Pada masa lalu, tantangan dakwah lebih banyak berkaitan dengan keterbatasan sarana penyampaian. Seorang da’i harus menempuh perjalanan panjang agar risalah Islam dapat sampai kepada masyarakat.
Kini, tantangan itu berubah secara mendasar.
Dunia digital menjadikan hampir setiap orang mampu menyampaikan pendapat kepada ribuan, bahkan jutaan orang dalam hitungan detik. Persoalannya bukan lagi sedikitnya penyampai pesan, melainkan melimpahnya suara yang saling berebut perhatian.
Perubahan ini menuntut kaum Muslimin untuk kembali merenungkan adab lisan yang telah diajarkan Islam sejak awal. Allah Ta’ala berfirman:
﴿مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾
“Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf [50]: 18)
Dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan setiap ucapan manusia berada dalam pengawasan Allah dan akan dimintai pertanggungjawaban, sehingga seorang mukmin dituntut berhati-hati terhadap seluruh perkataannya. Penjelasan serupa juga ditegaskan oleh Imam Ath-Thabari bahwa tidak ada ucapan yang luput dari pencatatan para malaikat.
Media Sosial Bukan Penyebab, Melainkan Pengganda
Dalam khazanah tazkiyatun nafs, para ulama telah lama membahas آفات اللسان (āfāt al-lisān), berbagai penyakit lisan yang berakar pada penyakit hati. Karena itu, media sosial sesungguhnya bukan penyebab utama kerusakan adab berbicara. Ia hanyalah amplifier yang memperbesar kecenderungan hati yang telah ada sebelumnya.
Said Hawwa dalam Madkhal Ila Dakwah Ikhwanul Muslimin menegaskan bahwa dakwah bukan sekadar kemampuan berbicara, tetapi merupakan buah dari kebersihan hati dan keikhlasan seorang da’i. Seorang penyampai risalah tidak hanya bertanggung jawab atas isi pesannya, tetapi juga atas niat yang melatarinya. Dakwah yang kehilangan dimensi tazkiyah mudah berubah menjadi panggung pencarian popularitas.
Pandangan ini sejalan dengan temuan Sherry Turkle dalam Reclaiming Conversation. Ia menunjukkan bahwa media digital mendorong manusia untuk terus melakukan self-performance, menampilkan citra diri yang telah disusun, diedit, dan diperindah agar memperoleh pengakuan sosial. Dalam keadaan demikian, keinginan berbicara perlahan bergeser dari menyampaikan kebenaran menjadi mengejar perhatian.
Syahwatul Kalam dan Penyakit Hati
Para ulama tasawuf mengingatkan bahwa penyakit hati sering kali menyamar sebagai amal yang tampak baik. Keinginan berbicara tentang agamapun tidak selalu lahir dari keikhlasan. Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menjelaskan bahwa riya’, hubb al-jah (cinta kedudukan), dan cinta pujian dapat memasuki amal tanpa disadari pelakunya.
Karena itu Rasulullah ﷺ memberikan kaidah agung:
«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini merupakan salah satu prinsip pokok akhlak Islam. Diam lebih utama daripada ucapan yang tidak membawa maslahat atau dikhawatirkan menimbulkan mudarat.
Menghidupkan Kembali Adab Percakapan
Neil Postman dalam Amusing Ourselves to Death mengingatkan bahwa medium komunikasi memengaruhi cara manusia memahami kebenaran. Ketika ruang publik didominasi oleh kecepatan, sensasi, dan hiburan, pembicaraan yang membutuhkan ketenangan dan kedalaman sering kehilangan tempatnya.
Kebenaran bukan selalu ditolak, tetapi dapat tenggelam ditengah banjir informasi yang tidak relevan.
Dalam perspektif Islam, keadaan ini mengingatkan pentingnya as-shamt (diam yang bernilai ibadah). Diam bukan berarti pasif terhadap kemungkaran, melainkan kemampuan mengendalikan lisan agar hanya berbicara ketika ucapan tersebut mendekatkan manusia kepada Allah dan memperkuat ukhuwah.
Seorang mukmin tidak diukur dari seberapa sering ia berbicara, tetapi dari seberapa besar manfaat ucapannya.
Di era ketika setiap orang dapat menjadi penyampai pesan, tantangan terbesar bukanlah memiliki suara, melainkan memiliki hati yang bersih sebelum bersuara. Dakwah yang lahir dari jiwa yang ditarbiyah akan menghadirkan kelembutan, persatuan umat, dan kasih sayang.
Sebaliknya, dakwah yang digerakkan oleh syahwat berbicara hanya akan memperbanyak kebisingan (noise) tanpa menghadirkan hidayah. (im)





