Dari Pembaca Menjadi Pemikir

by -1540 Views

Pada akhirnya, membaca bukanlah tujuan akhir pembinaan intelektual kader dakwah. Membaca adalah pintu masuk menuju kemampuan yang lebih tinggi: berpikir, mengolah, mensintesis, dan melahirkan gagasan. 

Seorang kader tidak cukup menjadi reader yang mampu mengumpulkan banyak informasi. Ia harus tumbuh menjadi thinker yang mampu mengolah informasi menjadi pemahaman dan pemahaman menjadi gagasan yang bermanfaat bagi umat.

Di sinilah menulis memiliki posisi yang sangat penting. Menulis bukan sekadar aktivitas membuat content untuk media sosial. Menulis adalah latihan berpikir yang memaksa seseorang memperjelas apa yang sebenarnya ia yakini, mengapa ia meyakininya, dan apa bukti yang menopang keyakinan tersebut.

Tom Nichols dalam The Death of Expertise menegaskan: “Penelitian membutuhkan kemampuan untuk menemukan informasi otentik, merangkumnya, menganalisisnya, menulisnya, dan mempresentasikannya kepada orang lain. Ini bukan hanya domain ilmuwan dan akademisi, melainkan keterampilan dasar yang harus diajarkan oleh pendidikan sekolah menengah kepada setiap lulusannya karena pentingnya hal ini dalam berbagai pekerjaan dan karir”.

Kader yang tidak terlatih menulis akan mudah menjadi konsumen gagasan. Ia banyak membaca, tetapi pengetahuannya berserakan tanpa struktur. 

Ian Tuhovsky dalam Critical Thinking mengingatkan: “Berpikir rasional menuntut kerja keras, usaha, pertimbangan mendalam, segala hal yang justru dihindari oleh sistem kognitif bawaan kita”.

Menulis adalah salah satu cara memaksa diri mengaktifkan Sistem 2, yaitu cara berpikir lambat, analitis, dan reflektif.

Menulis Memaksa Gagasan Menjadi Jelas

Seorang kader harus belajar membedakan opini, argumentasi, dan analisis. Opini dapat berupa pandangan pribadi. Argumentasi membutuhkan klaim yang disokong premis dan bukti. Sementara analisis membedah persoalan, melihat hubungan sebab-akibat, serta menguji asumsi yang tersembunyi.

Kesalahan yang sering terjadi di ruang publik adalah ketika opini pribadi diberi label sebagai “analisis ilmiah”. 

Tom Nichols mengingatkan: “Bukan hanya semakin banyak orang awam yang kekurangan pengetahuan dasar, mereka juga menolak aturan fundamental tentang bukti dan menolak untuk belajar bagaimana membuat argumen yang logis. Dengan melakukan itu, mereka berisiko membuang akumulasi pengetahuan selama berabad-abad dan merusak praktik serta kebiasaan yang memungkinkan kita mengembangkan pengetahuan baru”.

Maka, menulis harus dimulai dengan menentukan tesis. Tesis adalah gagasan utama atau posisi intelektual yang hendak dibuktikan. Setelah itu, kader menyusun premis, menghadirkan data dan referensi, lalu membangun argumentasi secara sistematis.

Ian Tuhovsky menjelaskan pentingnya metakognisi: “Tetapi sekarang mari kita tambahkan lapisan lain ke dalam cerita, hal yang membuat narasi menjadi menarik karena Anda, narator dari cerita Anda sendiri, kini akan mengamati kehidupan dan pilihan-pilihan Anda dari rasa ingin tahu intelektual, salah satu yang akan mengungkap prinsip-prinsip dasar dan pemikiran di balik keputusan Anda. Anda akan memahami pertempuran dalam pikiran Anda antara intuisi dan logika”.

Dengan demikian, menulis sesungguhnya adalah latihan mengamati pikiran sendiri.

Menyusun Argumentasi dan Mengantisipasi Keberatan

Tulisan yang matang tidak berhenti pada pernyataan tesis. Kader harus bertanya: apa dasar tesis ini? Apa bukti yang mendukungnya? Apakah premis-premisnya valid? Adakah hidden assumptions yang belum diperiksa?

Lebih jauh, penulis harus mampu melakukan anticipating objections: membayangkan keberatan paling kuat dari pembaca yang berbeda pandangan. Disinilah prinsip Steelman Argument dapat diterapkan—membangun versi terbaik dari argumen lawan sebelum menjawabnya.

Kesimpulan pun harus lahir secara logis dari seluruh argumentasi. Jangan memasukkan klaim baru yang tidak pernah dibuktikan sebelumnya. Jika tidak, tulisan berubah menjadi sekadar retorika.

Tom Nichols menggambarkan akibat buruk ketika logika argumentasi tidak dikuasai: “Perdebatan terjadi, tetapi orang-orang yang tidak memiliki gagasan tentang bagaimana membuat argumen yang logis (atau yang tidak memiliki pengetahuan dasar yang cukup dalam subjek yang didebatkan) tidak dapat menyadari kapan mereka gagal menawarkan tanggapan yang koheren. Dalam waktu singkat, sang ahli menjadi frustrasi dan orang awam merasa dihina. Semua orang berjalan pergi dengan perasaan marah”.

Tradisi Keilmuan Islam: Dari Ilmu Menuju Amal

Tradisi keilmuan Islam tidak mengenal pemisahan antara ilmu, akhlak, dan tanggung jawab. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menempatkan Mantiq sebagai instrumen untuk menimbang kebenaran dan menekankan pentingnya kitabah dalam menjaga ilmu.

Said Hawwa melalui Jundullāh Tsaqāfatan wa Akhlāqan juga mengarahkan pembinaan kader menuju penguasaan tsaqafah yang terstruktur, bukan sekadar konsumsi informasi yang terfragmentasi. 

Sementara Muhammad al-Ghazali dalam Fikih Dakwah menekankan pentingnya kekuatan hujah, kejernihan penyampaian, dan kemampuan menyentuh akal serta hati manusia.

Kader dakwah tidak boleh berhenti sebagai pembaca. Ia harus mampu mengolah bacaan menjadi pemikiran dan pemikiran menjadi kontribusi.

Kesimpulan: Dari Commentator Menjadi Thinker

Era digital telah melahirkan begitu banyak commentator: cepat berkomentar, cepat membagikan, tetapi tidak selalu cepat memahami. Dakwah tidak membutuhkan lebih banyak komentator semacam itu. 

Dakwah membutuhkan thinker, manusia yang mampu membaca secara mendalam, berpikir secara sistematis, menulis dengan bertanggung jawab, dan melahirkan gagasan bagi umat.

Perjalanan dari konsumen gagasan menjadi produsen gagasan memang membutuhkan disiplin. Tetapi di situlah kematangan kader dibentuk. Membaca memperkaya pikiran; menulis menertibkan pikiran; sedangkan dakwah menguji apakah pikiran tersebut benar-benar memberi manfaat.

Maka, ambillah pena. Tulislah apa yang kita baca. Ujilah apa yang kita pikirkan. Dan tundukkan seluruh proses intelektual itu kepada kebenaran wahyu. Dengan demikian, kader tidak hanya menjadi orang yang tahu, tetapi menjadi orang yang mampu berpikir, mampu menjelaskan, dan mampu membimbing umat.(im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.