح”
“Amal hati merupakan pokok bagi amal anggota badan.”
Karena itu, pembinaan ruhani harus dimulai dari pembinaan hati.
2. Muraqabah Sebelum dan Sesudah Amal
Seorang mukmin perlu senantiasa bertanya kepada dirinya: Untuk siapa aku melakukan ini?
Tradisi muhasabah seperti ini banyak ditekankan oleh Imam al-Ghazali dan Sa’id Hawwa sebagai sarana membersihkan hati dari penyakit tersembunyi.
3. Mengubah Kebiasaan Menjadi Ibadah
Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan dalam syarah Arba’in Nawawiyyah bahwa tidur, makan, bekerja, dan aktivitas duniawi lainnya dapat bernilai ibadah apabila diniatkan untuk menguatkan diri dalam ketaatan kepada Allah.
Di sinilah luasnya rahmat Islam. Seorang mukmin tidak hanya beribadah di masjid, tetapi juga dapat beribadah dalam seluruh aktivitas kehidupannya.
4. Membersihkan Jiwa dari Riya dan Sum’ah
Penyakit riya merupakan salah satu bentuk syirik kecil yang sangat dikhawatirkan Rasulullah ﷺ. Oleh sebab itu, hadits niat menjadi benteng pertama dalam proses penyucian jiwa.
Semakin seorang hamba berorientasi kepada Allah, semakin ringan ia menghadapi pujian maupun celaan manusia.
Penutup
Hadits pertama dalam Arba’in Nawawiyyah bukan sekadar pembahasan fiqih tentang niat, tetapi merupakan fondasi tazkiyatun nafs dan pembangunan kepribadian mukmin. Dari sinilah lahir keikhlasan, ukhuwah, keteguhan dakwah, dan kematangan ruhani.
Ketika niat telah lurus, amal menjadi berkah. Ketika hati telah bersih, perjalanan menuju Allah menjadi lebih dekat. Sebagaimana ditegaskan oleh para ulama tarbiyah, kemenangan seorang mukmin tidak pertama-tama dimulai dari perubahan dunia di sekitarnya, tetapi dari keberhasilannya menata hati agar seluruh hidupnya benar-benar hanya tertuju kepada Allah سبحانه وتعالى. (im)







