Peradaban Islam yang agung tidak lahir dari banyaknya bangunan megah ataupun luasnya wilayah kekuasaan. Ia tumbuh dari sebuah majelis ilmu yang sederhana di Masjid Nabawi. Di tempat itulah Rasulullah ﷺ membentuk manusia sebelum membangun masyarakat, dan membangun masyarakat sebelum melahirkan sebuah peradaban.
Inilah pelajaran besar dari QS. At-Taubah ayat 122. Allah memerintahkan agar selalu ada sekelompok kaum mukmin yang mengkhususkan dirinya untuk bertafaqquh dalam agama, sehingga ilmu terus hidup dan menjadi cahaya bagi umat.
Menurut Wahbah az-Zuhaili dalam Al-Tafsīr al-Munīr, ayat ini merupakan landasan pembagian peran dalam umat. Sebagian berjihad di medan perjuangan, sementara sebagian lainnya menjaga “perbatasan ilmu dan akidah” melalui pendidikan. Keduanya merupakan amanah yang sama mulianya dalam membangun peradaban Islam.
Ashabus Suffah: Madrasah Pertama Umat
Salah satu gambaran paling indah dari budaya tafaqquh adalah keberadaan Ahl al-Ṣuffah (أهل الصفة). Mereka adalah para sahabat yang tinggal di serambi Masjid Nabawi untuk mencurahkan waktunya mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah langsung dari Rasulullah ﷺ.
Mereka hidup sederhana, bahkan sering kali mengalami kekurangan makanan. Namun, kemiskinan tidak menghalangi semangat mereka dalam menuntut ilmu. Dari majelis sederhana itulah lahir para ulama, guru, qari, mujahid, dan pemimpin yang kemudian menyebarkan Islam ke berbagai penjuru dunia.
Dalam perspektif QS. At-Taubah ayat 122, mereka adalah contoh nyata kelompok yang Allah pilih untuk melaksanakan tugas ﴿لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ﴾, sehingga keberlangsungan ilmu tetap terjaga di tengah dinamika perjuangan umat.
Halaqah, Talaqqi, dan Sanad Ilmu
Budaya ilmu yang dibangun Rasulullah ﷺ bukanlah budaya belajar yang berjarak, tetapi budaya kebersamaan.
Ilmu diwariskan melalui halaqah, yaitu majelis yang memungkinkan guru dan murid saling berdialog dengan penuh adab. Melalui talaqqi, murid menerima ilmu secara langsung dari gurunya, bukan hanya memperoleh informasi, tetapi juga menyerap akhlak, keikhlasan, dan hikmah.
Sa’id Hawwa dalam Al-Asās fi al-Tafsīr menjelaskan bahwa proses talaqqi memiliki peran penting dalam membentuk اليقين (al-yaqīn). Ilmu yang hidup tidak hanya berpindah melalui tulisan, tetapi juga melalui keteladanan seorang guru yang membimbing muridnya menuju kedewasaan ruhani.
Para ulama sangat menjaga sanad ilmu, yakni mata rantai transmisi keilmuan yang bersambung dari generasi ke generasi hingga Rasulullah ﷺ. Sanad bukan sekadar kebanggaan akademik, tetapi jaminan bahwa ilmu dipahami sesuai dengan manhaj yang benar.
Bertanya, Menghafal, dan Mencatat
Majelis Nabi ﷺ juga melahirkan budaya belajar yang aktif. Para sahabat tidak hanya mendengar, tetapi juga bertanya ketika ada persoalan yang belum mereka pahami.
Allah sendiri memerintahkan:
﴿فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Naḥl [16]: 43)
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini menunjukkan bahwa bertanya kepada ahlinya merupakan adab yang harus dijaga dalam mencari ilmu.
Selain bertanya, para sahabat juga menghafal Al-Qur’an dan hadis dengan penuh kesungguhan. Mereka pun mencatat ilmu agar tidak hilang bersama berlalunya waktu. Rasulullah ﷺ bersabda:
«قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ»
“Ikatlah ilmu dengan tulisan.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Tabarani dalam Al-Mu’jam al-Kabīr. Meskipun para ulama berbeda pendapat mengenai kekuatan sebagian jalur periwayatannya, maknanya didukung oleh praktik para sahabat yang menulis hadis dan ilmu, sehingga para ulama menerima kandungannya sebagai anjuran menjaga ilmu melalui pencatatan.
Pelajaran bagi Aktivis Dakwah
Aktivis dakwah masa kini menghadapi tantangan yang berbeda dengan generasi terdahulu. Informasi sangat mudah diperoleh, tetapi kedalaman ilmu sering kali berkurang. Semangat bergerak terkadang lebih besar daripada semangat duduk di majelis ilmu.
Padahal, sebagaimana diingatkan Abu Bakar Jabir al-Jaza’iri dalam Aysar al-Tafāsīr, tafaqquh bertujuan memahami hukum-hukum Allah, halal dan haram, serta hikmah syariat secara mendalam. Sementara Wahbah az-Zuhaili menegaskan bahwa gerakan tanpa bimbingan ilmu akan mudah kehilangan arah.
Setiap aktivis dakwah perlu meluangkan waktu untuk menghadiri majelis ilmu, menjaga hubungan dengan para ulama, memperbanyak membaca kitab-kitab turats, berdiskusi secara ilmiah, menulis hasil pembelajaran, serta membersihkan hati melalui tazkiyatun nafs. Dari sinilah akan lahir pribadi Rabbani yang tidak hanya cerdas dalam berpikir, tetapi juga lembut dalam bersikap dan mampu menjaga ukhuwah umat.
Majelis Nabi ﷺ mengajarkan bahwa universitas terbesar dalam sejarah Islam bukanlah gedung yang megah, melainkan hati-hati yang tunduk kepada Allah, akal yang terus belajar, dan jiwa yang senantiasa siap mengamalkan ilmu demi kemaslahatan umat. (im)





