Menjadi Distributor Informasi Sebelum Menjadi Verifikator

by -1502 Views

Di era digital, kecepatan sering dianggap sebagai keunggulan. Siapa yang paling cepat mengetahui sebuah berita merasa memiliki posisi lebih penting. Siapa yang paling dahulu membagikannya merasa menjadi pusat informasi bagi lingkungannya.

Muncul dorongan sederhana: “Saya harus menjadi yang pertama tahu.” Bahkan lebih jauh: “Saya harus menjadi yang pertama membagikannya.”

Padahal dalam dakwah, ukuran kualitas seorang kader bukanlah seberapa cepat ia menyebarkan informasi, melainkan seberapa dapat dipercaya informasi yang keluar melalui dirinya.

Ada perbedaan besar antara menjadi orang yang paling cepat dan menjadi orang yang paling dapat dipercaya.

Kecepatan bisa mendatangkan perhatian. Tetapi kredibilitas dibangun melalui ketelitian, kejujuran, kedalaman pemahaman, dan tanggung jawab.

Mike Caulfield dan Sam Wineburg dalam buku Verified memberikan peringatan keras mengenai risiko berbagi secara impulsif terhadap reputasi seseorang: “Anda dapat membatalkan reputasi berbagi hal-hal yang benar setiap hari dengan membagikan satu item yang salah.”

Kalimat ini seharusnya menjadi renungan serius bagi setiap aktivis dakwah.

Sebab seorang kader tidak hanya membawa nama pribadinya ketika membagikan informasi. Ia membawa amanah dakwah.

Ketika informasi yang salah disebarkan oleh seorang kader, persoalannya bukan hanya apakah informasi tersebut benar atau salah. Masyarakat juga dapat bertanya: Jika informasi yang sederhana saja tidak diverifikasi, bagaimana kami dapat mempercayai informasi lain yang disampaikan oleh orang tersebut?

Disinilah persoalan informasi berubah menjadi persoalan amanah.

Dari Kecepatan Menuju Kepercayaan

Dunia digital memiliki logika yang berbeda dengan tradisi keilmuan. 

Platform digital memberi penghargaan kepada konten yang cepat mendapatkan perhatian. Algoritma menyukai sesuatu yang segera diklik, dibagikan, dikomentari, dan diperdebatkan.

Tetapi dakwah memiliki logika yang berbeda. Dakwah tidak dibangun di atas prinsip: “Paling cepat adalah yang paling baik.” Dakwah dibangun di atas prinsip kebenaran, hikmah, amanah, dan tanggung jawab.

Seorang kader perlu mengubah orientasi: bukan “Saya harus menjadi yang pertama tahu.” menjadi: “Saya harus menjadi orang yang dapat dipercaya.”  Bukan:“Saya harus menjadi yang pertama membagikan.” melainkan: “Saya harus memastikan bahwa apa yang saya bagikan layak dipercaya.”

Perubahan kecil dalam cara berpikir ini sebenarnya merupakan perubahan besar dalam budaya informasi kader.

Kaitannya dengan Literasi: Dari Information Consumer Menjadi Information Processor

Kader dakwah yang matang tidak cukup hanya menjadi information consumer, yaitu orang yang mengonsumsi informasi. Ia juga tidak cukup menjadi information distributor, yaitu orang yang meneruskan informasi dari satu tempat ke tempat lain.

Kader harus tumbuh menjadi information processor—orang yang mampu mengolah informasi sebelum menjadikannya bagian dari keputusan, sikap, atau komunikasi dakwah.

Ada proses yang harus dilalui: menerima → memeriksa → memahami → mengontekstualisasikan → menyimpulkan → menyampaikan. Setiap tahap memiliki tanggung jawabnya sendiri.

Menerima berarti mendapatkan informasi. Memeriksa berarti memastikan sumber, data, waktu, dan validitasnya. Memahami berarti tidak berhenti pada judul, potongan video, atau kutipan pendek. Mengontekstualisasikan berarti memahami informasi dalam konteks yang lebih luas. Menyimpulkan berarti mengambil posisi setelah proses berpikir yang memadai.

Barulah kemudian: menyampaikan.

Masalahnya, budaya digital sering membalik seluruh proses tersebut. Kader menerima informasi, kemudian langsung menyampaikan: Receive → Share. Padahal seharusnya: Receive → Verify → Understand → Contextualize → Conclude → Share. Inilah salah satu transformasi mendasar yang diperlukan dalam budaya literasi kader.

SIFT: Berhenti Sebelum Membagikan

Salah satu metode yang dapat membantu membangun kebiasaan tersebut adalah teknik SIFT yang dikembangkan dalam tradisi literasi digital dan dijelaskan oleh Mike Caulfield dan Sam Wineburg dalam Verified.

SIFT merupakan singkatan dari:

  • S — Stop: berhenti sejenak;
  • I — Investigate the Source: periksa sumbernya;
  • F — Find Other Coverage: cari liputan atau sumber pembanding;
  • T — Trace the Claim to the Original Context: lacak klaim kepada konteks aslinya.

Sebagaimana dijelaskan dalam Verified: “SIFT (Stop, Investigate the Source, Find Other Coverage, Trace the Claim to the Original Context) adalah cara untuk membantu Anda mendapatkan jenis konteks cepat yang penting untuk mengetahui apa yang Anda lihat.”

Hal yang menarik adalah langkah pertama: Stop. Berhenti. Bukan tindakan yang spektakuler. Bahkan tampak sangat sederhana. Tetapi justru di situlah kedewasaan seorang kader diuji.

Ketika sebuah berita membuat marah, jangan langsung membagikannya. Ketika sebuah informasi membuat kita senang karena sesuai dengan kelompok kita, jangan langsung membagikannya. Ketika sebuah kutipan tampak mendukung pendapat kita, jangan langsung membagikannya.

Berhentilah.

Tanyakan: Siapa yang mengatakan? Dari mana sumbernya? Apa konteksnya? Apakah ada sumber lain? Apakah informasi ini benar? Apakah informasi ini perlu saya sebarkan?

Kadang-kadang, tindakan dakwah yang paling bertanggung jawab bukanlah berbicara. Tetapi menahan diri untuk tidak berbicara sebelum kita benar-benar tahu.

Kaitannya dengan Manhaj Dakwah: Mengembalikan Tradisi Verifikasi

Sesungguhnya prinsip verify first bukanlah sesuatu yang asing dalam tradisi Islam. Islam memiliki tradisi keilmuan yang sangat kuat dalam memeriksa berita.

Para ulama hadis tidak menerima sebuah riwayat hanya karena isinya menarik. Mereka memeriksa siapa yang meriwayatkan, bagaimana jalur transmisinya, bagaimana kredibilitas perawinya, dan apakah terdapat penguat atau masalah dalam riwayat tersebut.

Karena itu, budaya verifikasi digital sebenarnya dapat dipandang sebagai perpanjangan prinsip kehati-hatian ilmiah yang telah lama hidup dalam tradisi Islam.

Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj fi Syarh Shahih Muslim menjelaskan kewajiban membedakan antara riwayat yang sahih dan yang lemah serta antara perawi yang terpercaya dan yang dicurigai. Beliau menegaskan: “bahwa wajib bagi setiap orang untuk membedakan antara riwayat yang sahih dan yang sakit, dan antara perawi yang terpercaya dan yang dicurigai.”

Prinsip ini sangat relevan dengan dunia digital.

Hari ini, kita mungkin tidak sedang memeriksa seorang rawi dalam sanad hadis. Tetapi kita sedang berhadapan dengan:

  • akun anonim;
  • portal berita;
  • potongan video;
  • tangkapan layar;
  • kutipan tanpa sumber;
  • grafik tanpa data;
  • dan narasi yang tidak jelas asal-usulnya.

Pertanyaannya tetap sama: Siapa yang membawa berita ini?nDari mana berita ini berasal? Apakah sumbernya dapat dipercaya?

Dalam konteks digital, kita membutuhkan semacam “isnad digital”—kemampuan melacak asal-usul informasi sebelum mempercayainya.

Prinsip sederhananya: Trace the source before trusting the content. Lacak sumbernya sebelum mempercayai isinya. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.