Siti Badilah Zuber: Penggerak Kaderisasi dan Dakwah

by -1673 Views

Setiap gerakan besar membutuhkan tokoh-tokoh inspiratif. Sejarah mengajarkan bahwa keberlangsungan sebuah gerakan tidak hanya ditentukan oleh hadirnya pemimpin besar, melainkan oleh kemampuannya melahirkan pemimpin-pemimpin baru dari generasi ke generasi.

Disinilah kita menemukan peran penting Siti Badilah Zuber. Ia mungkin tidak sepopuler beberapa tokoh lain dalam sejarah ’Aisyiyah, tetapi kontribusinya sangat fundamental. Melalui kerja-kerja kaderisasi yang tekun dan sistematis, ia membantu memastikan bahwa api dakwah yang dinyalakan oleh Nyai Ahmad Dahlan tidak padam setelah satu generasi.

Siti Badilah memahami sebuah prinsip penting dalam dakwah: bahwa perjuangan tidak boleh bergantung pada individu, tetapi harus ditopang oleh sistem pembinaan yang mampu melahirkan kader-kader berkualitas secara berkelanjutan.

Kaderisasi dalam Perspektif Islam

Al-Qur’an memberikan pelajaran tentang pentingnya mempersiapkan generasi penerus yang kuat.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang mereka keturunan yang lemah yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya. Maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa’: 9)

Menurut Imam Ibnu Katsir, ayat ini tidak hanya berbicara tentang warisan materi, tetapi juga mengandung pesan agar setiap generasi mempersiapkan generasi berikutnya agar memiliki kekuatan iman, ilmu, dan kemampuan menghadapi kehidupan.

Semangat inilah yang tercermin dalam kiprah Siti Badilah. Ia melihat bahwa dakwah perempuan tidak akan berkembang jika kaum perempuan hanya menjadi objek pendidikan. Mereka harus menjadi subjek dakwah, penggerak masyarakat, sekaligus pewaris estafet perjuangan Islam.

Melahirkan Korps Mubaligah yang Berilmu

Salah satu kontribusi penting Siti Badilah adalah penguatan kader mubaligah di lingkungan ’Aisyiyah. Melalui berbagai pelatihan baca tulis, pengajian, dan latihan berbicara di depan umum, ia mendorong lahirnya perempuan-perempuan yang memiliki keberanian berdakwah dan membimbing masyarakat.

Upaya ini sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” (HR. Al-Bukhari)

Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kewajiban menyampaikan ilmu sesuai kemampuan yang dimiliki. Dakwah bukan monopoli kelompok tertentu, melainkan tanggung jawab seluruh umat yang telah memperoleh pemahaman agama.

Melalui kaderisasi mubaligah, Siti Badilah membantu membuka ruang yang lebih luas bagi perempuan untuk berkontribusi dalam pendidikan dan dakwah masyarakat. Mereka tidak hanya menjadi peserta pengajian, tetapi juga menjadi penggerak pengajian.

Pembinaan kader seperti ini juga merupakan bentuk tazkiyatun nafs, yakni proses menyucikan jiwa melalui ilmu, amal, dan pengabdian kepada sesama.

Guru sebagai Duta Peradaban

Keistimewaan lain dari Siti Badilah adalah kemampuannya menghubungkan kaderisasi dengan pendidikan. Ia memahami bahwa perubahan sosial yang berkelanjutan harus dimulai dari pembentukan manusia.

Karena itu, pengembangan TK ABA dan pengiriman guru ke berbagai daerah menjadi bagian penting dari strategi dakwahnya. Guru tidak diposisikan sekadar sebagai pengajar, tetapi sebagai pembawa misi pencerahan.

Dalam tradisi Islam, kedudukan guru sangat mulia. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum ad-Din menyebut para pendidik sebagai pewaris tugas para nabi dalam membimbing manusia menuju kebaikan.

Melalui jaringan guru dan mubaligah yang terlatih, ’Aisyiyah mampu menghadirkan wajah Islam yang berilmu, santun, dan membangun. Dari ruang-ruang kelas sederhana hingga majelis taklim di berbagai daerah, kader-kader inilah yang menjadi penghubung antara nilai-nilai Islam dan kebutuhan masyarakat.

Pelajaran untuk Srikandi Berkemajuan

Warisan terbesar Siti Badilah Zuber bukanlah bangunan fisik atau jabatan organisasi, melainkan sistem kaderisasi yang melahirkan generasi penerus dakwah.

Beliau mengajarkan bahwa keberhasilan sebuah gerakan tidak diukur dari banyaknya program yang dijalankan hari ini, tetapi dari seberapa siap generasi berikutnya melanjutkan perjuangan tersebut.

Bagi para Muslimah ’Aisyiyah masa kini, pelajaran ini tetap relevan. Setiap majelis taklim, sekolah, pengajian, dan komunitas hendaknya menjadi ruang pembinaan yang melahirkan kader-kader baru yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian terhadap umat.Sesungguhnya, dakwah yang paling berhasil bukanlah dakwah yang menghasilkan banyak pengikut, melainkan dakwah yang melahirkan banyak penerus. Dan itulah warisan agung yang telah ditinggalkan oleh Siti Badilah Zuber bagi generasi Srikandi Berkemajuan sepanjang zaman.(im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.