Al-Qur’an adalah kalam Allah yang setiap lafaznya dipilih dengan hikmah yang sempurna. Para ulama tafsir dan bahasa Arab sepakat bahwa tidak ada satu kata pun dalam Al-Qur’an yang digunakan tanpa tujuan.
Ketika Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menggunakan kata ﴿لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ﴾ dalam QS. At-Taubah ayat 122, pilihan tersebut mengandung pelajaran yang sangat mendalam bagi setiap penuntut ilmu.
Allah berfirman:
﴿فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ﴾
“Mengapa tidak pergi dari setiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan tentang agama, dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya…” (QS. At-Taubah [9]: 122)
Menurut Wahbah az-Zuhaili dalam Al-Tafsīr al-Munīr, penggunaan kata liyatafaqqahū menunjukkan bahwa Allah menghendaki adanya kelompok yang memiliki kedalaman ilmu sehingga mampu membimbing umat dengan benar.
Ayat ini bukan sekadar perintah belajar, tetapi perintah membangun kader ulama dan pembimbing masyarakat.
Kajian Bahasa Arab: Makna فقه dan تفقه
Secara bahasa, kata الفقه (al-fiqh) berarti memahami sesuatu secara mendalam. Al-Raghib al-Isfahani dalam Al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur’ān menjelaskan bahwa fiqh adalah pemahaman yang mampu menangkap makna-makna yang tersembunyi, bukan sekadar mengetahui makna lahiriah suatu persoalan.
Adapun kata التفقه (at-tafaqquh) berasal dari wazan تفعّل (tafa”ala). Para ulama sharaf menjelaskan bahwa pola ini menunjukkan makna takalluf (kesungguhan), mujāhadah (ikhtiar yang terus-menerus), dan tadarruj (proses bertahap).
Dengan demikian, tafaqquh bukan keadaan yang datang dengan sendirinya, melainkan buah dari kesabaran dalam belajar, berdialog dengan para guru, menelaah kitab-kitab ulama, serta membersihkan hati agar ilmu menjadi cahaya.
Dalam Aysar al-Tafāsīr, Abu Bakar Jabir al-Jaza’iri menjelaskan bahwa tafaqquh fi ad-dīn berarti memahami hukum-hukum Allah, mengetahui halal dan haram, serta menyelami hikmah dan rahasia syariat sehingga ilmu tersebut membentuk akhlak dan amal seorang mukmin.
Mengapa Bukan Ta’lim atau Ta’allum?
Muncul pertanyaan yang menarik: mengapa Al-Qur’an tidak menggunakan kata التعليم (at-ta’līm) atau التعلّم (at-ta’allum)?
Ta’līm pada hakikatnya menunjuk kepada proses mengajar, sedangkan ta’allum lebih dekat kepada aktivitas belajar. Keduanya merupakan bagian penting dalam pendidikan Islam. Namun, Allah memilih kata tafaqquh karena tujuan yang hendak dicapai bukan sekadar berlangsungnya proses belajar-mengajar, melainkan lahirnya pemahaman yang mendalam dan membentuk kepribadian.
Sa’id Hawwa dalam Al-Asās fi al-Tafsīr menjelaskan bahwa kelompok yang bertafaqquh dipersiapkan menjadi manusia Rabbani yang menjaga nilai-nilai wahyu di tengah masyarakat. Mereka bukan hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menghadirkan keteladanan, kebijaksanaan, dan kematangan ruhani.
Dengan demikian, tafaqquh menggabungkan dimensi ilmu, amal, dakwah, dan tazkiyah sekaligus.
Islam Menginginkan Kedalaman, Bukan Banyaknya Informasi
Di zaman digital, manusia hidup di tengah banjir informasi. Berbagai pengetahuan dapat diakses dalam hitungan detik. Namun, Al-Qur’an mengingatkan bahwa yang dibutuhkan umat bukan sekadar banyak mengetahui, melainkan memiliki kedalaman memahami.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ»
“Barang siapa dikehendaki Allah memperoleh kebaikan, niscaya Allah akan memberinya pemahaman yang mendalam tentang agama.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj, sehingga termasuk hadis sahih yang disepakati (muttafaq ‘alaih). Imam Yahya ibn Sharaf al-Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan kemuliaan ilmu agama serta keutamaan pemahaman yang benar dibandingkan sekadar banyaknya pengetahuan.
Dalam perspektif tazkiyah, ilmu yang mendalam akan melahirkan hati yang lembut, rasa takut kepada Allah, dan kasih sayang kepada sesama. Sebaliknya, ilmu yang hanya berhenti sebagai informasi mudah melahirkan perdebatan, merasa paling benar, bahkan mengikis ukhuwah.
Karena itu, tujuan tafaqquh adalah membentuk manusia yang mampu menjalankan amanah ayat berikutnya:
﴿وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ… لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ﴾
Ilmu harus menjadi cahaya yang menuntun manusia menuju ketakwaan, bukan sekadar memperbanyak wawasan.
Penutup
Pemilihan kata التَّفَقُّهُ dalam QS. At-Taubah ayat 122 mengajarkan bahwa Islam membangun peradaban melalui kedalaman ilmu, bukan melalui banyaknya informasi.
Umat memerlukan pribadi-pribadi yang sabar menempuh jalan ilmu, membersihkan hati melalui tazkiyah, kemudian kembali kepada masyarakat untuk membimbing mereka dengan hikmah dan kasih sayang.
Dari proses tafaqquh itulah akan lahir generasi Rabbani: kuat ilmunya, jernih hatinya, lembut akhlaknya, serta mampu menjaga ukhuwah dan persatuan umat di tengah perubahan zaman. (im)





