Sunnatullah Konflik Dakwah

by -1592 Views

Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam memahami perjalanan dakwah adalah anggapan bahwa penolakan terhadap kebenaran merupakan sesuatu yang luar biasa. Padahal, Al-Qur’an justru mengajarkan bahwa perlawanan terhadap dakwah adalah bagian dari sunnatullah, yaitu ketetapan Allah yang berlaku sepanjang sejarah manusia.

Seorang dai tidak boleh mengukur kebenaran dakwahnya dari banyak atau sedikitnya penentangan yang ia hadapi. Ukuran kebenaran bukanlah penerimaan manusia, melainkan kesesuaiannya dengan wahyu Allah.

Sejak Nabi Adam ‘alaihissalām, pertarungan antara hidayah dan kesesatan telah dimulai. Iblis memilih kesombongan ketika diperintahkan bersujud kepada Adam. Penolakan itu bukan karena kurangnya pengetahuan, melainkan karena kesombongan hati. Dari peristiwa inilah Al-Qur’an mengajarkan bahwa akar penolakan terhadap kebenaran seringkali bukan kebodohan, tetapi penyakit hati.

Nabi Nuh ‘alaihissalām berdakwah selama berabad-abad. Namun, hanya sedikit yang menerima dakwahnya. Kaumnya mengejek, mendustakan, dan menganggap beliau sebagai manusia biasa yang tidak layak diikuti.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalām dihukum dengan dibakar karena menghancurkan berhala-berhala kaumnya. Apa yang beliau tentang bukan hanya patung-patung batu, tetapi sistem keyakinan yang telah mengakar dalam masyarakat.

Nabi Musa ‘alaihissalām berhadapan dengan Fir’aun yang memadukan kekuasaan politik, ekonomi, propaganda, dan manipulasi agama. Fir’aun tidak sekadar menolak dakwah Musa, tetapi juga membangun opini publik agar rakyat memandang Musa sebagai ancaman.

Allah mengabadikan ucapannya:

إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ

“Sesungguhnya aku khawatir dia akan mengubah agamamu atau menimbulkan kerusakan di bumi.” (QS. Ghafir: 26)

Perhatikan bagaimana kebatilan sering membalikkan fakta. Pembawa kebenaran justru dituduh sebagai pembawa kerusakan. Fenomena ini terus berulang hingga hari ini.

Nabi Isa ‘alaihissalām menghadapi penolakan dari sebagian kalangan yang merasa kedudukan dan pengaruh mereka terancam. Demikian pula Rasulullah ﷺ menghadapi ejekan, pemboikotan, fitnah, penyiksaan, hingga peperangan.

Semua kisah tersebut memperlihatkan satu pola yang sama. Semakin terang cahaya yang dibawa para nabi, semakin tampak pula usaha untuk memadamkannya.

Namun, pada saat yang sama, Allah juga memperlihatkan pola lain yang tidak pernah berubah. Setiap kali kebatilan tampak kuat, Allah menolong para rasul dan orang-orang yang beriman dengan cara yang seringkali berada diluar dugaan manusia.

Inilah yang disebut sunnatullah.

Seorang mukmin tidak boleh terkejut ketika dakwah menghadapi ujian. Ujian bukan tanda bahwa dakwah gagal, tetapi seringkali menjadi bagian dari proses penyaringan dan pemurnian (at-taṣfiyah wa at-tanqiyah) orang-orang yang benar-benar beriman.

Allah berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ • وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka.” (QS. Al-‘Ankabut: 2–3)

Ayat ini mengingatkan bahwa ujian bukan penyimpangan dari jalan dakwah. Justru ia merupakan bagian dari perjalanan menuju kemenangan yang dijanjikan Allah.

Sayyid Qutb dalam Fī Ẓilāl al-Qur’ān menjelaskan bahwa dakwah Islam selalu bergerak di antara dua kekuatan: kekuatan cahaya yang datang dari wahyu dan kekuatan jahiliah yang berusaha mempertahankan dominasinya. Pertarungan itu akan terus berlangsung selama manusia masih diberi kebebasan untuk memilih antara petunjuk dan kesesatan.

Dakwah Tidak Pernah Bergantung pada Kekuatan Manusia

Pelajaran besar dari sunnatullah dakwah adalah bahwa kemenangan tidak pernah ditentukan semata-mata oleh jumlah pengikut, besarnya kekuatan ekonomi, atau kecanggihan teknologi.

Nabi Nuh tidak memiliki mayoritas. Nabi Ibrahim hampir seorang diri menghadapi masyarakatnya. Nabi Musa membawa Bani Israil yang lemah menghadapi imperium terbesar saat itu.Rasulullah ﷺ memulai dakwah dengan jumlah pengikut yang sangat sedikit. Namun sejarah membuktikan bahwa kemenangan selalu berada di pihak yang memegang teguh petunjuk Allah.

Hal ini menunjukkan bahwa faktor penentu kemenangan adalah ma’iyyatullah—pertolongan dan kebersamaan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, bertakwa, dan istiqamah.

Karena itu, yang harus diperkuat oleh umat bukan hanya strategi lahiriah, tetapi juga kualitas iman, keikhlasan, persatuan, dan kedekatan kepada Allah.

Bentuk-Bentuk Permusuhan Sepanjang Sejarah

Walaupun hakikat konfliknya tetap sama, cara memadamkan cahaya Allah mengalami perubahan sesuai perkembangan zaman.

Masa Para Nabi: Penolakan Terbuka

Pada masa para nabi, permusuhan tampak secara nyata. Bentuknya berupa ejekan, ancaman, penyiksaan, pengusiran, hingga pembunuhan.

Masyarakat jahiliah menggunakan kekuatan fisik karena mereka menganggap bahwa menghancurkan pembawa risalah berarti menghentikan risalah itu sendiri.

Namun sejarah membuktikan bahwa yang wafat adalah para penentangnya, sedangkan risalah para nabi tetap hidup.

Masa Kekaisaran dan Kolonialisme

Pada masa berikutnya, bentuk permusuhan berkembang menjadi dominasi politik dan kolonialisme.

Selain menguasai wilayah, penjajahan juga berusaha menguasai cara berpikir masyarakat. Bahasa, budaya, sistem pendidikan, bahkan cara memandang sejarah perlahan diarahkan agar masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap identitasnya sendiri.

Malik Bennabi menjelaskan bahwa penjajahan yang paling berbahaya bukanlah penjajahan atas tanah, tetapi penjajahan terhadap jiwa. Ketika suatu bangsa kehilangan rasa percaya diri, kehilangan kreativitas, dan tidak lagi mampu melahirkan gagasan dari nilai-nilai agamanya, saat itulah proses kemunduran berlangsung dari dalam.

Karena itu, beliau mengingatkan pentingnya membangun kembali manusia sebelum membangun peradaban.

Era Informasi dan Ghazwul Fikr

Memasuki abad modern, medan pertarungan semakin bergeser. Senjata tidak lagi selalu berupa pedang atau meriam. Narasi lebih berpengaruh daripada peluru. Opini publik lebih menentukan daripada benteng pertahanan. Media sosial mampu menjangkau lebih banyak manusia dibandingkan mimbar-mimbar tradisional.

Dalam situasi seperti ini, makna firman Allah “dengan mulut mereka” (بِأَفْوَاهِهِمْ) menjadi semakin terasa relevansinya.

Perkataan tidak lagi hanya keluar dari lisan. Ia hadir dalam bentuk tulisan, gambar, film, musik, algoritma digital, konten media sosial, bahkan kecerdasan buatan yang membentuk cara manusia memandang kehidupan.

Disinilah umat Islam dituntut memiliki kemampuan literasi, kebijaksanaan, dan kedewasaan. Tidak setiap informasi layak dipercaya, tidak setiap tren layak diikuti, dan tidak setiap gagasan yang tampak menarik sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Namun, menghadapi semua itu, Islam tidak mengajarkan umatnya untuk hidup dalam ketakutan terhadap perkembangan zaman.

Sebaliknya, Islam mendorong umatnya menjadi masyarakat yang berilmu, mampu memanfaatkan teknologi, serta menghadirkan konten-konten yang membawa manfaat dan petunjuk.

Ghazwul fikr tidak dilawan dengan kebodohan.Ia juga tidak dilawan dengan kemarahan. Ia dilawan dengan ilmu yang benar, akhlak yang mulia, argumentasi yang jernih, serta hati yang dipenuhi cahaya Al-Qur’an.

Menjaga Cahaya di Tengah Perubahan Zaman

Bentuk permusuhan boleh berubah.Medianya boleh berganti.Teknologinya boleh berkembang. Namun satu hal tidak pernah berubah. Allah tetap menjaga cahaya-Nya.

Tugas kaum mukminin bukanlah hidup dalam rasa takut terhadap perubahan zaman, melainkan memastikan bahwa setiap perubahan justru semakin mendekatkan mereka kepada Allah.

Selama Al-Qur’an tetap menjadi pedoman, Sunnah Rasulullah ﷺ tetap menjadi teladan, dan hati terus dibersihkan melalui tazkiyatun nafs, maka berbagai bentuk ghazwul fikr tidak akan mampu memadamkan cahaya yang telah Allah tanamkan di dalam hati orang-orang yang beriman.

Sebaliknya, setiap ujian justru akan menjadikan cahaya itu semakin terang, sebagaimana api yang membuat emas menjadi semakin murni.

Karena itulah Allah menutup ayat ini dengan janji yang penuh ketenteraman: manusia boleh berusaha memadamkan cahaya Allah, tetapi keputusan terakhir tetap berada di tangan-Nya. Cahaya itu akan terus bersinar, dan kemenangan pada akhirnya akan menjadi milik kebenaran. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.