Perang Narasi dalam Al-Qur’an

by -1604 Views

Tidak semua peperangan diawali dengan dentuman senjata. Banyak peperangan justru dimulai oleh sebuah kalimat. Sebuah isu. Sebuah opini. Sebuah tuduhan. Sebuah berita yang diulang berkali-kali hingga diterima sebagai kebenaran.

Al-Qur’an telah mengingatkan fenomena tersebut jauh sebelum manusia mengenal istilah media massa, propaganda, disinformasi, algoritma digital, atau perang informasi. 

Ketika Allah berfirman bahwa mereka berusaha memadamkan cahaya-Nya “dengan mulut mereka” (بِأَفْوَاهِهِمْ), Al-Qur’an sedang mengungkap sebuah hakikat yang melampaui ruang dan waktu: bahwa kata-kata dapat menjadi instrumen yang sangat kuat untuk membentuk atau merusak kehidupan manusia.

Perang fisik memang mampu menghancurkan bangunan. Namun perang narasi mampu menghancurkan keyakinan. Perang fisik dapat merobohkan tembok.Namun perang informasi dapat merobohkan cara berpikir. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang kalah bukan karena kekurangan senjata, tetapi karena kehilangan kepercayaan terhadap nilai-nilai yang selama ini menjadi fondasi kehidupannya.

Karena itulah Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat besar terhadap persoalan lisan, berita, kesaksian, komunikasi, dan penyebaran informasi. Islam memahami bahwa perjalanan dakwah bukan hanya pertarungan di medan perang, tetapi juga pertarungan di medan pemikiran dan persepsi.

Pada zaman Nabi Muhammad ﷺ, peperangan narasi dilakukan melalui syair, pidato, gosip, fitnah, dan tuduhan yang disebarkan dari satu kabilah ke kabilah lain. Pada zaman kita, bentuknya berubah menjadi pemberitaan, film, media sosial, konten digital, bahkan kecerdasan buatan yang mampu menghasilkan informasi dalam hitungan detik.

Medianya berubah. Namun hakikatnya tetap sama. Ada pihak yang berusaha menghadirkan cahaya. Ada pula yang berusaha menutupinya dengan berbagai narasi.

Makna “Bi-Afwāhihim”: Mengapa Allah Menyebut “Mulut”?

Salah satu keindahan Al-Qur’an terletak pada ketepatan pemilihan katanya. Allah tidak berfirman, “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan tangan mereka.” Allah juga tidak mengatakan, “Dengan pedang mereka.” Tetapi Allah memilih ungkapan:

بِأَفْوَاهِهِمْ

“Dengan mulut mereka.”

Para mufasir menjelaskan bahwa penyebutan “mulut” bukan sekadar menunjuk kepada organ fisik, tetapi kepada seluruh bentuk penyampaian ucapan yang bertujuan memengaruhi manusia.

Dalam bahasa Arab, penyebutan satu anggota tubuh sering kali mewakili fungsi yang melekat padanya. Sebagaimana kata qalb menggambarkan pusat keimanan dan kesadaran, demikian pula kata afwāh (mulut-mulut) menunjuk kepada aktivitas berbicara, menyampaikan berita, memengaruhi opini, dan membangun persepsi.

Karena itu, frasa “bi-afwāhihim” memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar ucapan lisan.

Ia mencakup seluruh bentuk komunikasi manusia:  Tulisan, Pidato, Syair, Cerita, Buku, Media, Film, Berita, Komentar, Opini, Konten Digita. Apapun yang disampaikan untuk memengaruhi cara manusia memahami kebenaran termasuk dalam cakupan makna tersebut.

Dengan demikian, ayat ini memiliki relevansi yang sangat kuat pada era komunikasi global.

Said Hawwa dalam Al-Asās fī at-Tafsīr mengingatkan bahwa salah satu ciri zaman modern adalah semakin besarnya kemampuan berbagai kekuatan untuk membentuk cara berpikir masyarakat melalui tekanan budaya, pendidikan, media, dan sistem sosial. Manusia tidak selalu dipaksa dengan kekerasan. Seringkali mereka diarahkan secara perlahan hingga menganggap sesuatu yang salah sebagai sesuatu yang wajar.

Inilah yang membuat perang narasi menjadi jauh lebih berbahaya daripada peperangan fisik.

Mengubah Persepsi Sebelum Mengubah Perilaku

Mengapa Al-Qur’an memberikan perhatian besar terhadap narasi? Karena perilaku manusia selalu didahului oleh persepsi.

Seseorang tidak akan melakukan suatu perbuatan sampai ia meyakini bahwa perbuatan itu benar, bermanfaat, atau setidaknya dapat dibenarkan. Apabila persepsi berhasil diubah, perilaku akan mengikuti.

Ingat, setan tidak memulai godaannya kepada Nabi Adam ‘alaihissalām dengan paksaan. Ia memulai dengan narasi. Allah mengabadikan ucapannya:

وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ

“Setan berkata, ‘Tuhanmu tidak melarang kamu mendekati pohon ini melainkan agar kamu tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal.'” (QS. Al-A’raf: 20)

Perhatikan metode yang digunakan. Setan tidak memaksa. Ia membangun cerita (storytelling). Ia menawarkan penafsiran baru terhadap larangan Allah. Ia mengubah cara pandang Adam dan Hawa terhadap sebuah perintah. Dengan kata lain, dosa pertama dalam sejarah manusia diawali oleh perang narasi.

Peristiwa ini memberikan pelajaran besar bahwa salah satu jalan utama menuju penyimpangan adalah rusaknya cara berpikir sebelum rusaknya perilaku. Karena itulah Al-Qur’an begitu banyak mengajak manusia untuk berpikir, mentadabburi ayat-ayat Allah, memverifikasi informasi, dan tidak mengikuti sesuatu tanpa ilmu.

Lisan Dapat Menjadi Jalan Hidayah atau Jalan Kesesatan

Islam tidak memandang lisan hanya sebagai alat komunikasi. Lisan adalah amanah.

Dengannya seseorang dapat memperoleh pahala yang terus mengalir. Namun dengannya pula seseorang dapat menanggung dosa yang terus bertambah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa setiap ucapan memiliki konsekuensi moral. Tidak ada kata-kata yang benar-benar netral. Setiap kalimat dapat menjadi bagian dari dakwah menuju Allah atau justru menjadi bagian dari upaya menjauhkan manusia dari-Nya.

Oleh sebab itu, Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan agar kita berbicara benar (qaulan sadīdan), tetapi juga memerintahkan agar perkataan disampaikan dengan cara yang baik (qaulan ma’rūfan), lembut (qaulan layyinan), mulia (qaulan karīman), dan menyentuh jiwa (qaulan balīghan).

Sebaliknya, Al-Qur’an mengecam berbagai bentuk komunikasi yang dibangun diatas kebohongan, fitnah, adu domba, ejekan, prasangka buruk, dan penyebaran berita tanpa ilmu.

Hal ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Islam, peperangan narasi tidak hanya terjadi di tingkat negara atau peradaban. Ia juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari, melalui percakapan, tulisan, unggahan media sosial, bahkan komentar-komentar yang tampaknya sederhana.

Perspektif Dakwah dan Tarbiyah

Dari sudut pandang dakwah, frasa “bi-afwāhihim” mengingatkan bahwa seorang dai harus memberikan perhatian besar terhadap cara menyampaikan kebenaran. Dakwah bukan sekadar memiliki pesan yang benar, tetapi juga menyampaikannya dengan bahasa yang jernih, argumentasi yang kuat, dan akhlak yang mulia. Sebab, kebatilan sering kali tampak menarik bukan karena substansinya lebih kuat, melainkan karena dikemas dengan narasi yang memikat.

Dari perspektif tarbiyah, ayat ini mengajarkan pentingnya membina generasi yang memiliki kemampuan berpikir kritis, adab dalam berkomunikasi, dan kebiasaan memverifikasi setiap informasi. Tarbiyah tidak cukup menghasilkan generasi yang banyak berbicara, tetapi harus melahirkan generasi yang mampu membedakan antara informasi yang benar dan yang menyesatkan berdasarkan cahaya wahyu.

Sedangkan dari perspektif tazkiyatun nafs, ayat ini mengajak setiap mukmin untuk memeriksa lisannya sendiri sebelum sibuk mengkritik narasi orang lain. Sebab boleh jadi peperangan terbesar bukanlah melawan propaganda dari luar, melainkan menundukkan lisan kita agar selalu menjadi penyampai kebenaran, bukan penyebar prasangka, kebohongan, atau fitnah.

Hati yang bersih akan melahirkan lisan yang bersih. Dan lisan yang bersih akan menjadi cahaya yang menerangi banyak manusia. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.