Lebih Cepat Berkomentar Daripada Membaca

by -1512 Views

Kita telah menempuh perjalanan transisi kognitif dalam Buku III ini. Jika Bab VII mengajak kader bermigrasi dari komentator instan menjadi pemikir (thinker), maka Bab VIII menjadi penutup yang membongkar penyakit paling mewabah di era digital: berkomentar sebelum membaca. 

Di media sosial, kecepatan reaksi sering dianggap sebagai lambang eksistensi, sementara keheningan untuk berpikir dianggap sebagai ketertinggalan. Padahal, kader dakwah membutuhkan adab intelektual: membaca sebelum berbicara, memahami sebelum menilai, dan berpikir sebelum bereaksi.

Budaya Reaktif: Ketika Jempol Mendahului Akal

Media sosial mendorong manusia memberikan reaksi secara impulsif. Tom Nichols dalam The Death of Expertise mencatat: “Jarak dan anonimitas menghilangkan kesabaran serta prasangka baik. Akses yang cepat terhadap informasi dan kemampuan untuk berbicara tanpa harus mendengarkan, ditambah dengan ‘keberanian di balik papan ketik’ (keyboard courage) yang memungkinkan orang mengatakan sesuatu kepada orang lain secara elektronik yang tidak akan pernah mereka katakan secara langsung, pada akhirnya mematikan percakapan.” 

Twitter, Facebook, Reddit, TikTok, dan YouTube kemudian memperkuat budaya tersebut. Nichols menegaskan: “Twitter, Facebook, Reddit, dan berbagai situs daring lainnya dapat menjadi wadah bagi diskusi yang cerdas. Namun, terlalu sering berbagai platform tersebut dan ruang-ruang lainnya berubah menjadi tidak lebih dari rentetan pernyataan, kepastian sepihak, informasi yang buruk, dan hinaan, alih-alih pertukaran gagasan yang sesungguhnya. Media visual seperti TikTok dan YouTube membuat keadaan menjadi semakin sulit karena orang semakin sulit berhenti sejenak dan menerapkan nalar terhadap gambar maupun video.” 

Ian Tuhovsky dalam Critical Thinking mengingatkan bahwa manusia dahulu membutuhkan refleks cepat untuk bertahan hidup: “Masa-masa itu telah berlalu, tetapi ketergantungan kita pada refleks tersebut belumlah berlalu. Hal itu perlu diubah.” 

Masalahnya, refleks yang dahulu berguna kini digunakan untuk buy, hit send, click, and read not to learn but to prove a point. Kader akhirnya berkomentar bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk membuktikan dirinya benar.

Dorongan Memiliki Opini tentang Segala Hal

Media sosial juga menciptakan ilusi bahwa setiap orang harus mempunyai pendapat tentang setiap persoalan. Nichols menyebutnya sebagai: “rasa kesetaraan yang palsu dan ilusi egalitarianisme yang diciptakan oleh sifat media sosial yang serba langsung dan instan.” 

Internet bahkan membuat kita seolah-olah semuanya menjadi Cliff Clavin: “Teknologi telah menciptakan sebuah dunia di mana sekarang kita semua seolah-olah menjadi Cliff Clavin. Dan itu adalah sebuah masalah.” 

Sedikit informasi membuat seseorang merasa layak berbicara tentang segala sesuatu. Padahal, respecting a person’s opinion does not mean granting equal respect to that person’s knowledge. Kesetaraan hak berbicara tidak berarti kesetaraan kompetensi.

Tidak semua persoalan membutuhkan komentar seorang kader. Ada persoalan yang membutuhkan ilmu, ada yang membutuhkan tabayyun, dan ada pula yang lebih baik diserahkan kepada ahlinya.

Hifzhul Lisan: Kedewasaan dalam Diam

Tradisi Islam justru mengajarkan pengendalian lisan sebagai bagian dari tazkiyatun nufus. Said Hawwa dalam Al-Mustakhlas fī Tazkiyatil Anfus menulis:

“حفظ اللسان عن الهذيان والكذب والغيبة والنميمة والفحش والمراء، وإلزامه السكوت، وشغله بذكر الله سبحانه، وتلاوة القرآن فهذا صوم اللسان”.

Menjaga lisan dari perkataan sia-sia, dusta, ghibah, namimah, ucapan keji, dan mira’ adalah bentuk hifzhul lisan. Dalam konteks digital, lisan tidak hanya berarti ucapan, tetapi juga jempol yang mengetik komentar dan membagikan informasi.

Diam dalam kondisi tertentu bukan kelemahan. Diam dapat menjadi bentuk kedewasaan ketika kita belum memiliki ilmu yang cukup, belum melakukan verifikasi, atau ketika komentar justru memperbesar fitnah.

Pause Before Response: Memberi Ruang bagi Akal

Ian Tuhovsky menawarkan strategi sederhana:

“Banyak bias dapat dikurangi jika Anda mau memberi diri sendiri waktu untuk memproses informasi. Ketika Anda merenungkan proses penalaran Anda, Anda akan lebih mungkin mempertimbangkan berbagai sudut pandang dan tidak terlalu bergantung pada intuisi.” 

Inilah prinsip pause before response. Sebelum berkomentar, berhentilah sejenak. Tanyakan: Apakah saya sudah membaca sumber primernya? Apakah saya memahami konteksnya? Apakah informasi ini telah terverifikasi? Apakah komentar saya membawa maslahat?

Tuhovsky bahkan mengingatkan:

“Mungkin Anda tidak bisa mendengarkan dengan saksama, atau tidak bisa diam sejenak?” 

Jeda sesaat dapat menjadi pembatas antara respons yang lahir dari ilmu dan respons yang lahir dari emosi.

Kapan Kader Harus Berbicara?

Dalam perspektif dakwah, syaikh Muhammad al-Ghazali, menjelaskan: dakwah membutuhkan hujah yang jernih, kebebasan berpikir yang bertanggung jawab, serta orientasi maslahat. Karena itu, seorang kader sebaiknya berbicara ketika tiga syarat terpenuhi: berbasis ilmu yang kokoh, telah melewati proses tabayyun, dan mendatangkan maslahat.

Jika belum memenuhi ketiganya, menahan diri jauh lebih selamat.

Dengan demikian, budaya reaktif harus diganti menjadi budaya reflektif. Kader dakwah tidak perlu menjadi orang yang paling cepat berkomentar, tetapi harus menjadi orang yang paling bertanggung jawab ketika berbicara.

Kesimpulan: Merestorasi Keheningan Intelektual

Penutup ini sekaligus merupakan ajakan untuk merebut kembali kedaulatan kognitif dari algoritma yang bising. Jangan biarkan jempol bergerak lebih cepat daripada akal. Bacalah sebelum berbicara, pahami sebelum menilai, bertanyalah sebelum menyimpulkan, dan diamlah ketika ilmu belum mencukupi.

Dengan merestorasi hifzhul lisan, pause before response, dan budaya membaca yang mendalam, kita membangun kader yang tenang dalam berpikir dan bertanggung jawab dalam berbicara. 

Inilah adab intelektual yang dibutuhkan dakwah: bukan sekadar banyak suara, tetapi suara yang lahir dari ilmu, ketenangan, kejujuran, dan tanggung jawab di hadapan Allah dan umat. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.