Siti Hayinah: Membangun Jejaring dan Merawat Persatuan

by -1441 Views

Dalam perjalanan sejarah dakwah dan kebangsaan, kita menemukan satu pelajaran penting: tidak ada perubahan besar yang lahir dari kerja yang terisolasi.

Perubahan selalu membutuhkan jejaring, kolaborasi, dan kemampuan membaca ruang bersama. Diantara tokoh awal ’Aisyiyah, Siti Hayinah tampil sebagai sosok yang memahami hal ini dengan sangat jernih.

Beliau tidak hanya memikirkan kemajuan perempuan dalam lingkup organisasi, tetapi juga dalam konteks yang lebih luas: kemajuan bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Dari sini kita belajar bahwa perjuangan perempuan dalam Islam bukanlah perjuangan yang sempit, tetapi bagian dari misi besar membangun peradaban yang adil dan bermartabat.

Persatuan dalam Bingkai Nilai Kebaikan

Allah Ta‘ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini adalah seruan untuk menjaga persatuan umat dalam kebenaran, meskipun terdapat perbedaan latar belakang sosial dan pemikiran. Persatuan yang dimaksud bukan penghapusan perbedaan, tetapi pengelolaan perbedaan agar menjadi kekuatan bersama.

Dalam semangat inilah Siti Hayinah memandang perjuangan perempuan.

Baginya, kemajuan tidak akan tercapai jika setiap kelompok berjalan sendiri tanpa saling menguatkan. Justru kerja sama lintas organisasi, agama, dan latar belakang sosial menjadi kekuatan untuk mewujudkan kemaslahatan yang lebih luas.

Prinsip ini sejalan dengan konsep rahmatan lil ‘alamin yang ditegaskan oleh para ulama tafsir seperti Imam Fakhruddin Ar-Razi, bahwa Islam membawa nilai-nilai universal yang mendorong kerja sama dalam kebaikan dan keadilan.

Diplomasi Organisasi dan Kecerdasan Sosial

Salah satu peran penting Siti Hayinah adalah membangun hubungan dan komunikasi dengan berbagai elemen bangsa. Dalam konteks awal abad ke-20, langkah ini bukanlah hal yang mudah.

Beliau hadir dalam ruang-ruang pertemuan nasional, termasuk Kongres Perempuan Indonesia 1928, bukan sekadar sebagai peserta, tetapi sebagai bagian dari suara yang membentuk arah sejarah.

Di sini kita melihat satu bentuk dakwah yang sangat halus: dakwah melalui jejaring sosial dan komunikasi publik.

Allah Ta‘ala berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ

“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah.” (QS. An-Nahl: 125)

Menurut Imam Ibnu Katsir, hikmah mencakup kemampuan membaca situasi, memahami audiens, dan memilih pendekatan yang tepat dalam menyampaikan kebenaran.

Siti Hayinah mempraktikkan prinsip ini dalam ruang sosial dan kebangsaan. Ia tidak menjadikan perbedaan sebagai penghalang, tetapi menjadikannya sebagai ruang dialog.

Menjembatani, Bukan Memisahkan

Salah satu pelajaran penting dari perjuangan beliau adalah kemampuan membangun jembatan komunikasi antar kelompok.

Dalam sejarahnya, ’Aisyiyah tidak menutup diri dari dinamika kebangsaan. Justru sebaliknya, ia hadir sebagai bagian dari solusi sosial yang lebih luas.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا

“Seorang mukmin yang berinteraksi dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih besar pahalanya.”

(HR. At-Tirmidzi, dinilai hasan oleh Imam Al-Albani)

Hadis ini menunjukkan bahwa keterlibatan sosial adalah bagian dari ibadah, selama dilakukan dengan kesabaran, kebijaksanaan, dan niat yang benar.

Siti Hayinah memahami bahwa membangun umat tidak cukup dengan memperkuat internal, tetapi juga dengan membuka ruang kolaborasi yang sehat dengan berbagai komponen bangsa.

Jejaring sebagai Kekuatan Peradaban

Salah satu warisan penting dari Siti Hayinah adalah kesadaran bahwa kekuatan gerakan tidak hanya terletak pada jumlah anggota, tetapi pada kemampuan membangun jejaring yang produktif.

Beliau memahami bahwa perubahan sosial membutuhkan kerja bersama, bukan kerja sendiri-sendiri. Karena itu, diplomasi organisasi, publikasi media, dan komunikasi lintas komunitas menjadi bagian dari strategi dakwah yang beliau kembangkan.

Dalam perspektif Imam Al-Ghazali, interaksi sosial yang membawa kebaikan merupakan bagian dari adab al-mu‘asyarah, yaitu etika bergaul yang menjaga manfaat dan menghindari kerusakan dalam masyarakat.

Pelajaran untuk Srikandi Berkemajuan

Dari Siti Hayinah kita belajar bahwa persatuan bukan berarti keseragaman, tetapi kemampuan merajut perbedaan menjadi kekuatan bersama.

Muslimah berkemajuan tidak hanya dituntut untuk kuat secara internal, tetapi juga cerdas secara sosial: mampu berjejaring, berdialog, dan membangun kolaborasi demi kemaslahatan umat dan bangsa.

Dalam dunia yang semakin kompleks, kemampuan membangun jembatan jauh lebih penting daripada sekadar mempertebal batas.Sebab peradaban tidak dibangun oleh satu kelompok saja, tetapi oleh banyak tangan yang saling menopang dalam kebaikan. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.