Menjaga Keikhlasan dari Penyakit Kesombongan Intelektual

by -1709 Views

Ilmu adalah cahaya yang Allah titipkan ke dalam hati hamba-Nya. Namun, cahaya itu dapat redup apabila hati dipenuhi oleh penyakit yang halus, seperti riya’, ujub, dan keinginan memperoleh pujian manusia. 

Dalam dunia dakwah dan tarbiyah, penyakit ini sering muncul dalam bentuk yang tidak disadari, yaitu keinginan memperlihatkan keluasan ilmu, kecerdasan berpikir, atau banyaknya amal agar mendapatkan pengakuan.

Syaikh Sa’id Hawwa dalam Al-Asās fi al-Tafsīr menyebut gejala tersebut sebagai مُبَارَاةٌ فِي الذَّكَاءِ (mubārāh fī al-dzakā’), yaitu kecenderungan berlomba-lomba mempertontonkan kecerdasan atau kehebatan amal demi memperoleh popularitas. 

Padahal, hakikat tafaqquh sebagaimana diajarkan Al-Qur’an adalah perjalanan menuju Allah, bukan perjalanan menuju pujian manusia.

Takhliyah: Mengosongkan Hati dari Kesombongan

Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa penyucian jiwa dimulai dengan التخلية (at-takhliyah), yaitu membersihkan hati dari penyakit-penyakit batin.

Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn menerangkan bahwa kesombongan merupakan hijab yang menghalangi seorang hamba dari mengenal Allah secara benar. Semakin seseorang merasa dirinya hebat, semakin sulit ia menerima cahaya petunjuk.

Di era digital, ujian ini semakin nyata. Amal, tulisan, ceramah, bahkan aktivitas dakwah dapat dengan mudah dipublikasikan kepada banyak orang. Tidak ada larangan untuk memanfaatkan media sebagai sarana dakwah, tetapi seorang mukmin perlu terus memeriksa niatnya. Apakah yang dicari adalah rida Allah, ataukah tepuk tangan manusia?

Syaikh Sa’id Hawwa mengingatkan bahwa seseorang dapat tertipu oleh amalnya sendiri apabila ia tidak menjaga keikhlasan. Bahkan karamah atau keberhasilan dakwah dapat berubah menjadi sebab kehancuran apabila melahirkan rasa bangga terhadap diri sendiri.

Meneladani Keheningan Nabi Zakaria

Al-Qur’an memberikan teladan yang sangat indah melalui doa Nabi Zakaria ‘alaihissalām.

Allah berfirman:

﴿إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا﴾

“Ketika ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam [19]: 3)

Menurut Ibnu Katsir dan Wahbah az-Zuhaili, doa yang lirih tersebut menunjukkan adab seorang hamba yang menjaga keikhlasan, merendahkan diri di hadapan Allah, dan menjauhkan diri dari keinginan agar dilihat manusia.

Mihrab Nabi Zakaria menjadi simbol bahwa kekuatan dakwah lahir dari hubungan yang sunyi dengan Allah. Sebelum berbicara kepada manusia, seorang dai terlebih dahulu belajar berbicara kepada Rabb-nya. Sebelum menggerakkan masyarakat, ia lebih dahulu menata hatinya.

Di situlah nilai tasawuf bertemu dengan dakwah: memperbaiki batin sebelum memperluas pengaruh.

Membangun Derajat Yakin dan Istiqamah

Keikhlasan akan semakin kokoh ketika seorang mukmin menyadari bahwa seluruh keberhasilan berasal dari Allah semata.

Nabi Zakaria berdoa:

﴿هَبْ لِي مِن لَدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً﴾

“Anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 38)

Ungkapan مِنْ لَدُنْكَ menunjukkan keyakinan bahwa segala karunia berasal langsung dari Allah. Menurut Fakhruddin ar-Razi dalam Mafātīḥ al-Ghayb, lafaz tersebut mengajarkan tauhid yang mendalam: seorang mukmin tidak menggantungkan harapan kepada sebab-sebab duniawi, melainkan kepada Sang Pemberi Sebab.

Karena itu, aktivis dakwah hendaknya lebih mengutamakan istiqamah daripada popularitas. Syaikh Sa’id Hawwa menegaskan bahwa karamah terbesar bukanlah kejadian luar biasa, melainkan keteguhan menjalankan syariat dan menjaga hati agar tetap ikhlas sepanjang perjalanan dakwah.

Tahliyah: Menghias Hati dengan Niat Rabbani

Setelah hati dibersihkan melalui takhliyah, langkah berikutnya adalah التحلية (at-taḥliyah), yaitu menghias jiwa dengan sifat-sifat yang dicintai Allah.

Penuntut ilmu hendaknya menanamkan niat bahwa setiap bacaan, tulisan, pengajaran, dan aktivitas dakwah dilakukan untuk meninggikan kalimat Allah serta mempererat ukhuwah umat, bukan untuk membesarkan nama pribadi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ»

“Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj, dan para ulama seperti Yahya ibn Sharaf al-Nawawi menjadikannya sebagai salah satu fondasi seluruh amal dalam Islam.

Pada akhirnya, keikhlasan bukanlah keadaan yang dicapai sekali untuk selamanya, melainkan perjuangan yang terus diperbarui. Seorang mukmin senantiasa kembali kepada Allah dengan menampakkan kelemahan dirinya (إِظْهَارُ الْعَجْزِ) dan mengakui bahwa semua ilmu, amal, dan keberhasilan hanyalah karunia-Nya. 

Dari hati yang demikian akan lahir ilmu yang membawa keberkahan, dakwah yang menumbuhkan persatuan, dan amal yang diterima di sisi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.