Dari Mimbar Masjid ke Timeline

by -1525 Views

Sejarah komunikasi manusia sedang mengalami perubahan yang sangat mendasar. Dahulu, penyampaian ilmu dan dakwah berlangsung melalui mimbar-mimbar yang memiliki otoritas keilmuan. 

Seorang ustadz berbicara, sementara para penuntut ilmu mendengarkan dengan adab. Hari ini, perkembangan teknologi digital telah mengubah pola tersebut. Hampir setiap orang memiliki “mimbar” berupa akun media sosial yang memungkinkan ia menyampaikan pendapat kepada khalayak luas dalam hitungan detik.

Perubahan ini bukan sekadar pergantian alat komunikasi, melainkan perubahan budaya yang mempengaruhi cara manusia berpikir, berbicara, dan memandang otoritas ilmu. Seorang Muslim tidak cukup hanya memahami teknologi, tetapi juga harus memahami adab syariat dalam menggunakannya.

Dari “Satu ke Banyak” Menjadi “Semua ke Semua”

Neil Postman dalam Amusing Ourselves to Death menjelaskan bahwa setiap media komunikasi membentuk cara manusia memahami kebenaran. Pada masa budaya tulisan dan percetakan, masyarakat dibiasakan berpikir runtut, sabar, dan analitis. 

Sebaliknya, media modern cenderung mengutamakan kecepatan, kesan visual, dan hiburan sehingga ruang bagi perenungan semakin menyempit.

Dalam sejarah Islam, tradisi mimbar memiliki fungsi yang jauh lebih dalam daripada sekadar tempat berbicara. Mimbar merupakan simbol amanah ilmu. Tidak setiap orang berhak berbicara atas nama agama tanpa bekal ilmu, adab, dan tanggung jawab.

Allah Ta’ala berfirman,

﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴾

“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’ [17]: 36)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini melarang seseorang berbicara atau memberikan kesaksian tanpa ilmu yang benar. Sedangkan Imam ath-Thabari menegaskan bahwa setiap ucapan yang tidak dibangun di atas pengetahuan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Timeline dan Ujian Baru Lisan

Marshall McLuhan dalam Understanding Media memperkenalkan konsep Global Village, yaitu dunia yang seakan menjadi satu kampung melalui teknologi komunikasi. Jika dahulu satu orang berbicara kepada banyak orang, kini pola komunikasi berubah menjadi “semua orang kepada semua orang”. Setiap individu memiliki audiensnya sendiri.

Dalam perspektif dakwah, kondisi ini merupakan nikmat sekaligus ujian. Kesempatan menyebarkan kebaikan memang semakin luas, tetapi peluang munculnya syahwatul kalam—dorongan untuk terus berbicara demi memperoleh perhatian—juga semakin besar.

Said Hawwa dalam Madkhal Ila Dakwah Ikhwanul Muslimin menegaskan bahwa dakwah adalah ibadah yang harus dibangun diatas keikhlasan dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Banyaknya kesempatan berbicara tidak boleh mengalahkan kewajiban memperbaiki hati. Seorang da’i hendaknya lebih sibuk memperbaiki niat daripada mengejar banyaknya pengikut (followers).

Menjaga Lisan di Tengah Banjir Informasi

Sherry Turkle dalam Reclaiming Conversation menunjukkan bahwa manusia modern semakin sulit menikmati keheningan. Kehadiran media digital mendorong seseorang untuk terus tampil, merespons, dan memperoleh pengakuan dari lingkungan sosialnya. Akibatnya, kemampuan mendengar dan merenung perlahan melemah.

Padahal Rasulullah ﷺ telah memberikan kaidah yang sangat agung:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47).

Imam an-Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa hadis ini merupakan salah satu landasan pokok akhlak Islam. Diam menjadi ibadah apabila ucapan tidak membawa maslahat yang jelas. Karena itu, ukuran keberhasilan seorang Muslim bukanlah seberapa sering ia berbicara, tetapi seberapa besar manfaat ucapannya.

Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din bahkan menempatkan menjaga lisan sebagai salah satu pintu utama penyucian hati. Menurut beliau, banyak dosa hati bermula dari lisan yang tidak terkendali.

Mimbar yang Membutuhkan Mujahadah

Perpindahan dari mimbar masjid menuju timeline sesungguhnya bukanlah persoalan teknologi, melainkan persoalan jiwa. Media hanyalah sarana; manusialah yang menentukan apakah ia menjadi jalan dakwah atau jalan mengikuti hawa nafsu.

Karena itu, umat Islam memerlukan mujahadah untuk menghidupkan kembali adab mendengar sebelum berbicara, memahami sebelum mengomentari, serta mengutamakan ukhuwah di atas kemenangan pendapat. 

Ketika setiap orang memiliki mimbar, maka yang paling dibutuhkan bukan semakin banyak suara, melainkan semakin banyak hati yang ikhlas, lisan yang terjaga, dan ilmu yang benar. Dengan demikian, timeline dapat menjadi wasilah dakwah yang menghadirkan rahmat, bukan sekadar ruang yang dipenuhi kebisingan (noise). (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.