Kader Dakwah dan Krisis Mengelola Arus Informasi

by -1360 Views

Ada sebuah perubahan besar dalam kehidupan kader dakwah di era digital. Dahulu, salah satu persoalan utama adalah keterbatasan informasi. Untuk memperoleh ilmu, berita, atau bahan kajian, seseorang harus mendatangi majelis, membaca buku, mencari majalah, atau bertanya kepada orang yang dianggap memiliki pengetahuan.

Hari ini keadaannya berbalik.

Informasi datang kepada kita bahkan sebelum kita mencarinya. WhatsApp, Instagram, Facebook, YouTube, TikTok, Telegram, X, portal berita, mesin pencari, dan berbagai kanal digital lainnya terus mengirimkan informasi kepada kita sepanjang hari. Kita tidak lagi hidup dalam kelangkaan informasi, tetapi dalam kelimpahan informasi.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi: Bagaimana mendapatkan informasi?

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: Apakah kita mampu mengetahui informasi mana yang benar, mana yang penting, mana yang relevan, mana yang perlu diverifikasi, mana yang perlu disimpan, dan mana yang justru harus diabaikan?

Inilah salah satu persoalan besar aktivis dakwah di era digital.

Dari Kelangkaan Informasi Menuju Krisis Mengendalikan Informasi

Perubahan volume informasi yang dihadapi manusia dewasa ini bukanlah perubahan kecil. Alexander Koutamanis dalam bukunya Building Information menggambarkan perkembangan tersebut dengan sangat drastis:

“Masyarakat manusia sebelumnya telah mengumpulkan sekitar 12 exabyte informasi… total ini meningkat lebih dari dua kali lipat setiap dua tahun, mencapai 18 zettabyte pada tahun 2018 dan 44 zettabyte pada tahun 2020, dan diperkirakan akan menjadi 175 zettabyte pada tahun 2025.”

Angka-angka tersebut menggambarkan satu kenyataan: manusia sedang hidup dalam ekosistem informasi yang tidak pernah berhenti.

Johann Hari dalam Stolen Focus menggambarkan situasi ini dengan sangat tepat:

“Saat ini, situasinya seperti kita sedang ‘minum dari selang pemadam kebakaran—terlalu banyak yang datang ke arah kita.’ Kita terendam dalam informasi.”

Persoalannya, seorang kader dakwah tidak mungkin membaca semuanya. Tidak semua informasi harus diketahui. Tidak semua berita harus diikuti. Tidak semua peristiwa harus mendapatkan perhatian kita.

Di sinilah kedewasaan seorang aktivis diuji.

Sebab kemampuan mengelola informasi pada hakikatnya adalah kemampuan mengelola perhatian.

Daniel J. Levitin dalam The Organized Mind mengingatkan:

“Mencoba mencari tahu apa yang perlu Anda ketahui dan apa yang dapat Anda abaikan sangatlah melelahkan… Kita melakukan pekerjaan sepuluh orang yang berbeda sambil tetap berusaha menjaga kehidupan kita.”

Kader yang tidak memiliki kemampuan menentukan prioritas akan mudah mengalami kelelahan kognitif. Hari-harinya dipenuhi notifikasi, tautan, video, komentar, berita, potongan ceramah, perdebatan, dan berbagai informasi yang belum tentu berhubungan dengan misi dakwahnya.

Clay A. Johnson dalam The Information Diet bahkan memberikan koreksi terhadap istilah information overload:

“Bukan kelebihan informasi (information overload), melainkan konsumsi informasi yang berlebihan (information overconsumption) yang menjadi masalah… Informasi tidak mengharuskan Anda untuk mengonsumsinya. Ia tidak berdaya untuk memaksa Anda melakukan apa pun selama Anda sadar bagaimana ia memengaruhi Anda.”

Pernyataan ini penting bagi kader dakwah. Tidak setiap informasi yang muncul di layar harus kita buka. Tidak setiap tautan yang dikirimkan teman harus kita baca. Tidak setiap perdebatan harus kita ikuti.

Kemampuan mengatakan “tidak” kepada informasi yang tidak perlu merupakan bagian dari kematangan seorang aktivis.

Mengelola Informasi adalah Persoalan Tarbiyah

Dalam perspektif tarbiyah, kemampuan mengelola informasi bukan sekadar keterampilan teknis dalam menggunakan internet. Ia berkaitan erat dengan amanah, muraqabah, adab, kedalaman ilmu, dan kejernihan fikrah.

Seorang kader mungkin menguasai berbagai aplikasi, memahami algoritma media sosial, bahkan mampu menggunakan berbagai perangkat fact-checking. Namun, jika hatinya tidak memiliki kesadaran bahwa setiap informasi yang disampaikan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, teknologi tersebut belum tentu membuatnya menjadi lebih amanah.

Yusuf al-Qaradawi dalam Al-Iman wal-Hayah menjelaskan tentang kesadaran iman yang menjaga hati seorang mukmin:

“Ia percaya bahwa Allah bersamanya di mana pun ia berada, dalam perjalanan atau saat menetap… tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya, dan tidak ada rahasia atau keterbukaan yang luput dari-Nya.”

Inilah muraqabah.

Seorang kader yang merasa diawasi Allah akan berpikir sebelum meneruskan sebuah pesan. Ia akan bertanya: Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah saya memiliki hak untuk menyebarkannya? Apakah informasi ini dapat menimbulkan fitnah? Apakah menyebarkannya membantu dakwah atau justru merusaknya?

Maka, tabayyun bukan hanya persoalan intelektual. Ia adalah persoalan iman dan akhlak.

Ketika Algoritma Membentuk Cara Pandang

Persoalan lain yang tidak kalah serius adalah ketidakmampuan membedakan fakta, opini, interpretasi, propaganda, dan disinformasi.

Kita sering merasa sedang mencari informasi, padahal sebenarnya informasi sedang dipilihkan untuk kita.

Eli Pariser menjelaskan fenomena Filter Bubble dalam bukunya:

“Lingkungan yang dipersonalisasi sangat baik dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kita miliki, tetapi tidak dalam menyarankan pertanyaan atau masalah yang berada di luar pandangan kita sama sekali.”

Inilah bahaya yang perlu diperhatikan oleh kader dakwah.

Ketika seseorang hanya mengikuti akun yang sejalan dengan pikirannya, membaca media yang menguatkan pendapatnya, menonton video yang sesuai dengan pandangannya, dan berinteraksi hanya dengan orang-orang yang memiliki perspektif serupa, ia dapat kehilangan kemampuan melihat persoalan secara utuh.

Lama-kelamaan, preferensi pribadi dapat disangka sebagai kebenaran objektif.

Lebih berbahaya lagi apabila seorang kader menjadikan algoritma sebagai semacam “guru” yang menentukan apa yang harus ia lihat, pikirkan, sukai, dan benci.

Di sinilah kejernihan fikrah harus dijaga.

Tarbiyah mengajarkan seorang kader untuk memiliki prinsip, bukan sekadar mengikuti arus. Ia harus mampu membaca informasi dari berbagai sisi, memahami konteks, mengenali kepentingan di balik sebuah narasi, dan tetap kembali kepada Al-Qur’an, Sunnah, ilmu, serta bimbingan para ulama.

Tabayyun: Menjadi Verifikator Sebelum Menjadi Distributor

Al-Qur’an telah meletakkan prinsip yang sangat jelas:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurāt: 6)

Prinsip tabayyun menjadi semakin penting ketika informasi dapat tersebar dalam hitungan detik.

Imam an-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menekankan bahaya menyebarkan setiap informasi tanpa diperiksa:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ 

“Cukuplah seseorang dianggap berdusta dengan menceritakan setiap apa yang ia dengar.”

Apa yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari untuk tersebar, sekarang dapat menjangkau ribuan manusia dalam beberapa detik.

Karena itu, kader dakwah harus mengubah kebiasaannya: jangan menjadi distributor (informasi) sebelum menjadi verifikator.

Tom Nichols dalam The Death of Expertise mengingatkan bahaya ilusi pengetahuan yang muncul dari internet:

“Meskipun Internet dapat membuat kita semua lebih cerdas, ia justru membuat banyak dari kita lebih bodoh… Ia memberikan shortcut menuju kecerdasan palsu dengan menawarkan pasokan fakta yang tak terbatas.”

Internet menyediakan fakta, tetapi fakta yang banyak tidak otomatis menghasilkan ilmu.

Ilmu membutuhkan proses memahami, menghubungkan, menguji, menimbang, dan menempatkan informasi dalam konteks yang benar.

Dari Tabayyun Tradisional Menuju Tabayyun Digital

Karena itu, kader dakwah perlu memadukan tradisi keilmuan Islam dengan metode verifikasi modern.

Salah satu metode yang dapat digunakan adalah SIFT: Stop — Investigate the source — Find better coverage — Trace to the original context. (Berhenti. Periksa sumber. Cari liputan yang lebih baik. Telusuri konteks asli.)

Mike Caulfield dan Sam Wineburg dalam Verified menjelaskan langkah pertama yang sangat penting:

“Berhenti. Tanyakan pada diri Anda apa yang benar-benar Anda ketahui tentang klaim tersebut dan sumber yang membagikannya. Untuk saat ini, lupakan pertanyaan tentang kebenaran atau kebohongan. Apakah Anda benar-benar tahu apa yang Anda lihat?”

Pertanyaan sederhana ini sebenarnya sangat dekat dengan ruh tabayyun.

Sebelum bertanya, “Apakah saya setuju dengan berita ini?”, seorang kader harus bertanya lebih dahulu: “Apakah berita ini benar?”

Sebelum bertanya, “Apakah informasi ini menguntungkan kelompok saya?”, ia harus bertanya: “Dari mana informasi ini berasal?”

Dan sebelum menekan tombol forward, ia harus bertanya: “Apakah saya siap mempertanggungjawabkan informasi ini di hadapan Allah?”

Kematangan Tabayyun dan Critical Ignoring

Pada akhirnya, kematangan seorang kader di era digital tidak ditandai oleh seberapa banyak informasi yang ia konsumsi, tetapi oleh kemampuannya memilih informasi yang layak mendapatkan perhatian.

Inilah yang disebut sebagai Critical Ignoring atau pengabaian kritis.

Dalam Verified ditegaskan:

“Di dunia yang berlimpah informasi, perhatian adalah aset kita yang paling berharga. Namun, orang-orang dimana-mana bekerja lembur untuk membuat Anda menyia-nyiakannya.”

Maka perhatian harus diperlakukan sebagai amanah.

Kader dakwah tidak boleh membiarkan seluruh waktunya direbut oleh algoritma. Ia harus memiliki prioritas informasi yang sesuai dengan misi dakwah, kebutuhan umat, pengembangan ilmu, pembinaan diri, dan tanggung jawab sosialnya.

Di sinilah tazkiyatun nafs mengambil peran penting.

Keinginan untuk selalu mengetahui sesuatu, selalu berkomentar, selalu tampil, selalu menjadi yang pertama membagikan berita, bahkan selalu ingin memenangkan perdebatan digital dapat bersumber dari penyakit hati: ujub, ghurur, cinta popularitas, atau dorongan untuk mendapatkan pengakuan.

Maka persoalan informasi pada akhirnya kembali kepada persoalan hati. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.