Allah SWT berfirman:
﴿وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ﴾
“Tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu pergi semuanya. Mengapa tidak pergi dari setiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga diri.” (QS. At-Taubah [9]: 122)
Menurut Imam Ibnu Katsir, ayat ini merupakan dasar penting bagi keberlangsungan tradisi keilmuan dalam Islam.
Sementara Wahbah az-Zuhaili dalam Al-Tafsir al-Munir menjelaskan bahwa umat memerlukan pembagian peran yang seimbang; ada yang bergerak di lapangan, ada pula yang mengabdikan dirinya untuk menjaga kesinambungan ilmu.
Dengan demikian, aktivitas menuntut ilmu bukanlah pekerjaan sesaat, melainkan amanah yang berlangsung sepanjang hayat.
Karakter Murabbi: Selalu Membaca, Belajar, Bertanya, dan Menulis
Seorang murabbi tidak pernah merasa telah selesai belajar. Semakin bertambah ilmunya, semakin ia menyadari luasnya samudra pengetahuan Allah. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan:
مَنْ قَالَ قَدْ عَلِمْتُ فَقَدْ جَهِلَ
“Siapa yang berkata, ‘Aku telah mengetahui semuanya,’ sesungguhnya ia telah menunjukkan kebodohannya.”
Karakter pertama seorang murabbi adalah selalu membaca. Namun membaca dalam Islam bukan sekadar memperbanyak halaman yang diselesaikan, melainkan memperdalam pemahaman.
Syaikh Abu Bakr al-Jaza’iri dalam Aysar al-Tafasir menjelaskan bahwa makna التفقه في الدين ialah memahami hukum-hukum Allah, halal dan haram, serta hikmah-hikmah syariat secara mendalam. Karena itu, membaca harus menjadi jalan menuju tadabbur, bukan sekadar menambah informasi.
Karakter kedua adalah selalu belajar. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا
“Ya Allah, berilah aku manfaat dari ilmu yang Engkau ajarkan kepadaku, ajarkanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat bagiku, dan tambahkanlah ilmuku.” (HR. at-Tirmidzi no. 3599. Dinilai hasan oleh Imam at-Tirmidzi.)
Doa ini menunjukkan bahwa seorang mukmin senantiasa memohon tambahan ilmu, bukan merasa cukup dengan apa yang telah dimiliki.
Karakter berikutnya adalah selalu bertanya. Allah SWT berfirman:
﴿فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl [16]: 43)
Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan tawadhu’ intelektual. Orang yang terus bertanya bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kesungguhan mencari kebenaran.
Karakter terakhir adalah selalu menulis. Menulis bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi bagian dari menjaga amanah ilmu. Tradisi para ulama besar—mulai dari Imam asy-Syafi’i, Imam an-Nawawi hingga Ibnu Hajar al-‘Asqalani—menunjukkan bahwa ilmu menjadi abadi karena ditulis dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Belajar Tidak Berakhir Saat Wisuda
Salah satu kekeliruan yang sering terjadi ialah menganggap bahwa proses belajar selesai setelah memperoleh gelar akademik. Padahal, ijazah hanyalah penanda telah menyelesaikan satu tahap perjalanan, bukan akhir dari perjalanan itu sendiri.
Syaikh Sa’id Hawwa dalam Al-Asas fi al-Tafsir menjelaskan bahwa orang yang bertafaqquh dipersiapkan menjadi Rabbaniyyun, yaitu hamba-hamba Allah yang terus menjaga, mengamalkan, dan menghidupkan nilai-nilai wahyu di tengah masyarakat.
Rabbaniyyah bukanlah status yang diperoleh sekali, melainkan kualitas yang terus dipelihara melalui belajar, muhasabah, dan tazkiyatun nafs.
Wahbah az-Zuhaili juga mengingatkan bahwa kekuatan gerakan tanpa bimbingan ilmu akan kehilangan arah. Sebaliknya, ilmu yang tidak diiringi amal juga tidak akan mampu membimbing umat. Karena itu, seorang aktivis dakwah harus terus memperbarui wawasannya, memperdalam pemahamannya, dan memperhalus akhlaknya.
Dalam perspektif tasawuf, belajar sepanjang hayat juga merupakan sarana menjaga hati dari penyakit ujub. Imam Ibn ‘Athaillah as-Sakandari berkata:
مَنْ لَمْ يَزْدَدْ عِلْمُهُ لَمْ يَزْدَدْ هُدًى
“Siapa yang ilmunya tidak bertambah, maka petunjuknya pun tidak bertambah.”
Maknanya, pertumbuhan ruhani berjalan seiring dengan pertumbuhan ilmu yang diamalkan.
Ilmu yang Terus Menghidupkan Dakwah
Pada akhirnya, seorang aktivis dakwah bukan diukur dari berapa lama ia berada di medan perjuangan, tetapi dari kesungguhannya menjaga ruh keilmuan dalam setiap langkah perjuangan tersebut.
Ia senantiasa membaca agar tidak dangkal, belajar agar tidak tertinggal, bertanya agar tidak sombong, dan menulis agar ilmunya memberi manfaat yang berkelanjutan.
Inilah makna terdalam dari لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ. Tafaqquh bukan proyek beberapa tahun, melainkan perjalanan seumur hidup. Selama hayat masih dikandung badan, seorang murabbi akan terus menjadi murid di hadapan Allah SWT.
Dari kerendahan hati inilah lahir pribadi Rabbani yang mampu membimbing umat dengan ilmu, kasih sayang, dan hikmah. (im)





